DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Emosi


__ADS_3

Dalam keadaan gemuruh dada yang dipenuhi emosi, Luth menarik nafas dalam-dalam berusaha menguasai emosinya. Nafasnya tersengal. Setelah rasa panas di dadanya sedikit reda, Luth pun kembali menatap ke ponselnya. Ia menggulir kontak ke nama Khadijja. Kakaknya itu juga harus tahu kondisi terkini Alisha.


“Halo!” sapa Khadijja di seberang.


“Mbak Dijja, ibu sakit keras karena batu ginjal, sudah parah dan harus segera dioperasi. Kemarilah! Temui ibu di rumah sakit. Ibu butuh mbak,” jelas Luth.


“Sakit? Kok, bisa sakit parah begitu? Bukankah selama ini ibu sehat-sehat aja?”


“Justru itu ibu menyembunyikan hal ini dari kita semua.”


“Kita? Luth, kamu selama ini yang tinggal serumah sama ibu, loh. Kok bisa kamu nggak tau keadaan ibu, dan baru tahu sekarang disaat kondisi ibu udah sakit parah. Gimana sih kamu ini?” Nada suara Khadijja sangat tinggi.

__ADS_1


Lagi, Luth menarik nafas dalam-dalam. Tanggapan Khadijja benar-benar jauh dari ekspektasi. Luth mengira kalau anak permpuan ibunya itu akan prihatin karena merasakan sama-sama wanita. Tapi kenyataannya apa?


“Tolong, Mbak! Jangan malah mengajak aku berdebat. Ini bukan saat yang tepat. Tujuanku menelepon adalah untuk memberitahukanmu kalau ibu sakit.”


“Ya udah, titip salam buat ibu. Aku nggak bisa jengukin ibu kesitu.”


Lagi-lagi kekesalan batin Luth kian memuncak. “Baiklah, kalau begitu tolong kirim uang untuk bantu operasi ibu. Aku sama sekali nggak punya uang, Mbak. Bantulah ibu!”


“Luth, kamu ini gimana sih? Mabk ini anak perempuan, mbak nggak ada tanggungjawab apa pun soal ibu. Mbak ini Cuma mengandalkan hidup dari gaji suami. Mana mungkin Mbak minta uang suami untuk ibu, kan?”


“Loh, kok kamu malah menuntut Mbak sih? Mbak nggak punya kewajiban apa-apa ya soal ini.”

__ADS_1


“Wajib, Mbak. Yang sakit ini ibunya mbak, orang yang melahirkan mbak. Bahkan tanpa beliau, mbak pun nggak aka nada di dunia ini. selagi mbak mampu dan memiliki harta lebih, apakah dibenarkan kalau mbak simpan harta mbak itu sedangkan ibunya mbak sedang sakit keras dan membutuhkan uang untuk biaya pengobatan? Itu sama aja Mbak membiarkan ibu sekarat.”


“Kamu jangan jadikan Mbak sebagai sasaran ya! Kenapa bawa-bawa mbak sih? Kapan Mbak majunya kalau dikit-dikit dimintain begini. Minta uang sama Mas Hud sana! Mas Hud kan anak sulung laki-laki, dia dan juga kamu yang punya kewajiban dalam hal ini. Ya udahlah, Mbak nggak mau berdebat berkepanjangan.”


“Oke, kalau Mbak nggak mau pinjemin uang, minimal datanglah kemari nemenin ibu supaya aku bisamencari pinjaman uang entah kemana. Kalau aku tinggalin ibu, maka aku nggak bisa cari uang pinjaman.”


“Loh, kan ada Lyn. Apa gunanya istri kamu itu kalau apa-apa mesti aku juga yang direpotin?” kesal Khadijja.


“Mbak itu kan ibu rumah tangga, Mbak memiliki banyak waktu luang. Sedangkan Lyn itu kuliah, dia juga sedang ujian. Kasihani dia! Apakah nggak ada sedikit pun keinginan Mbak untuk menjenguk ibu? Kemarilah dan bantu jagain ibu!” pinta Luth dengan gigi menggemeletuk. Jika saja Khadijja itu adalah adiknya, maka ia sudah memaki wanita itu. sayangnya Khadijja adalah kakaknya, lebih tua darinya, rasanya kepalanya dipenuhi dengan batasan kata supaya tidak bertindak lebih.


“Iya, nanti Mbak kesitu. Ya udah.” Khadijja memutus sambungan telepon.

__ADS_1


Benarkah Khadijja akan datang? Entahlah, Luth tidak yakin kalau Khadijja akan datang.


TBC


__ADS_2