
Pangeran yuk mengantar putri Yin ke tempat mandi. Dia membopong putri Yin. Pelayan datang dan membersihkan pecahan vasnya.
Ketika pangeran yuk ingin menurunkan putri Yin dari gendongannya, baju pangeran yuk tersangkut dengan perhiasan bunga yang putri Yin pakai. Pangeran yuk tak sengaja tertarik kembali hingga mereka malah jatuh berdua di dalam kolam mandi.
"Saya akan segera menyelesaikan ini. Saya tidak melihat apa pun." Ujar pelayan itu yang menjadi saksi mereka berdua di tempat mandi.
"tunggu, ini bukan-" pangeran yuk ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Bukan ingin mandi bersama tapi dia tak sengaja jatuh. Tapi percuma saja.
Pangeran yuk menatap Putri Yin dengan kesal. Dia harus mengganti pakaian lagi. Pangeran yuk segera keluar dari kamar mandi dan kembali mengganti pakaian dengan pakaian yang baru.
Putri Yin tak perduli. Dia mandi dan menggosok badannya dengan sabun dan bunga yang sudah disiapkan oleh pelayan. Lalu putri Yin mengganti pakaiannya.
***
Pangeran yuk sudah mengganti bajunya. Dia bergegas keluar. Melihat putri Zhu sudah pulang artinya pamannya juga sudah pulang. Dia ingin melakukan sesuatu dengan pamannya. Pangeran yuk menemui panglima heng.
Panglima heng sedang ada di taman belakang istana. Di taman bunga kerajaan yuk. Dia sedang bermain dengan putri tersayangnya dan juga yang sangat dia rindukan.
"Ayah. Kenapa ayah baru pulang. Ayah lama sekali, bilangnya selalu sebentar. Tapi lama." Putri Bao dia bawa ratu muda yu ke taman belakang kerajaan. Putri Bao berlari menghampiri ayahnya.
"Em, apa sangat menunggu dan merindukan ayah yang sangat tampan ini?" panglima heng mengangkat tubuh kecil putrinya itu. Membawanya kedalam gendongan dia.
"tidak. Sebenarnya lebih tampan paman yuk. Tapi paman yuk menyebalkan. Ayah, paman yuk membawa putri yang sangat cantik, pakaiannya cantik, berbeda dengan kita ayah. Dia baik dan lucu. Dia istrinya paman yuk, ibu?" Kata putri Bao bercerita sembari digendong ayahnya itu. Putri Bao melirik ratu muda yu, yang dia sebut itu benarkah?
"iya. Istri paman yuk. Putri Mei Yin." Ratu muda yu mengangguk.
Mereka jalan-jalan keliling taman dan memetik beberapa bunga. Membuatkan mahkota bunga untuk Putri cantiknya itu.
Dari arah lain, pangeran yuk berlari. Dia menghampiri putri Bao yang digendong panglima heng. Pangeran yuk yang jahil iseng mengambil mahkota bunga yang panglima heng taruh di kepala sang putri.
"Paman." Putri Bao kesal melihat pamannya itu yang jahil. "Kembalikan mahkota bunga milik Bao paman. Ayah!" Bao mengadukannya kepada sang ayah.
"yuk. Mau apa? Katanya kak yu, kamu perlu sesuatu dengan paman dan menunggu paman?" tanya panglima heng kepada pangeran yuk.
"aku mau paman jadi pengawas aku dan Pangeran wong. Aku mau bertarung ulang dengan Pangeran wong, paman." Ujar pangeran yuk yang masih memegang mahkota bunga putri Bao.
"kembalikan dulu itu mahkota bunga milik putri Bao, yuk." Perintah pamannya itu kepada yuk. Yuk memberikannya dan menaruhnya di atas kepada putri Bao.
"Cantik." Ujar pangeran yuk yang memuji putri Bao. Tapi di belakang putri Bao ada putri Yin datang dengan pelayannya.
"Kakak, ini. Terima kasih untuk pakaiannya. Cantik sekali." Putri Yin menghampiri ratu muda yu untuk berterima kasih.
Pangeran yuk tak henti menatap putri Yin yang berbalik pakaian dari kerajaan yuk. Dia sangat cantik dan terlihat berbeda. Walau sebelumnya itu cantik. Tapi ini auranya berbeda saja. Pangeran yuk sampai tak berkedip menatap putri Yin.
__ADS_1
"Tidak. Bukan pakaiannya yang cantik. Tapi yang mengenakannya yang sangat cantik, makannya pakaiannya kelihatan cantik." Ratu muda yu mengusap lengan putri Yin.
Panglima heng tak sengaja melihat pangeran yuk. Mulutnya bahkan menganga terbuka menatap putri Yin. Panglima heng ikutan iseng. Plak! Dia memukul lengan pangeran yuk.
"Lihat apa yuk? Jangan sampai lupa nafas." Kata panglima heng kepada adik ipar laki-lakinya itu.
"ahh. Lihat burung di atas." Yuk menunjuk ke atas. Semua jadi ikut ke atas. Putri Bao, ratu muda yu, panglima heng dan juga putri yin. Juga pelayan yang ikut dengan putri Yin.
"Mana? Tidak ada burung paman?" tanya putri Bao dengan polosnya.
"Hah. Tadi ada?" pangeran yuk kehilangan kata-kata. Dia gugup dan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
Ratu muda yu, panglima heng dan putri Yin jadi menatap pangeran yuk dengan aneh. Pangeran yuk salah tingkah. Dia menunjuk ke depan.
"aku mau bertarung dengan pangeran wong. Di aula tengah latihan ya paman. Aku tunggu di sana. Sekalian mengasah kemampuan kita lagi." Kata pangeran yuk pergi begitu saja dari sana.
Panglima heng malah tertawa. "salah tingkah dia lihat kamu cantik, putri Yin." Ujar panglima heng kepada Putri Yin.
"emm?" putri Yin bingung mau menjawab apa. "tapi katanya tadi, pangeran yuk mau bertarung ulang dengan pangeran wong?" tanya putri Yin mencoba mengalihkan pembicaraan.
"iya. Tapi tenang saja. Kali ini ada suami saya. Dia bisa mengontrol keduanya. Mereka tidak akan sampai terbunuh. Lagi pula Pangeran yuk mengatakannya tanpa emosi tadi. Berbeda yang kemarin." Ratu muda yu mencoba menenangkan putri Yin.
"Kenapa? Ada apa kemarin?" tanya panglima heng ingin tahu.
Ratu muda yu menceritakannya sampai berjalan ke luar area taman belakang kerajaan yuk dan menuju ke aula latihan kerajaan yuk. Putri Bao tetap ikut dan ada digendongan ayahnya.
***
Sementara panglima heng, putri Yin dan juga putri Bao ada di area atas tempat itu, untuk mengawasi dan melihat jalannya pertarungan dan pertandingan Pangeran yuk dan juga pangeran wong.
"Putri Zhu, mau apa kamu di sana?" tanya panglima heng dari atas dengan lantang.
"paman. Aku kan juga murid paman. Aku juga ingin menambah ilmu. Aku ingin latihan hari ini dan ikut bertarung dengan mereka berdua. Aku jamin, aku yang akan menang. Mereka itu gak ada apa-apanya dibanding aku paman." Kata putri Zhu dengan lantang dari bawah.
"baiklah. Coba saja kalahkan keduanya." Kata panglima heng kepada Putri Zhu. Dia masih anak temannya. Temannya yang meninggal di dalam perang lalu dia menjadikan putri Zhu seperti adik perempuannya. Dia juga melatihnya.
Putri Zhu sama dengan mendiang ayahnya yang hebat. Dia cepat belajar pertempuran dan semua ilmu yang panglima heng atau guru lain ajarkan. Bersama dengan pangeran yuk dan Pangeran wong.
Teng!
Beberapa kali pedang ketiganya saling menghunus satu sama lain. Saling menyerah dan saling bertempur pedang pangeran yuk dengan pangeran wong, lalu pedang putri Zhu juga.
Pangeran yuk seperti hanya mengincar untuk menjatuhkan pedang pangeran wong. Dia sama sekali tak menghiraukan keberadaan putri Zhu. Putri Zhu jadi kesal dan memisahkan keduanya.
__ADS_1
"ya! Kalian berdua. Aku juga ada di sini. Jadi bertarung lah dengan ku juga. Kenapa kalian seperti hanya bertarung berdua?" putri Zhu marah-marah berdiri di antara keduanya. Mereka bahkan tak mengangkat pedang ke arah putri Zhu.
Sementara yang di atas hanya diam dan melihat apa yang terjadi di bawah. Sampai Pelayan datang dan memberitahu kalau rombongan dari kerajaan Yin sudah datang.
"Ibu."
Putri Yin sudah sangat rindu kepada ibunya. Dia berlari turun dari tempat itu. Menuruni tangga dan menemui orang tuanya yang datang ke kerajaan yuk. Bersama dengan pelayan yang diminta untuk melayani putri yin, mereka mengikuti putri Yin dan menuju ke depan.
"Ayo sayang. Sambut ibunya bibi Yin. Neneknya putri Bao juga." Ujar ratu muda yu mengambil Bao dari gendongan ayahnya.
"sana. Ayah selesai di sini nanti ayah menyusul ke sana. Tidak lama, janji beneran tidak lama." Ujar panglima heng mencium pipi Putri cantiknya itu.
"iya ayah. Janji ya? Jangan lama." Putri Bao pun mencium pipi ayahnya itu. Lalu dia dengan ratu muda yu pergi dari sana. Turun Dari menara.
***
"ibu, ayah. Aku rindu sekali."
Sesampai di depan, putri Yin langsung berlari menghampiri ibu dan ayahnya. Dia memeluk ibu dan ayahnya dengan sangat erat.
"Baru beberapa hari sudah rindu." Ujar ratu Wu memeluk dan mencium pipi anaknya itu.
"ibu dengar, kamu sudah mandi bersama dengan pangeran yuk. Ibu senang sekali. Layani suami kamu dengan baik putri. Sekarang kamu sudah bukan anak-anak yang tahunya main saja." Ujar ratu Wu mengusap lembut rambut panjang hitam anaknya itu.
"ahh?" putri Yin kaget tapi juga malu. Pasti pelayan yang mengatakannya. Ratu Li juga tersenyum menatap putri Yin.
"ini ada beberapa pakaian yang ibu bawa, pakaian punya kamu, dan pohon bunga kelahiran kamu. Kamu sempat sakit kan di sini? Dan juga pakaian untuk putri kecil Bao yang cantik ini."
Putri Bao dengan ratu muda yu datang. Ratu muda yu memberi salam kepada ratu Wu. Putri Bao juga. Dia tersenyum manis kepada semua orang.
"Oh ini putri Bao. Sudah sembuh? Cantik sekali." Ratu Wu memuji Bao yu dan mengusap pipi bao yang tembam itu.
"Iya ibu ratu, saya putri Bao. Putrinya ibu yu yang cantik." Ujar putri Bao turun dan memberi hormat kepada ratu wu.
"manisnya. Ini untuk putri Bao. Semoga putri Bao suka." Ratu Wu meminta pelayan untuk membawakan pakaian yang sudah mereka siapkan untuk putri bao. Untuk kenang-kenangan.
Panglima heng dengan tiga muridnya juga menyelesaikan latihannya. Mereka ke depan untuk ikut menyambut. Ketiganya memberikan salam kepada raja dan ratu dari kerajaan Yin itu. Pangeran yuk tersenyum kepada ratu dan raja kerajaan Yin itu. Mereka balik tersenyum aneh menatap Pangeran yuk.
"tolong jaga putri kami dengan baik ya pangeran. Selama putri kami tidak bersama kami. Kami juga akan menanamnya. Apa ada tempat yang aman untuk menanamnya?" tanya raja Yong kepada pangeran yuk.
"di kamar yuk bagaimana?" saran ratu Li. "tak ada yang berani masuk ke kamar pangeran yuk." Ujar ratu Li lagi.
Pangeran yuk menggandeng tangan putri Yin dan masuk bersama. Di sana juga datang Pangeran Huang dan ratu Huang.
__ADS_1
"Aku bisa melukai Pangeran Huang disini berarti ya? Kamu tak akan bisa menolongnya?" tanya pangeran yuk berbisik kepada putri Yin.
Putri Yin menatap kesal Pangeran yuk.