DIJODOHKAN DENGAN PANGERAN KEJAM

DIJODOHKAN DENGAN PANGERAN KEJAM
LATIHAN BERTARUNG


__ADS_3

Putri yin melihat pangeran yuk, pangeran Huang, pangeran Wang dan putri Zhu berlatih pedang bersama.  Putri yin juga ingin ikut.  Dia sedang dengan para dayang, tak sengaja lewat ke tempat latihan.  Putri yin lari. 


"Saya juga mau ikut kalian berlatih.  Bukankah saya juga harus melindungi kerajaan ini dan kerajaan ibu dan ayah saya?"


Teng! Mereka sedang beradu pedang.  Mereka langsung berhenti ketika putri yin tiba-tiba saja lari ke tengah. 


"Putri yin, apa anda sudah tidak punya akal.  Kami sedang bertarung, tiba-tiba anda datang ke tengah-tengah kami."


Pangeran yuk yang paling berani membentak putri yin.  Putri yin kesal, dia mulai bertarung dengan pangeran yuk.  Dia mengeluarkan pedang energinya. 


"Saya mau ikut berlatih.  Apa salahnya, angkat pedang anda pangeran.  Cepat bertarung dengan saya."


Pangeran yuk mau berbalik.  Tapi putri yin malah menghadangnya.  Guru mereka yang akhirnya maju.  Dia sudah mendapatkan pesan, hanya akan melatih mereka berempat. 


"Yang mulia putri, maaf kalau saya lancang.  Saya hanya diperintahkan dan diamanatkan tiga pangeran dan putri Zhu saja."


"Tapi guru."


Putri yin menghilang pedang energinya.  Putri yin cemberut menatap sang guru. 


"Guru, saya juga mau ikut belajar.  Saya juga mau menjadi murid guru. Kalau tidak dibolehkan, saya akan merusuh."


Panglima yang mengajari mereka pun tak bisa berbuat apa pun.  Putri yin ikut latihan.  Putri yin melawan putri Zhu. Mereka saling beradu pedang. 


"Yang mulia putri, ternyata anda hebat juga." Puji putri Zhu. 


"Anda juga hebat yang mulia putri Zhu."


Ketiganya malah jadi diam dan melihat kedua putri itu latihan.  Ketiganya sudah capek beradu pedang tapi mereka berdua malah tak juga istirahat.  Sampai ibu ratu Li datang. 


"Pangeran yuk, hentikan putri yin. Putri Zhu, berhenti.  Jangan berlatih dan bertarung dengan putri yin."


Ratu Li sampai harus lari dan berteriak untuk menghentikan keduanya.  Pangeran yuk dan pangeran yang lainnya menoleh. 


"Ada apa ibu, kenapa ibu sepanik ini?" Tanya pangeran yuk, yang tadinya sedang duduk di tanah, dengan kedua pangeran yang lain, dia langsung berdiri. 


"Yang mulia putri, hentikan dulu.  Ada ibu ratu." Kata putri Zhu. 

__ADS_1


Putri yin pun berhenti.  Dia menghampiri ibu ratu, dia membuat pedang energi merah mudanya hilang.  


"Ada apa ibu ratu, kenapa saya harus berhenti? Saya juga mau berlatih?" Tanya putri yin kepada ibu mertuanya itu. 


"Maaf ibu, tapi saya tidak tahu.  Putri yin juga yang meminta saya untuk berlatih dan beradu pedang dengan dia." Putri Zhu menunduk meminta maaf. 


"Bukan salah kamu, putri Zhu.  Kamu tidak tahu apa-apa.  Pokoknya, putri yin, ibu tak mau melihat kamu berlatih perang.  Itu berbahaya."  Ratu Li menggandeng tangan putri yin dan merangkulnya, menarik putri yin untuk berdiri di samping dia. 


"Tapi ibu, berlatih kan juga perlu untuk saya.  Untuk melindungi diri saya sendiri." Putri yin merengek kepada ibu mertuanya. 


"Tidak boleh.  Kamu sedang hamil.  Kamu tidak boleh melakukan hal yang berbahaya."


"Hamil?"


Putri yin dan yang lainnya kaget.  Pangeran yuk juga.  Bagaimana bisa? Secepat itu?


"Ibu, tunggu.  Maksudnya hamil?" Tanya pangeran yuk kepada ibunya.   Dua pangeran yang lain juga ikut berdiri. 


"Iya hamil anak kamu, putri yin sedang mengandung anak kamu.  Ibu tidak mau putri yin dan calon cucu ibu kenapa-napa."


"Tapi bagaimana bisa ibu?"


"Apa karena kami menyatukan energi, pangeran yuk tidur dengan saya malam itu?"


"Ibu tadi meminta tabib memeriksa denyut nadi dan energi saya, karena itu?"


Ratu Li mengangguk.  Putri yin kesal.  Dia belum mau hamil.  Apalagi hamil anak laki-laki menyebalkan yang tidak dia cintai sekarang, yang kejam itu.  Putri yin pergi begitu saja.  Dia menangis lari ke kamar. 


"Ibu, ibu bercanda kan? Aku hanya melakukannya sekali dan baru malam kemarin?" Pangeran yuk tak henti bertanya kepada ibunya. 


"Yuk, ini dunia pendekar yuk."


"Aku sering dengar itu pangeran." Putri Zhu menambahkan.


Dalam dunia pendekar, tak butuh waktu lama untuk bisa tahu hamil.  Kalau memang dia energinya menyatu dengan baik, itu akan membentuk sebuah janin yang akan menjadi bayi dan lahir sebagai anak nantinya. 


"Tanya kakak kamu.  Kakak kamu juga seperti itu."

__ADS_1


Pangeran yuk langsung pergi ke kamar kakaknya setelah mendengar cerita dari sang ibu. 


"Kak."


Dalam sekejap Pangeran yuk sampai di ruangan ratu muda yu.  Ratu muda wu sedang mengepang rambut putri kecil Bao.


"Memang kalau melakukan sekali, itu bisa jadi ya?" Tanya pangeran yuk tak menghiraukan putri Bao yang cerdas dan daya ingin tahunya tinggi.


"Melakukan apa paman? Jadi apa?" Tanya putri Bao yang menoleh menatap pangeran yuk.


"Apanya? Ahh, soal energi, yang kalian tidur berdua? Kata tabib bagaimana? Apa semuanya baik? Kalau semuanya baik, bisa jadi langsung. Apa sudah jadi langsung?"


"Apa ibu?"


Ratu muda yu masih menjelaskan kepada pangeran yuk. Pangeran yuk terduduk di lantai begitu saja dengan lemas. Dia melamun mencerna ucapan kakaknya.


"Aku akan punya anak?" Tanya pangeran yuk dengan tatapan kosongnya.


"Paman mau punya adik bayi sayang. Kamu dapat adik bayi dan teman dari paman."


Ratu muda yu dan putri kecil Bao malah senang sekali. Putri kecil Bao sampai melompat kegirangan. Pangeran yuk hanya bisa menunduk menatap lantai kamar sang kakak.


"Kamu harus menjaga putri yin dan calon anak kamu dengan baik yuk. Dari ramal, anak kalian yang akan membuat dunia ini damai."


Ratu muda yu menepuk pundak sang adik. Pangeran yuk masih bingung dengan semuanya.


***


Sementara di kamar, putri yin mengunci pintu kamar Pangeran yuk. Dia masuk ke dalam kamar. Para dayang yang ikut dengan putri yin lari dan mencoba menyusulnya. Tapi mereka kalah cepat. Pintunya terkunci dan mereka hanya bisa berdiri di depan pintu.


"Yang mulia putri, jangan membuat kami khawatir. Tolong buka pintunya yang mulia putri."


Mereka mencoba mengetuk pintu kamar pangeran yuk. Tapi tak ada respon dari putri yin. Putri yin duduk di atas ranjang. Dia meringkuk memeluk lututnya dan menangis disana.


"Sayang, ini ibu. Tolong bukakan pintunya. Ibu mau bicara dengan kamu. Kamu marah kepada ibu?"


Sampai ada ratu Li di depan. Dia mengetuk pintu kamar dan mencoba membujuk putri yin. Putri yin hanya tinggal melayangkan tangannya, mengeluarkan energi merah muda dan membuka pintunya tanpa bergerak.

__ADS_1


"Sayang. Kenapa? Kamu tidak suka hamil cucu ibu? Kamu marah karena ibu, kamu harus hamil? Karena kita kamu harus hamil anak pangeran yuk? Atau kamu sangat marah dan tak bisa sampai mencobanya dulu saja mencintai Pangeran yuk?"


Ibu ratu Li mendekati putri yin yang masih diposisi yang sama. Putri yin memeluk ibu mertuanya.


__ADS_2