DIJODOHKAN DENGAN PANGERAN KEJAM

DIJODOHKAN DENGAN PANGERAN KEJAM
PUTRI ZHU


__ADS_3

Putri Zhu adalah murid dari guru yang sama dengan pangeran yuk.  Mereka bersahabat dan berteman baik.  Salah satu kesayangan pangeran yuk dan juga istana yuk dan kerajaan yuk. 


Dia datang dengan paman Heng yang kembali setelah perang.


***


Pangeran yuk dan putri Yin tak bisa mengelak.  Dia terpaksa tidur satu kamar dan satu ranjang.  Untung ada putri Bao yang tidur di tengah-tengah mereka.  Putri Yin memeluk putri Bao dan tidur dengan nyaman di sana.  Pangeran yuk tak sengaja menoleh dan melihat betapa cantiknya putri Yin ketika tidur dan diam, dan memeluk putri Bao seperti penuh kasih sayang. 


Hingga pangeran yuk tidur setelah menatap lama putri Bao.  Dia mengantuk juga. 


Paginya tangan putri yuk tak sengaja mengenai pedang dibawah pangeran yuk.  Burungnya pangeran yuk.  Karena pangeran yuk juga tidur memeluk bao. 


"ini apa?" putri yin sendiri bingung dan kaget merasakannya.  Dia pun mulai membuka mata dan mencaritahu apa yang dia sentuh dan dia pegang.  Hingga pangeran yuk pun merasakan itu. 


Ada yang memegang-megang miliknya. Pangeran yuk terbangun.  Dia membelalak dan membuka matanya. Kaget melihat dibawahnya, tangan putri Yin sudah menyentuh asetnya.


"Hah!" Keduanya sama-sama kaget dan melonjat.  Putri Yin langsung menyingkirkan tangannya. Dia duduk dan berbalik membelakangi pangeran yuk. 


"ahh!" pangeran yuk juga membalikkan badannya dan mendengus kesal karena hal ini.  Dia memukul-mukul ranjang. 


Sampai putri Bao bangun.  "ibu." Putri Bao menangis dan memanggil ibunya.  Putri Yin pun berbalik dan melihat keadaan putri Bao. Dia mencoba menenangkannya.


"ada apa sayang.  Putri Bao mau ke kamar ibu?"  tanya putri yin yang memeluk putri Bao.  Mengusap punggungnya untuk menenangkan putri Bao.  Putri Bao mengangguk. 


Putri Yin pun akhirnya menggendong putri Bao keluar dari kamar pangeran yuk.  Pangeran yuk sendiri memiliki perlahan agar tak tak bertatapan dengan putri Yin.  Dia lega melihat putri Yin yang memperlakukan putri Bao dengan penuh sayang.


Sampai pintu kamarnya kembali ditutup.  Pangeran yuk menendang angin. Terlihat energi biru yang ke luar dari dirinya.  Dari tendangan kakinya. 


"aishh!" pangeran Bao hanya mendengus kesal berkali-kali.  Dia memilih untuk mendinginkan emosinya, hatinya, dengan mandi.  Pangeran yuk menuju ke kamar mandinya. 


Sebuah kamar mandi besar kerajaan.  Dengan bak mandi, kolam mandi yang sangat luas.  Dengan warna emasnya.  Pangeran yuk masuk begitu saja ke dalam kolam mandinya.  Sudah dipenuhi bunga mawar merah dan hitam di sana. 


Byur!


Ketika pangeran yuk masuk.  Dia tersenyum senang.  Rasanya sejuk. Amarahnya hilang.  "enak sekali dan nyaman." Kata pangeran yuk yang bermonolog ria. 


Dia memilih berendam di sana untuk beberapa saat.  Hari ini juga dia tak ada urusan dan tak ada latihan juga.  Pamannya baru akan datang siang ini.  Pangeran yuk bisa berendam dengan santai dan sedikit lama. 


***


Tok


Tok

__ADS_1


Putri Yin mengantar putri Bao sampai ke depan kamar ratu muda yu.  Dia menunggu sampai pintu kamarnya di buka.  Dari dalam, terbukalah pintu besar biru, betukiran emas dan bersinar itu.  Hampir semuanya seperti pintu itu di istana yuk.  Biru emas, biru tua. Tapi berkilau indah.


"kenapa meminta digendong bibi Yin sayang?" Ratu yu muda mengambil putri Bao dari gendongan putri yin. 


"tidak apa-apa yang mulia.  Saya yang ingin menggendong putri Bao.  Karena tadi dia bangun dan tiba-tiba saja menangis memanggil anda." Ujar putri Yin kepada ratu muda Wu. 


"Oh.  Terima kasih putri Yin.  Maaf merepotkan."


"tidak masalah."


Putri Yin pamit kembali ke kamar pangeran yuk. Sementara ratu muda yu dan putri Bao masuk ke kamarnya.  Menutup kembali pintu kamar besar dan berkilau itu. 


***


Putri Yin sudah sampai kembali ke kamar pangeran yuk.  Dia merasa tubuhnya sangat lengket sekali.  Dia ingin segera mandi. 


"maaf, tempat mandinya dimana ya? Saya mau mandi." Kata putri Yin bertanya kepada pelayan wanita yang ada di depan ruangan pangeran yuk. 


"Tempat mandi di kamar pangeran, putri?" Tanya pelayan itu kepada Putri Yin.  Putri Yin mengangguk.  Tak tahu kalau pangeran juga sedang mandi di sana. 


Pelayan itu menunjukkan tempat mandi mikik pangeran.  Putri Yin masuk begitu saja.  Ketika dia masuk, dia melihat pangeran yuk sang sedang mandi.


"Aaaa..." putri yin berteriak keras melihat pangeran yuk yang telanjang dada.  Pangeran yang sedang menikmati mandi dan berendamnya, yang sejak tadi menutup mata, kini membuka matanya kaget juga.  Dia segera meraih pakaiannya dan menutupi badannya. 


"kenapa kamu di sini?" tanya pangeran yuk kepada putri Yin. 


"Mau mandi.  Tadi pelayan bilang di sini tempat mandinya.  Saya pikir tidak ada anda.  Saya akan keluar." Putri Yin bergegas keluar.  Karena matanya yang dia tutup, putri Yin menantikan vas bunga di sana.  Hingga vas bunganya jatuh dan pecah. 


"haish. Jalan yang benar.  Buka matanya. Lihat ke depan." Kata pangeran yuk yang kaget dan juga khawatir melihat itu.  Putri Yin lari keluar begitu saja. 


***


Pangeran yuk melanjutkan mandinya.  Putri Yin duduk di kamar pangeran yuk.  Dia ingin mengobati kakinya Sendiri. Menutup lukanya yang terbuka dan berdarah.  Tapi tak bisa beberapa kali dia coba. 


"Apa karena kemarin aku pingsan? Tenagaku berkurang jauh dari kerajaan Yin?" putri Yin bermonolog sendiri. 


Pelayan datang untuk mengantarkan pakaian yang dikirimkan ratu yu, untuk pakaian ganti putri Yin.  Karena putri Yin kemarin juga tak sempat untuk membawa baju dan yang lainnya, karena terburu-buru mau mengobati putri Bao. 


"putri kenapa?" pelayan itu kaget melihat kaki putri Yin berdarah, merah. 


"tidak apa-apa.  Tadi hanya kena vas bunga yang jatuh.  Apa disini ada obat atau apa?" tanya putri Yin kepada pelayan itu. 


"tunggu saya ambilkan putri." Pelayan itu dan mau mengambil obat dari kerajaan yuk untuk mengobati luka putri Yin. 

__ADS_1


Pangeran yuk baru selesai mandi. Dia keluar dengan pakaiannya yang baru.  Dia melihat putri Yin yang duduk di tepi tempat tidur dan meluruskan kakinya.  Mengipas kakinya dengan telapak tangannya sendiri.


"Kenapa?" tanya pangeran yuk mendekati putri Yin.  Dia menunduk melihat apa yang sedang dilakukan putri Yin. 


"itu tadi kena vas yang jatuh?" tanya pangeran yuk menunjuk luka putri Yin. Pangeran yuk langsung berlutut di depan putri Yin.  Dia memeriksa kaki putri Yin dan memegangnya.  Putri Yin sedikit kikuk karena itu. 


"apa tidak bisa kamu obati sendiri?" tanya pangeran yuk mendongak menatap putri Yin.  Putri Yin mencobanya lagi.  Mengulurkan tangan ke jempol kaki yang terluka.  Mengalirkan energi merah mudanya ke luka yang terbuka itu.  Tapi tak bisa. 


Putri Yin menggeleng menatap pangeran yuk.  "biasanya bisa.  Tapi tidak tahu ini kenapa tidak bisa?" tanya putri Yin kepada dirinya sendiri. 


Pangeran yuk ingat ucapan gurunya dan tabib istana.  Kalau putri Yin akan menjadi lebih lemah di luar kerajaan dan tanah Yin. Pangeran harus menyatukan dua energi, dengan berhubungan badan untuk melindungi putri Yin.


Pangeran mencoba menutup luka putri Yin dengan energinya. Tapi juga tak bisa.  Sampai pelayan istana datang.  Pelayan datang dengan tabib. 


Pangeran menyingkir dari hadapan putri Yin. Tabib yang kini berlutut di depan putri Yin dan mengobati dengan ramuan herbal dari kerajaan yuk. 


"Pangeran dan putri harus segera melalukannya.  Kalau tidak, nyawa putri Yin mungkin bisa terancam kapan pun. Kita tidak berharap yang terburuk terjadi.  Tapi hanya untuk berjaga-jaga kalau ada musuh yang mau melukai putri Yin, atau mungkin menyusup ke istana atau ketika keluar. Energi pangeran yuk akan melindungi putri Yin di sini." Ujar sang tabib sambil mengobati luka putri Yin. 


Pangeran diam dan mendengarkan dengan seksama. Dia tahu maksud tabib.  Tapi putri Yin yang bingung. "ada apa?" tanya putri Yin kepada pangeran yuk. 


"Ini bisa sedikit menghentikan darahnya.  Tapi untuk sembuh, seperti kelautan putri Yin yang bisa menyembuhkan tanpa bekas, ini sangat lama.  Saya permisi kalau begitu." Kata tabib itu undur diri dari hadapan keduanya. 


Pangeran yuk hanya diam dan mendongak menatap putri Yin  Putri Yin yang ditatap seperti itu canggung dan bingung.  "sebenarnya apa yang tabib bicarakan? Tentang apa? Segera dilakukan? Untuk melindungiku di luar kerajaan? Di sini? Maksudnya?" tanya putri Yin tak henti kepada pangeran yuk. 


"tidak apa-apa.  Hanya menyatukan dua energi kita.  Energi merah muda milik kamu dan biru milik aku. Itu butuh guru dan peramal saja.  Jangan pikirkan.  Kita tunggu ibu ratu Wu dan Raja Zeng yang datang ke sini.  Katanya mereka membawa pohon bunga kelahiran kamu, supaya tenaga kamu juga tak terlalu lemah."


Pangeran yuk berdiri. Dia mengulurkan tangan untuk membantu putri Yin berdiri dari tempat tidur.  "mau mandi kan?" tanya pangeran yuk kepada putri Yin. 


"aku bisa sendiri." Putri Yin ingin berdiri.  Tapi kakinya jauh lebih sakit yang dia kira.  Dia mencoba berjalan. Jalannya jadi pincang dan lambat.


Pangeran yuk mengendong putri Yin begitu saja menuju ke kamar mandi.  Putri Yin yang dibopong pangeran yuk kaget.  Dia reflek menatap mata Pangeran yuk.  Tak percaya apa yang pangeran yuk lakukan.  Tangannya juga refleks melingkar dileher pangeran yuk karena putri Yin takut jatuh. 


"yuk ahh?"


Dari luar terdengar suara nyaring yang memanggil pangeran yuk, tanpa gelar.  Hanya satu orang yang berani.  Itu adalah putri Zhu. 


Pangeran yuk berbalik dan melihat apakah yang dia diotaknya benar.  Ketika dia berbalik, ternyata benar.  Putri Zhu malah canggung melihat keduanya yang sedang main gendong-gendongan. 


"ahha maaf.  Aku lupa kalau kata kakak yu kamu sudah menikah.  Aku akan menunggu di luar." Ujar putri Zhu yang langsung berbalik mau keluar. 


"Zhu sayangku, panggilkan pelayan untuk membersihkan tempat mandi.  Ada vas yang jatuh di sana tadi." Ujar pangeran yuk kepada sahabatnya itu.  Sudah seperti adik baginya. 


"iya." Dia mengangguk dengan canggung dan langsung pergi. Zhu sayangku? Ada apa dengan pangeran yuk, kenapa dia memanggilnya seperti itu?

__ADS_1


__ADS_2