DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Dikejar Emak-emak


__ADS_3

“Hei, kau ini nggak punya etika ya? Bisa-bisanya kau peluk-peluk anakku!” hardik Amina dengan raut wajah merah padam. Sapu lidi diacung-acungkan.


“Peluk?” Luth tampak bingung, dahinya bertaut. Kapan ia memeluk Lyn?


“Jangan kau kira aku nggak lihat tadi. Aku sedang di balkon lantai atas saat kau memeluk anakku!” amuk Amina.


Luth baru sadar ternyata inilah penyebab kemarahan Amina, wanita itu tadi melihat Luth saat merampas ponsel Lyn hingga mengakibatkan kesalahpahaman. Tapi kalaupun Luth menjelaskan hal yang sebenarnya, Amina pasti tidak akan mempercayainya.


"Dasar mesum! Laki-laki gatal! Mata keranjang. Sini kamu!" Amina mendekati Luth sambil mengayunkan sapunya.


Luth sontak melompat dan berdiri di belakang Lyn, bukan maksudnya ingin bersembunyi di balik badan perempuan karena takut, tapi ia tidak mau melawan emak-emak, bisa kualat. Satu-satunya cara adalah berdiri di balik badan Lyn untuk melindungi kepalanya dari hempasan sapu lidi.


"Memang payah ya berurusan sama orang miskin, isi pikiran hanya cab*l melulu. Sini kamu! Jangan lari!" Amina terus mengayunkan sapu ke arah Luth.


Tak mau terkena pukulan sapu lidi yang mungkin bau taik ayam, Luth memilih untuk menghindar, mengelilingi tubuh Lyn. Di pikirannya terngiang perkataan Amina, yang menyinggung masalah materi, menyebut-nyebut kata miskin. Justru bagi Luth, lebih sulit berurusan dengan orang kaya, dikir-dikit semuanya disangkut pautkan dengan materi.


"Lyn, mamamu kali aja kesurupan wewe gombel pas kepentok batang pohon randu di belakang rumah," ucap Luth di tengah teriakan Amina yang terus memakinya. "Cepetan bawa rukiyah. Atau celupin mamamu ke kali deres biar setannya pada kabur."

__ADS_1


"Luth, sembrono ih." Lyn bingung melihat Luth dan Amina kejar-kejaran mengelilinginya. Sampai akhirnya terdengar suara keras, Plak!


Sapu terbang dan mendarat di kening. Bukan kening Luth, melainkan kening Hud, kakaknya Luth yang baru saja turun dari mobil. Sontak pria itu memegangi keningnya yang seketika benjol.


Bersamaan dengan itu, Alisha muncul, keluar dari rumah. Raut wajahnya tampak bingung menyaksikan ekspresi wajah-wajah yang berbeda-beda.


"Ada apa ini?" tanya Alisha mengedarkan pandangan.


"Kasih tau nih anak kamu." Amina menunjuk-nunjuk Luth. "Jangan mesum sama anak gadisku. Enak aja dia peluk-peluk Lyn, nempel kayak perangko nyari badan bagus. Dipikir anakku bantal main peluk sembarangan? Begini nih kalau punya tetangga rendahan, nggak tau etika." Amina menarik pergelangan tangan Lyn, menyeretnya pulang.


"Jangan lupa yang kubilang tadi, Lyn. Rukiyah!" seru Luth membuat Lyn mengangkat alis.


Sempet-sempetnya Luth ngomongin itu. Lyn gemes.


Setelah Lyn dan mamanya hilang dari pandangan, tawa Luth seketika terhenti menatap Hud yang mengelus kening. Kasian kening kakaknya itu seperti ditempeli bola kasti.


"Luth, ada apa sebenarnya? Kenapa Mamanya Lyn mengamuk?" tanya Alisha bingung. "Siapa yabg peluk siapa?"

__ADS_1


"Tante Amina cuma salah paham aja, Ma," jawab Luth. "Nanti biar aku jelasin ke mamanya Amina."


"Ya, udah." Alisha kemudian menatap ke arah Hud, sulungnya. Ia tersenyum. "Ayo masuk, Hud!" ajaknya yang tampak bahagia melihat putra sulungnya datang.


Wajar Alisha terlihat gembira sekali saat tahu putra sulungnya itu datang, mereka jarang sekali bertemu. Hampir empat bulan Hud tidak datang ke rumah.


Hud dan Luth memasuki rumah, mengikuti Alisha.


"Ayo ayo sini, duduk! Aduuh… Rasanya udah lama sekali ibu ndak ketemu kamu, Hud. Ibu kangen sekali." Alisha menarik lengan sulungnya dan mendudukkannya ke kursi. Mereka duduk bersisian.


Ekspresi cerah berbinar terlukis di wajah Alisha.


Luth mengawasi raut bahagia ibunya tanpa kedip.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2