DIJODOHKAN DENGAN PANGERAN KEJAM

DIJODOHKAN DENGAN PANGERAN KEJAM
PANGERAN YUK HAMPIR MATI DITANGAN PUTRI YIN


__ADS_3

Putri yin yang kesal mencengkeram leher pangeran yuk dengan energi merah mudanya. Pangeran yuk yang kehilangan banyak energi karena menyembuhkan putri yin, tidur semalam, tak bisa apa-apa. Dia pasrah dicengkeram lehernya oleh putri yin.


"Pangeran yuk, kenapa anda lemah sekali?"


Putri yin heran Pangean yuk sama sekali tak melawan. Pangeran yuk hampir kehilangan kesadaran dia sepenuhnya, putri yin takut dia kenapa-napa. Dia juga tak mau menjadi pembunuh. Putri yin memilih melepaskan cengkeramannya kepada pangeran yuk. Putri yin pergi ke tempat pemandian dan membersihkan dirinya.


"Ahh. Kenapa harus sampai. Ahh..."


Putri yin berteriak kesal dan memukul air di tempat pemandian. Dia bahkan sampai menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam kolam. Sampai putri yin puas dan selesai mandi. Dia mengganti pakaiannya.


"Dia masih tidur?"


Putri yin kembali ke kamar. Dia melihat pangeran yuk yang masih memejamkan mata. Putri yin kira pangeran yuk masih tidur. Putri yin memilih tak perduli dan keluar dari kamar pangeran yuk.


"Sayang, anak ku, putri yin. Kamu selamat."


Ketika putri yin membuka kunci pintu kamar pangeran yuk, baru saja dia membuka pintu, semua orang sudah berkumpul di depan kamar pangeran yuk. Putri yin menatap mereka semua dengan heran.


"Ada apa memangnya?" Tanya putri yin balik kepada semua yang di sana.


Ada orang tuanya, ratu Li, ratu muda yu, putri Bao, panglima Heng, putri Zhu dan pangeran wong, serta ibu ratu Huang dan anaknya.


"Kemarin kamu diserang oleh pendekar hitam. Energi kamu hampir habis dihisap oleh pendekar hitam. Untung ada Pangeran yuk yang menolong kamu sayang."


Ratu wu menjelaskan semuanya. Dia memeluk putrinya dengan erat. Menciumi pipi sang putri. Memeriksa seluruh badan sang putri.


"Artinya? Kenapa ibu dan yang lain harus mencemaskan saya? Saya bisa menyembuhkan diri saya sendiri kan?" Putri yin melepaskan pelukan ibunya. Ibunya menggeleng.


"Tidak bisa. Kamu lemah sayang disini, kamu hampir tiada. Hanya pangeran yuk yang bisa menyembuhkan kamu, dengan menyatukan energi kalian. Makannya kami memohon kepada pangeran yuk agar dia mau tidur dengan kamu." Tambah ratu wu lagi. Putri yin masih mencoba mencerna semua penjelasannya.


"Dimana pangeran yuk?" Ratu Li mencari sang anak.


"Di kamar. Ibu, apa maksudnya pangeran yuk terpaksa tidur dengan saya dan melakukan hubungan dengan saya, untuk nyawa saya?" Putri yin menunjuk kedalam.


"Pangeran yuk tadi pagi lemas sekali. Maafkan saya yang mulai ratu, tapi karena saya kaget dan marah, saya mencengkeram pangeran yuk, apa pangeran yuk?"

__ADS_1


Putri yin khawatir, dia lari kembali masuk ke dalam. Semua ikut masuk ke dalam. Putri yin sendiri yang memeriksa denyut nadi ditangan pangeran yuk.


"Pangeran yuk tidak bernafas. Ibu ratu, maafkan saya. Saya harus bagaimana?"


Putri yin panik sendiri. Ibu ratu Li meminta pelayan untuk segera memanggil tabib. Putri yin menangis melihat apa yang dia lakukan kepada pangeran yuk.


"Yang mulia."


Tabib datang, semua minggir memberikan ruang kepada tabib istana laki-laki paruh baya itu. Dia mulai memeriksa pangeran yuk.


"Bagaimana tabib, pangeran yuk akan baik-baik saja kan?" Tanya putri yin yang masih menangis melihat pangeran yuk tak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi yang mulia putri?" Tanya tabib kepada putri yin. Putri yin menjelaskan semuanya.


"Beri pangeran yuk nafas kembali yang mulia putri. Maaf jika saya lancang, dari mulut tuan putri ke mulut pangeran yuk, dengan begitu pangeran yuk akan mendapatkan energi merah muda putri yin."


"Sayang, ayo keluar." Ratu muda yu mengajak putri kecil Bao untuk keluar. Ini bukan pembahasan yang harus didengarkan anak kecil.


Putri Zhu dan pangeran wong ikut keluar. Begitu juga pangeran Huang dan ratu Huang.


"Pangeran yuk melakukan semua hal untuk menyelamatkan kamu sayang. Lakukanlah." Ratu wu memohon kepada putrinya.


"Baiklah. Kalian boleh keluar." Kata putri yin kepada semua yang masih di dalam.


Mereka pun keluar dari kamar putri yin, meninggalkan keduanya bersama. Mereka berjaga di depan . Putri yin menatap pangeran yuk, dia bersiap mencium bibir pangeran yuk dan memberikan nafas buatan juga energinya.


"Ahh, ini hukum apa? Kenapa harus dengan cara seperti ini. Ada menyebalkan sekali."


Putri yin bersiap. Dia memejamkan matanya, mengambil nafas dalam, mengumpulkan semua energi yang ada dan menempelkan bibirnya ke bibir pangeran yuk. Putri yin menyalurkan semua energi dari dalam dirinya memasukkan kedalam tubuh pangeran yuk melalui mulutnya.


Sampai putri yin memeriksa beberapa kali denyut nadi pangeran yuk. Setelah putri yin dapat merasakan denyut nadi pangeran yuk kembali, juga nafas pangeran yuk, putri yin menyudahi apa yang sejak tadi dia lakukan. Dia keluar dari kamar itu.


"Sudah, silakan periksa pangeran yuk. Saya mau keliling dan jalan-jalan untuk mencari udara segar."


"Dengan pengawal sayang." Kata ibu ratu Li kepada Putri yin.

__ADS_1


Putri yin mengangguk saja. Dia jalan keliling istana. Perutnya lapar, dia menuju ke dapur istana. Dibelakang dia, banyak pengawal yang mengikuti dia dan menjaganya.


Putri yin sampai di dapur istana. Dia melihat-lihat isi dapur istana. Dia mengambil beberapa makanan, duduk dan asik makan. Mata putri yin tertuju ke sebuah pohon tak jauh dari pandangannya, ada di halaman samping dekat dapur.


"Itu buahnya bisa dimakan, kan?" Tanya putri yin menunjuk ke pohon itu. Pohon tinggi dengan buat merah berbentuk mirip hati.


"Tentu tuan putri, anda ingin makan buah. Mau saya perintahkan pengawal untuk naik dan memetiknya?" Tanya salah satu pelayan wanita di dapur.


"Tidak."


Putri yin tersenyum senang. Dia bergegas ke halaman samping. Semua pelayan khawatir dan mengikuti putri yin. Para pengawal yang menjaga putri yin juga. Mereka lari mengikuti putri yin.


"Yang mulia putri."


Sampai semua panik melihat putri yin, yang mereka tahu baru pulih dari sekarat, tiba-tiba saja melompat naik, terbang mengambil buah diatas pohon.


"Bagaimana ini, minta yang mulia putri turun. Nanti yang mulia ratu marah kepada kita."


Mereka yang dibawah ketakutan. Beberapa dari mereka ikut naik, terbang dan memohon kepada putri yin.


"Turun yang mulia putri. Kami mohon."


"Tidak apa-apa. Aku bosan didarat. Sudah lah, kalian boleh turun, jangan buang tenaga kalian. Saya mau duduk dipohon dulu."


Mereka tak berani membantah, ada yang terbang di sekeliling pohon untuk menjaga putri yin yang asik duduk di atas pohon dan makan buahnya di sana. Ada yang berjaga dibawah.


Dari pandangannya yang jauh lurus kedepan, ada seorang pendekar, dia berbaju hitam, putri yin tahu dia siapa, pendekar hitam. Tapi rasanya wajahnya tak asing.


***


"Yang mulia putri, putri sangat cantik sekali. Putri berasal dari mana?"


"Kamu berasal dari mana? Kenapa pakaian kamu serba hitam? Tidak berwarna seperti teman-teman yang aku temui disini."


Putri kecil yin bermain di hutan. Dia tak sengaja bertemu dengan anak kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2