DIJODOHKAN DENGAN PANGERAN KEJAM

DIJODOHKAN DENGAN PANGERAN KEJAM
MASALAH DI KAMAR MANDI LAGI DAN OBAT


__ADS_3

Pangeran yuk dan putri yin sama-sama berteriak karena kaget.  Pangeran yuk tak tahu di dalam ada Putri yin yang sedang mandi, putri yin pun kaget pangeran yuk melihat dia mandi.  Walau dia masih memakai baju dalam gaun putihnya.  Tapi bahunya yang cantik terlihat, yang mulus, putri yin merasa tak suka saja.  Orang yang tak dia kencani melihat badannya. 


Srettt...


Seperti penutup jendela yang ditarik begitu saja.  Pangeran yuk menatap heran apa yang putri yin lakukan.  Dia menggunakan kekuatannya untuk membentuk benteng di sekitar kolam mandi yang ada di ruangan itu, hingga menutupi tubuhnya. 


"PERGI DARI SINI!"


Pangeran yuk terkejut.  Baru kali ini dia melihat kekuatan seperti putri yin miliki.  Mengendalikan bunga, tumbuhan dan semacamnya.  Itu sungguh menakjubkan. 


"Maaf, tidak ada yang bilang kamu sedang mandi disini.  Saya akan pergi.  Saya akan mandi setelah kamu."


Pangeran yuk pergi dari ruangan itu.  Putri yin mencoba mendengarkan langkah kaki laki-laki tampan itu dengan sesama.  Apa benar dibalik labirin bunga merah dengan berasal dari pohonnya itu


Pangeran yuk menunggu di luar sampai putri yin selesai mandi.


Putri yin baru saja selesai. Dia keluar dari kamar pangeran yuk. Terlihat pangeran yuk yang menunggu tepat di depan kamar. Dia seperti anak kecil yang menendang-nendang angin.


"Itu tadi, cantik sekali." Katanya.


Dug! Putri yin mendengar itu, dia memukul punggung pangeran yuk. Pangeran yuk menoleh dengan kaget.


"Apa, jangan memikirkan yang macam-macam ya pangeran yuk. Apa yang cantik?" Kata putri yin memperingatkan pangeran yuk.


"Apa yang cantik? Kekuatan kamu, bunga kamu. Hanya itu, bukan andanya tuan putri yin."


Putri yin malu seketika. Pangeran yuk masuk ke kamarnya begitu saja. Dia menuju ke tempat pemandian.


"Jangan tiba-tiba masuk. Saya mau mandi." Teriak pangeran yuk dari dalam.


"Memangnya saya anda yang cari kesempatan."


Baru saja putri yin mau pergi. Seorang pelayan memberikan obat untuk Pangeran yuk.


"Yang mulia putri, ini obat untuk Pangeran yuk. Tabib meminta saya untuk memberikannya."


"Obat ini?"


Putri yin tahu beberapa tumbuhan obat. Obat yang diberikan tabib kepada pelayan itu termasuk obat untuk luka yang cukup parah.

__ADS_1


"Apa pangeran yuk pernah terluka parah?" Tanya balik putri yin kepada pelayan itu. Dia mengambil nampan obatnya.


"Iya putri. Saat bertarung dengan ayahnya dulu. Pangeran yuk terluka parah. Dia hampir tak selamat juga."


Putri yin entah kenapa merasa sangat khawatir. Dia langsung masuk ke kamar pangeran yuk. Lupa pangeran yuk sedang mandi. Obatnya harus dicampur di air mandinya dan juga dioleskan. Obat ini tak boleh ditinggalkan, selamanya pangeran yuk harus menggunakan obat ini secara rutin. Luka yang dia dapat susah untuk disembuhkan.


"Ini obatnya!"


Putri yin menaruh dedaunannya di atas air mandi pangsa yuk. Pangeran yuk yang sedang mandi, yang sedang memejamkan mata sejak tadi kaget mendengar suara yang tak asing itu.


"Putri yin, kenapa anda kesini? Saya kan sudah bilang anda tak boleh masuk. Anda sedang mandi."


"Kenapa tidak bilang anda punya luka parah?"


Putri yin tak menjawab pertanyaan pangeran yuk. Dia pergi begitu saja.


"Saya tunggu di kamar setelah mandi. Jangan membantah."


Kening pangeran yuk mengerut mendengarkan ucapan putri yin. Pangeran yuk juga merasa kalau putri yin sangat panik. Ada apa dan kenapa?


Pangeran yuk mengakhiri mandinya. Dia menggunakan jubahnya setelah mandi lalu ke kamarnya. Benar saja kalau Putri yin menunggu di sana. Dia sedang menata beberapa tumbuhan dan bunga.


"Itu untuk apa? Saya sudah bilang kepada tabib, kalau luka saya sudah sembuh." Kata pangeran yuk melihat putri yin repot menyiapkan obat.


Putri yuk langsung mengobati luka pangeran yuk. Dia membuka jubah mandi pangeran yuk. Pangeran yuk menoleh dengan kaget.


"Jangan buka sembarang ya tuan putri." Pangeran yuk mencoba memperingatkan putri yin.


"Kalau anda mati, sama dengan dunia ini hancur. Kita, ibu ratu Li, ibuku dan ayahku juga dalam bahaya. Sisi gelap dunia pendekar akan mengusai semuanya."


"Ahh, ini menyebalkan sekali. Saya harus bisa mengendalikan anda, kalau tidak anda juga bisa menghancurkan dunia. Saya juga harus menyelamatkan Anda. Memangnya tidak ada yang lain selain anda."


Pangeran yuk kaget putri yin menempelkan tangannya ke dada pangeran yuk. Tepat dimana luka yang dibuat ayahnya dulu.


"Diam. Jangan protes, saya hanya menyelematkan semua orang. Bukan menyelamatkan Anda."


Putri yin mengobati pangeran yuk. Sampai malam tiba, pelayan memberitahu kalau makan malam sudah siap. Semua orang sudah menunggu di ruang makan istana.


"Makan." Putri yin menarik tangan pangeran yuk.

__ADS_1


"Ganti baju dulu." Putri yin sampai lupa itu. Dia tertawa.


"Saya tunggu diluar. Makan nanti, jangan sampai tidak."


Putri yin jalan ke depan kamar dengan dayang yang sudah ada di sana. Mereka menemani putri yin di luar kamar pangeran yuk.


"Pangeran yuk beruntung sekali bertakdir dengan putri yin."


"Sama-sama tampan dan cantik. Sangat cocok."


"Kami menunggu anak-anak kalian nanti."


"Hah? Jangan bicara seperti itu. Kami menikah hanya untuk menjaga dunia. Kalian mau dibantai? Atau mau dijadikan budak yang lebih kejam dari para pendekar dunia gelap itu?"


Putri yin marah-marah kepada dayang yang mengajak dia bercanda. Tapi mereka malah menggoda putri yin yang tau dia tak marah karena itu. Putri yin tak henti tertawa karena bercanda.


Pangeran yuk keluar dari kamarnya. Dia sudah mengenakan baju pendekarnya. Pangeran yuk tanpa sadar melihat dan memperhatikan Putri yin yang begitu cantik saat tertawa lepas.


"Ahh, apa ini? Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan dia."


Pangeran yuk segera menyadarkan dirinya sendiri. Dia berjalan lebih dulu melewati putri yin. Putri yin yang melihat pangeran yuk langsung menyusul.


"Wah curiga. Apa anda tidak dengar tadi, saya menunggu sejak tadi dan anda meninggalkan saya begitu saja."


Putri yin mengomel. Pangeran langsung berhenti berjalan. Putri yin tak siap itu. Dia jadi menabrak pangeran yuk. Putri yin mundur begitu saja, hampir saja jatuh. Tapi pangeran yuk dengan sigap menahan pinggang putri yin.


Semua pelayan melihat itu, mereka ikut tersipu malu.


"Lepaskan."


Putri yin menginjak kaki pangeran yuk dengan kesal. Pangeran yuk pun melepaskannya. Putri yin jadi jatuh ke lantai. Dia makin kesal dengan pangeran yuk. Pangeran yuk jalan lagi meninggalkan putri yin.


"Yakk, kenapa anda melepaskan saya."


"Tadi minta dilepaskan."


"Bukan begitu juga maksudnya pangeran menyebalkan. Pelan-pelan bisa?"


"Kenapa? Pantatnya sakit ya jatuh? Sukurin."

__ADS_1


"Sialan! Awal saja nanti."


Putri yin yang kali ini berjalan meninggalkan pangeran yuk.


__ADS_2