
Namanya pangeran Guan. Dia adalah salah satu anak dari pendekar di kerjaan yin. Dia hanya anak dari keluarga biasa di sana.
Suatu hari, putri mei yin kecil jalan-jalan, dia main dengan dayang. Tapi mereka kehilangan putri mei yin kecil yang mengejar kelincinya. Sampai di dalam hutan kerajaan.
"Berhenti!"
Putri mei yin kecil berteriak ketika melihat seorang anak kecil membawa panas. Dia mengarahkan ke kelinci lucu itu. Putri mei yin kecil yang juga sudah memiliki kekuatan, dia menggunakan kekuatannya untuk menangkis anak panah yang mengarah ke kelinci itu. Kelincinya tak jadi dipanah.
"Kelinci yang lucu. Kasihan, hampir saja meninggal."
Putri yin kecil menangkap dan menggendong kelinci berwarna merah muda itu.
"Itu milik saya tuan putri. Saya yang melihatnya lebih dulu."
Laki-laki kecil itu mendekati putri Mei yin kecil. Dia mau merebut kelincinya. Mereka malah jadi berkelahi sendiri. Putri yin kecil tak menggunakan kekuatannya.
"Tuan putri."
Sampai dayang-dayang datang, mereka menemukan keberadaan putri mei yin kecil. Anak laki-laki itu kabur melihat para dayang datang.
"Hei. Jangan kurang ajar kamu ya!"
"Beraninya menyentuh putri mei yin kecil."
"Beraninya kamu memukul putri kerajaan ini."
Dia lari menjauh. Putri mei yin kecil tak sengaja melukai pipinya, ada bekas berdarah, terluka, tergores oleh kekuatan energi merah muda putri yin. Dipipinya berbentuk petir.
"Tungg, kamu tidak apa-apa? Maafkan saya."
Putri tin berteriak kencang. Tapi anak laki-laki itu kabur begitu saja. Sejak saat itu, putri yin kecil selalu datang ke hutan itu secara diam-diam. Dia beberapa kali bertemu dengan anak itu. Sampai mereka berkenalan dan menjadi teman.
"Guan. Tangkap ini."
Mereka main lempar tangkap bunga. Kadang jalan-jalan di sekeliling hutan. Menemukan bunga-bunga baru yang indah dan melihat-lihat sekeliling saja.
"Saya sayang dengan tuan putri mei yin. Tuan putri mei yin mau menjadi istri saya?"
Guan kecil membuatkan mahkota dari bunga dan tumbuhan rambat yang ada di sana. Dia berlutut di depan putri yin kecil. Putri yin bingung dan kaget mau menjawab apa.
__ADS_1
"Tentu Guan. Saya juga senang selalu bermain bersama kamu. Saya mau menjadi istri kamu. Kalau nanti kita sudah besar. Kita menikah ya?"
Guan mengangguk senang. Dia memakaikan mahkota yang dia buat kepada putri mei yin kecil. Dia juga mencium pipi putri mei yin kecil.
Ada beberapa orang di desa yang ditangkap oleh pendekar hitam. Bahkan juga ada yang menjadi bagian dari mereka. Sampai kedua orang tua Guan hampir dibunuh.
"Jadilah pangeran kami."
Guan dengan beraninya membela orang tuanya. Hanya Guan yang berani melakukan itu dari sekian banyak anak laki-laki yang mereka tangkap beserta keluarganya.
Ketua panglima dari pendekar hitam pun tertarik dengan Guan. Guan mengangguk.
"Dengan syarat, jangan pernah melukai ibu dan ayah saya."
Guan bernegosiasi dengan panglima perang pendekar hitam itu. Mereka sepakat dan akhirnya guan juga kedua orang tuanya ikut ke kerjaan pendekar hitam.
Mereka hidup dan menatap disana. Guan diangkat sebagai pangeran karena kemampuan bela diri dan kecerdasannya juga.
Sementara putri kecil mej yin, selalu datang ke hutan itu. Dia selalu mencari Guan.
"Guan?"
"Kamu tidak datang lagi?"
Putri yin kecil berteriak seperti orang gila. Ke sisi kanan kebun, sisi kiri kebun dan yang lainnya.
"Dimana dia?"
Putri mei yin kecil tak pernah bertemu lagi dengan Guan. Entah dimana dia berada. Dimana pun dia, putri mei yin berharap Guan baik-baik saja.
***
"Putri yin, turun."
Ratu wu datang dengan raja Yong. Ratu wu kaget melihat kelakukan putrinya itu. Dia marah dan meminta putrinya itu segera turun.
Mata putri yin tak lepas memandang seorang laki-laki yang melihat dia dari kejauhan. Mereka punya kemampuan untuk mihat dengan jelas apa pun sejauh mata memandang kalau mereka mau menggunakan kekuatannya.
"Iya ibu. Ini turun. Bagaimana pangeran yuk? Apa dia sudah bangun?"
__ADS_1
Putri yin melompat turun dari pohon. Dia bertanya tentang pangeran yuk. Ratu wu mengangguk.
"Temui pangeran yuk, kamu harus minta maaf dab berterima kasih kepada dia."
Putri yin sebenarnya tak mau. Tapi kalau dipikir, dia harus melakukannya. Dia jalan dengan ibu dan ayahnya kembali ke kamar pangeran yuk. Pangeran yuk sudah siuman. Dia sedang duduk dan bersandar di ranjang. Dia sedang disuapi sesuatu. Sepertinya obat.
"Saya mau minta maaf dan berterima kasih. Walau pun sebenarnya saya tidak mau malam itu terjadi." Putri yin mengulurkan tangannya kepada pangeran yuk.
"Hemm." Pangeran yuk hanya berdeham. Dia bahkan tak mau menyentuh dan berjabat tangan dengan putri yin.
"Suapi suaminya, yin." Kata ibu ratu wu yang memerintahkan anaknya itu.
"Tapi ibu-"
"Kamu kan yang membuat pangeran yuk seperti ini. Rawat pangeran yuk sampai sembuh."
Putri yin duduk dan mengambil gelas obat yang tadinya dipegang oleh yang mulia ratu Li. Dia terpaksa menyuapinya pangeran yuk. Putri yin melakukannya dengan kesal dan cukup kasar. Sampai pangeran yuk tersedak. Sudut bibir pangeran yuk mengeluarkan darah.
Putri yin langsung mengobatinya. Dia menaruh tangannya didada pangeran yuk. Memberikan energi miliknya kepada tubuh pangeran yuk.
"Anda tidak terluka hanya karena kehilangan banyak energi untuk saya kan? Apa pendekar hitam itu melukai anda?"
"Anda sudah diobati? Apa tabib tahu lukanya?"
Ratu Li mengambilkan kain untuk mengelap sudut bibir pangeran yuk. Dia memberikannya kepada putri yin. Putri yin mengelap sudut bibir pangeran yuk perlahan.
Putri yin membuka baju pangeran yuk. Dia memeriksa dada pangeran yuk. Benar saja, ada lebam disana. Ratu Li dan ratu wu, juga raja Yong melihat dengan khawatir tapi juga senang, mereka terlihat semakin dekat dan saling perhatian.
Putri yin mengobati pangeran yuk. Dia mengalirkan banyak energi ke badan pangeran yuk.
"Jangan terlalu berlebih. Kamu bisa kehabisan tenaga nanti." Pangeran yuk mencoba menghentikan putri yin. Dia ingin menepis tangan putri yin dari dadanya.
"Diam!" Tapi putri yin melarangnya. Dia menatap pangeran yuk dengan tatapan yang tajam.
"Saya sudah tidak apa-apa. Anda yang terluka parah lebih dari saya sekarang."
Putri yin melanjutkan pengobatannya. Ratu Li dan ratu wu saling bertukar Padang. Mereka senang melihat keduanya seperti ini.
Ratu wu dan raja Yong harus segera kembali ke kerjaan Yin, kerajaan tak boleh ditinggalkan terlalu lama oleh pemimpinnya. Mereka akan berangkat sore ini.
__ADS_1
Putri yin mengantar keduanya sampai ke gerbang kerajaan. Pangeran yuk yang sudah lebih baik juga ikut mengantar mereka sampai ke depan gerbang kerajaan. Akan ada pengawal dan panglima Heng sendiri yang mengantar mereka pulang.
"Ibu, tidka bisakah ibu dan ayah tinggal disini juga?" Putri yin memeluk ratu wu dan merengek kepada sang ibu.