DIJODOHKAN DENGAN PANGERAN KEJAM

DIJODOHKAN DENGAN PANGERAN KEJAM
KEPULANGANNYA RATU DAN RAJA YIN


__ADS_3

Ratu dan raja dari kerjaan yin harus segera pulang. Putri yin menangis berpisah dengan mereka.


"Nanti siapa yang akan menjaga ibu dan ayah. Aku boleh ikut pulang saja?"


Putri yin merengek memeluk ibunya. Dia tak mau melepaskan pelukan ratu wu. Tapi keduanya malah tertawa melihat anaknya yang sudah menikah, tapi kelakuannya masih seperti anak kecil.


"Putri yin, tenang saja. Prajurit kami akan berjaga di sana." Panglima Heng yang mengatakannya.


Putri yin pun akhirnya melepaskan pelukannya kepada sang ibu. Dia harus melepaskan kedua orang tuanya untuk kembali ke kerajaan. Mereka diantar banyak prajurit dari kerajaan Yin juga dari kerajaan yuk.


"Sayang, peramal dan tabib ingin berbicara sesuatu kepada kalian berdua."


Tadinya putri yin ingin jalan-jalan dengan dayang-dayang dia. Ada yang dia bawa dari kerajaan Yin dan ada dari ratu Li juga.


Pangeran yuk juga ingin kembali Istirahat ke kamarnya, atau ke satu tempat untuk bertapa dan memulihkan keadaan dia.


"Ada apa ibu?" Tanya putri yin yang tak jadi pergi ke arah lain.


"Yuk." Ratu Li juga menarik tangan anaknya itu.


Tadinya pangeran yuk tak mau. Dia malas. Kalau peramal dan tabib, ujungnya pasti soal hubungan keduanya, penyatuan dua kekuatan.


"Ibu, kalau ini masih hal yang sama. Kan kita sudah melakukannya. Apa lagi?" Protes pangeran yuk kepada sang ibu.


"Lebih penting dari itu. Nanti juga kita akan bicara dengan putri Zhu, pangeran Huang dan pangeran wong."


Pangeran yuk dan putri yin terpaksa ikut ke sana. Mereka ada di ruang pertemuan. Sudah ada ratu Huang juga disana menemani pangeran Huang. Putri Zhu dan juga pangeran wong.


"Silakan katakan lebih dulu peramal." Kata ratu Li yang baru sampai di sana dengan putri yin dan pangeran yuk. Dia duduk di samping putri yin. Sejak tadi Putri yin tak henti merangkul lengan ibu ratu mertuanya itu.


"Kemarin, yang menyerang putri yin itu. Itu hanya permulaan, para pendekar gelap, sedang bersiap untuk menyerah kerajaan utama kita." Kata sang peramal. Semua menatap takut sang peramal.


"Kenapa mereka mau menyerang kita? Bukannya kita sudah memiliki bagian wilayah masing-masing?" Tanya putri Zhu kepada sang peramal.


"Mereka pasti ingin kekuasaan lebih " jawab pangeran wong.

__ADS_1


"Kenapa begitu?" Tanya balik pangeran Huang. "Bukankah dulu sudah ada janji antara dua dunia pendekar?"


"Karena yang mulia Zeng sudah tiada. Mereka menganggap semua perjanjian itu tak berarti. Mereka juga menganggap kita lemah. Setidaknya kita harus siap-siap."


Semua menatap pangeran yuk. Pangeran yuk paham itu. Karena dia yang membunuh ayahnya sendiri. Pangeran yuk merasa benar, tapi juga kesal seperti semua mata menyalahkan dia. Dia tahu, dia emosi karena itu.


"Akan banyak korban berjatuhan kalau sampai masuk ke wilayah kita. Kita bisa mengirimkan perwakilan untuk bernegosiasi."


"Kita akan berperang ke tanah lapang. Bagaimana yang mulia pangeran dan yang mulia ratu."


Pangeran yuk ingin keluar dari sana. Putri yin yang duduk di sebelah pangeran yuk menahannya.


"Tunggu disini dulu pangeran. Ini bukan tentang anda, tapi semua orang di kerajaan ini."


Pangeran yuk kembali duduk. Dia mendengarkan semua penjelasan peramal. Mereka harus bekerjasama keras, belajar untuk meningkatkan kemampuan. Terutama pangeran yuk yang harus memimpin perang ini.


"Lakukan. Saya juga tak kalah hebat dengan ayah."


Putri yin tersenyum miris. Memang pangeran yuk yang terkenal sombong dan angkuh sekarang dia melihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Jangan terlalu angkuh, sombong dan percaya diri pangeran. Itu yang bisa membuat kita puas dan kurang waspada." Putri yin memarahi pangeran yuk.


"Kita mau diapakan lagi, ibu?" Tanya pangeran yuk yang sudah ingin pergi. Tapi ditahan oleh ibunya.


"Periksa mereka berdua tabib." Perintah ratu Li kepada tabib istana.


"Maaf yang mulia putri, ulurkan tangan anda." Pinta tabib kepada putri yin.


Putri yin mengulurkan tangannya. Tabib memeriksa denyut nadi putri yin. Setelahnya giliran pangeran yuk, tabib juga memalukan hal yang sama.


"Bagaimana tabib?" Tanya ratu Li kepada sang tabib. Tabib itu mengangguk dan tersenyum.


"Apa itu artinya, ibu?" Pangeran yuk mendesak. Dia penasaran.


"Tidak apa-apa. Energi kalian sudah mulai menyatu. Akan jauh lebih menyatu lagi setelah berjalannya hari. Dengan seperti ini, pangeran yuk akan dilindungi oleh energi putri yin yang ada di dalam dirinya, bahkan ketika perang dan putri yin sebaliknya."

__ADS_1


"Kalian berdua akan jauh lebih kuat kedepannya." Tambah tabib kepada keduanya.


"Ini sudah selesai kan? Kalau begitu saya akan pergi. Saya juga harus mulai latihan kan?"


Pangeran yuk pergi meninggalkan ruangan. Putri yin pun ikut pamit dengan para dayang yang ada di sana. Sementara ratu Li masih di dalam ruangan dengan peramal dan tabibnya.


"Bagaimana? Apa kemungkinan akan jadi? Pangeran yuk kecil?" Tanya ratu Li kepada sang tabib.


Tabib itu mengangguk. "Energi Meraka menyatu dengan baik yang mulai ratu, kita tinggal menunggu kapan hari ini terjadi. Tak lama lagi, memungkin butuh delapan Minggu saja dari sekarang."


"Dan anak itu akan menjadi anak yang kuat, sangat kuat seperti pangeran yuk, tapi juga sangat baik seperti putri yin." Imbuh sang peramal yang membuat ratu Li tersenyum senang.


"Kalau pangeran yuk bisa memenangkan peperangan ini, dunia pendekar akan kembali aman dan tentram." Tambah penjaga kerajaan yang lain, anak buah panglima Heng, yang akan ikut melatih para pangeran dan putri Zhu.


"Tolong latih pangeran yuk dengan baik dan keras kalau perlu panglima." Ratu Li berdiri menyambutnya, dia menunduk memberi salam.


"Baik yang mulia." Dia ikut menunduk memberi salam kepada ratu Li.


Ratu Li pamit. Dia harus kembali ke kamarnya. Dia akan mengirimkan pesan kepada ratu wu dan raja Yong. Dia menulis pesannya sendiri. Seseorang diperintahkan ratu Li untuk segera menyampaikan pesannya.


"Yang mulia, semua Pangeran dan putri Zhu sudah ada di lapangan. Mereka akan mulai berlatih."


Seorang dayang memberitahu ratu Li. Ratu Li mengangguk senang.


"Saya akan ke sana."


Baru saja ratu Li mau jalan ke tempat latihan. Seorang dayang berlari dan melapor lagi.


"Yang mulia ratu, tuan putri yin mau ikut berlatih juga."


"Putri yin."


Ratu Li bergegas ke sana. Dia tak mau menantunya itu kenapa-napa. Terlebih putri yin sedang dalam masa untuk bersiapan kehamilan dia, yang dimaksud senyuman ratu Li dan juga tabib ketika tabib memeriksa denyut nadi putri Li.


Dalam duni pendekar, sekali saja melakukannya, bisa dideteksi dengan denyut nadinya. Bisa diprediksi kemungkinan akan jadi atau tidak dengan kekuatan mereka.

__ADS_1


"Putri yin."


Ratu Li sampai di lapangan.


__ADS_2