
Lyn dan Luth bertukar pandang. Menyadari rambut keduanya yang ternyata sama-sama basah. Luth hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, alisnya terangkat sempurna. Santai sekali dia, seakan tak ada beban. Berbeda dengan Lyn yang langsung merasakan panas di wajahnya.
Kenapa Luth bisa serileks itu?
"Aku keluar dulu mau beliin sarapan. Kamu mau apa, Lyn? Lontong, nasi goreng, gado-gado atau mie goreng?" tanya Luth mengalihkan pembicaraan. Ia sangat tahu Lyn sedang gugup.
"Lontong aja," jawab Lyn.
"Ibu mau apa?" tanya Luth.
"Nasi goreng," jawab Alisha.
"Ya udah, aku keluar dulu beli makanan untuk sarapan sebentar." Luth melenggang keluar, menyambar kunci motor yang tergantung di dinding tempat biasa. Ia mengeluarkan motor matic dari garasi, lalu menaikinya.
Tepat saat menyalakan mesin, ia merasakan jok di belakangnya terayun, agak berat. Ia menoleh, terkejut mendapati wajah Lyn yang tersenyum simpul. Gadis itu sudah duduk manis, membonceng di belakangnya.
"Yuk, jalan!" pinta Lyn.
"Kenapa ikut? Di rumah aja sana!" titah Luth.
"Kok, nggak boleh ikut? Aku bingung di rumah berdua aja sama ibu. Abisnya ibu nanyanya aneh-aneh sih."
"Ya udah." Luth menyerahkan helm satunya kepada Lyn.
__ADS_1
Lyn tersenyum sambil meraih helm itu. "Boleh ikut nih?"
"Kalau nggak dibolehin nanti nangis. Cepetan pakai helmnya!"
"Udah dipakai."
Luth menjalankan motor keluar halaman rumah. Lyn tersenyum sambil memegang pinggang pria itu, sama seperti dulu saat ia membonceng motor Luth, kedua tangannya selalu berpegangan pada pinggang Luth.
Nuh yang duduk di dalam mobil, tersenyum simpul melihat putrinya berboncengan dengan suaminya. Ia kemudian menjalankan mobilnya untuk segera ke kantor.
Sepanjang jalan, Lyn tersenyum. Dulu, Lyn sering berboncengan naik motor bersama Luth, hati Lyn girang sekali. Tapi sekarang rasanya jauh lebih bahagia. Perubahan status diantara mereka membuat rasa yang tercipta juga berbeda. Pengaruhnya besar sekali.
"Luth, kita mau kemana? Kok, nggak nyampe-nyampe? Ini kita udah lama banget loh naik motor," ucap Lyn sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Luth supaya suaranya tidak terbang terbawa angin.
Luth tergagap, ia mengedarkan pandangan. Loh, ini mau kemana? Kok malah ngelayap sampai jauh begini? Bukankah seharusnya mereka bertujuan ke warung yang tak jauh dari rumah? Bahkan warung itu sudah jauh terlewat. Gara-gara Lyn ngejogrok di belakang, pikiran Luth jadi tidak fokus. Ambyar.
"Lah, di sana tadi ada orang jual jus. Kenapa malah dilewatin? Jauh banget beli jus doang?" tanya Lyn yang bingung.
"Ngikut aja. Mau ngerasain jus di tempat lain aja." Luth menambah kelajuan motornya. Lalu ia menghentikan motor di depan kafe.
"Biar aku aja yang turun buat beli jusnya. Jus alpukat kan? Berapa gelas?" tanya Lyn sambil turun dan melepas helm.
"Tiga. Kamu mau juga kan?" Luth mengeluarkan uang dari kantong celananya.
__ADS_1
"Aku ada uang kok," jawab Lyn menolak pemberian Luth.
"Simpan aja uangmu. Ambil ini!" titah Luth.
Lyn yang tak ingin melihat Luth tersinggung, segera meraih uang dari tangan Luth dan masuk ke kafe.
Luth menunggu di luar. Ia geleng-geleng kepala menyadari kekonyolannya yang mengendarai motor sampai kebablasan ke sana.
Tak lama Lyn muncul, gadis itu membawa jus sesuai pesanan Luth. Setelah itu mereka membeli makanan untuk sarapan.
Alisha menyambut kedatangan Lyn dan Luth dengan senyum lebar di teras. Mereka masuk dan makan bersama.
"Alhamdulillah... Ibu senang sekali bisa sarapan bareng anak-anak begini, rame," ucap Alisha tampak bahagia sekali.
Suasana hangat pun tercipta.
Lyn yang duduk bersisian dengan Luth tiba-tiba bertukar pandang saat keduanya menyadari posisi tubuh mereka yang duduk tanpa jarak, membuat sisi samping badan menempel sempurna.
Tiba-tiba ponsel Lyn berdering, membuat suasana hangat yang tercipta menjadi buyar. Lyn membelalak menatap panggilan masuk. Amina.
Duh, apa yang akan dikatakan oleh Amina? Apakah mamanya akan segera pulang? Perasaan Lyn jadi tak karuan mendapat telepon dari mamanya, takut akan ada bencana jika mamanya pulang dan mengetahui pernikahannya dengan Luth.
"Maaf, teleponnya mengganggu. Lyn angkat telepon dulu ya, Bu!" ucap Lyn dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Alisha.
__ADS_1
Lyn beranjak meninggalkan kursi, menuju ke ruangan lain dan segera menjawab telepon.
BERSAMBUNG