DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Pengakuan


__ADS_3

Luth dan Afiqa sudah di tengah perjalanan menuju ke klinik dokter. Tidak ada perbincangan diantara keduanya kecuali, yang terdengar hanya helaan nafas yang sesekali memenuhi ruangan mobil.


Luth melirik kea rah Afiqa, gadis itu tampak tenang. Tidak ada gerakan apapun yang menunjukkan kecurigaan.


“Fiqa, kamu yang sabar ya! kita hadapi isu ini bareng-bareng. Orang yang diterpa isu tidak benar itu pasti akan mendapat kebaikan,” ucap Luth berusaha menguatkan, takut Afiqa down gara-gara isu yang belum tentu benar.


“Luth, berhenti!”


“Kenapa? Kita belum sampai!”


“Tolong berhenti dulu!” pinta Afiqa.


“Oke.” Luth menuruti, menghentikan mobil. ia menatap Afiqa.


“Kita nggak usah ke dokter.”


“Kenapa? Kamu tadi kan udah setuju. Lalu kenapa berubah pikiran? Jujur, aku terganggu dengan kabar ini. kita harus segera selesaikan supaya masalah nggak berlarut-larut. Aku ingin kebenaran ini ditunjukkan kepada mereka.”


“Sebenarnya mereka yang ingin tahu, atau kamu yang penasaran, Mas Luth?” tanya Afiqa lirih.


Luth mengangkat alis. “Aku mendnegar kabar ini dari orang lain, dari sumber yang bisa dipercaya. Mamamu sendiri yang pernah membahas ini dan sempat terdengar oleh orang lain. Sebagai calon suami, aku tentu juga ingin tahu kebenarannya.”


“Jadi benar, kamu yang sebenarnya ingin mendapatkan buktinya kan?” Afiqa menghela nafas, kemudian matanya yang berembun itu meneteskan air mata. “Aku hamil, Mas Luth. Aku memang hamil. Sebelum kamu bawa aku ke dokter, aku jujur padamu.”

__ADS_1


Wajah Luth memerah, kesal. “Lalu kenapa kamu membohongiku? Kenapa kamu sembunyiin masalah sebesar ini dari calon suamimu? Ini sama aja kamu menipuku. Laki-laki lain yang menyentuhmu, tapi aku yang menikahimu,” ketus Luth setelah memendam kekesalannya sejak tadi.


Afiqa menangis. Sesenggukan.


“Keluargamu mengetahui masalah ini, kan? Lalu kenapa mereka menutupi semua ini dariku?” tanya Luth dengan nada tinggi.


“Mereka ingin aib ini tertutupi.”


“Dengan menipuku, hm?”


“Aku nggak bermaksud menipu. Aku bingung, aku takut.”


“Lucu! Kenapa kamu nggak minta tanggung jawab aja pada pria yang udah menidurimu? Kenapa malah aku yang ditipu begini?” hardik Luth lagi.


“Laki-laki itu udah punya istri, aku nggak mungkin menikah dengannya.”


Afiqa sesenggukan, tangisnya semakin haru.


“Sebelum kamu melakukan hubungan dengan laki-laki, apakah kamu nggak mikir resiko yang akan kamu terima? Dan saat kamu menerima resikonya, kamu buang getah itu ke aku. laki-laki mana yang mau diperlakukan begini?” kesal Luth sambil mengusap wajah kasar.


“Aku menyesal, Mas Luth. Aku menyesal. Aku bener-bener bod*h. aku nggak tahu harus bagaimana lagi.”


“Itu masalahmu. Kamu pikirkan aja bagaimana jalan keluar untukmu. Jangan libatkan aku. Aku nggak menyangka, gadis yang kelihatannya polos dan lugu sepertimu ternyata sanggup bermain gila dengan suami orang.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Luth, tangis Afiqa semakin pecah.


“Setelah ini, aku bukan calon suamimu lagi,” kesal Luth tanpa menatap Afiqa.


Gadis itu kemudian membuka pintu mobil. “Aku pulang sendiri aja,” ucapnya sambil terisak. Ia turun dati mobil, melangkah menjauh dari mobil Luth.


Luth menatap langkah Afiqa. Dalam hati ia keheranan, kenapa gadis polos yang selalu tampak lugu itu bisa berbuat hal gila? Luth menjalankan mobil, melewati Afiqa yang terus melangkah entah mau kemana.


Sekarang Luth berpikir keras, bagaimana menjelaskan kepada ibunya nanti. Ibunya sudah sangat antusias menyambut seorang menantu, namun kenyataanya malah begini. Ah, sudahlah. Luth seharusnya merasa tenang karena sudah ditunjukkan bahwa Afiqa bukanlah gadis yang tepat untuknya.


Saat kepalanya terpikir sesuatu, ia pun memutar haluan mobilnya, kembali menghampiri Afiqa yang bersidi di sisi jalan menunggu taksi. Luth menurunkan kaca mobil lalu berseru, “Ayo masuk! Aku antar pulang.”


Afiqa hanya menoleh sebentar, ia tidak bergerak dari posisinya.


“Ayo, masuk! Aku tadi yang membawamu pergi, aku juga yang seharusnya mengantarmu pulang! Laki-laki harus beretanggung jawab!” seru Luth.


Afiqa akhirnya memasuki mobil meski dengan kepala menunduk. Perasaan gadis itu berkecamuk tentunya.


Sepanjang jalan pulang, tidak ada perbincangan diantara keduanya. Afiqa terus menatap ke arah luar jendela.


“Udah sampai. Turunlah!” titah Luth. “Kamu selesaikan masalahmu dengan keluargamu. Aku nggak akan bicara apa pun pada keluargamu.”


Afiqa tidak merespon, gadis itu turun dari mobil dan melangkah pelan memasuki pagar rumahnya.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2