
"Luth, kamu ngapain di sini?" Lyn kikuk sekali. Tangannya sibuk mencari sesuatu untuk bisa menutupi bagian tubuhnya yang polos, namun sial ia tidak mendapati apa pun untuk menyelamatkan dadanya dari penglihatan Luth. Apakah salah jika Luth menikmati sesuatu yang sudah halal?
"Hei, aku pikir kamu udah tidur, rupanya masih bugar. Ngapain aja dari tadi kenapa baru selesai mandi sekarang?" tanya Luth tanpa menghiraukan pertanyaan Lyn.
Seketika kulit tubuh Lyn meremang, kakinya gemetar saat melihat Luth berjalan ke arahnya. Pria ini mau ngapain? Ya elah, kenapa Lyn malah segugup dan setakut ini saat didekati suami di kamar yang hanya berdua saja dengan tubuh yang hanya dililit handuk? Ini halal, Lyn.
"Itu ngapain?" tanya Luth sambil menunjuk kedua tangan Lyn yang menyilang di dada.
Lyn semakin bingung dan gugup. Mukanya memucat. Seumur hidup, ia tidak pernah di posisi seperti sekarang ini. Dengan tubuh yang hanya dililit handuk dan diperhatikan oleh Luth.
"Kamu ngapain ngeliatin aku begitu? Sana!" Lyn memutar tubuh Luth supaya membelakanginya.
Pria itu mengulum senyum tanpa melakukan penolakan. Menurut saja saat tubuhnya diputar dan kini membelakangi Lyn.
Kini, Lyn hanya bisa menatap punggung besar Luth.
"Bagaimana caranya kamu bisa masuk kamarku? Lewat mana? Lewat depan? Kalau ketemu mama gimana? Jangan nekat!" gemas Lyn geregetan.
"Salah sendiri nyediain rak pot bunga di teras dekat balkon kamarmu, aku kan jadi gampang manjat ke sini," jawab Luth sambil menyilangkan tangan di dada.
Oh... Lyn menepuk keningnya sendiri. Ia baru ingat ada rak pot bunga terbuat dari besi yang tentu saja bisa digunakan untuk Luth memanjat dan menghubungkannya langsung ke balkon tanpa harus bersusah payah. Apa lagi rak tersebut kokoh dan tinggi. Mudah saja bagi Luth memanjatnya.
"Ya udah, pakai baju sana!" Luth hendak memutar tubuhnya, namun lagi-lagi tangan Lyn menahan tubuh Luth supaya tetap bertahan pada posisinya.
"Jangan menoleh ke sini. Aku mau pakai baju dulu," ucap Lyn dengan muka memanas.
"Hm."
Lyn buru-buru mengambil pakaian di lemari, lalu mengenakannya dengan perasaan was-was sambil sesekali melirik ke arah Luth, takut pria itu akan mencuri pandang ke arahnya. Kan malu. Sungguh, masih terasa malu sekali.
__ADS_1
"Udah selesai," lapor Lyn sambil berjalan menuju ke hadapan Luth. Ia tampak natural tanpa polesan make up, wajahnya bersih dan menggemaskan.
"Oh. Ya udah sini." Luth duduk di sisi ranjang. Pria itu mengambil bantal dan mendekatkannya ke tubuhnya, lalu merebahkan kepalanya di bantal itu.
Melihat hal itu, Lyn mengernyit heran. "Kamu mau tidur di sini?"
"Iya." Luth santai sekali.
Dalam hati, Lyn bersorak senang. Jantung pun deg-degan. Ingi menjingkrak dan berteriak hore, tapi ia tahan. Ia lalu naik ke atas kasur dengan senyum yang disembunyikan. Cepat-cepat ia menyelinap masuk ke dalam selimut, berbaring di sisi Luth setelah mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.
Suasana berubah menjadi remang-remang, sorot lampu dari luar membuat penerangan sedikit jelas.
Lyn menelan saat merasakan kasur di sebelahnya bergerak, kemudian pria di sisinya itu menggeser tidurnya mendekati Lyn dan berbaring miring menghadap ke arah gadis itu dengan kepala ditopang satu tangan.
Lyn menoleh, menatap Luth yang wajahnya sangat dekat dengan wajahnya. Haduh, kenapa segugup ini?
"Lyn!" panggil Luth seperti tanpa beban, berbeda halnya dengan Lyn yang malah seperti diuber setan.
"Kamu belum ngantuk?"
"Udah." Lyn langsung memejamkan mata.
Melihat Lyn terpejam, Luth pun meletakkan kepalanya ke bantal, berbaring menelentang.
Sial! Luth mengutuki dirinya sendiri. Seharusnya ia tadi memulai segalanya, tapi kenapa malah mundur saat Lyn memejamkan mata. Ia sudah mengumpulkan niat dan keberanian tadi, dan itulah tujuannya mendatangi kamar Lyn, tapi bagaimana mungkin sekarang ia malah ikut berbaring? Konyol. Kenapa sesulit ini hanya untuk memulai hubungan yang halal?
Baiklah, Luth kembali mengumpulkan nyali, ia mendekati Lyn lagi, posisi tubuhnya miring menghadap gadis itu. Jika tidak dimulai, maka semuanya tidak akan pernah terjadi. Dia adalah laki- laki, mustahil menunggu Lyn yang memulai.
Untungnya Lyn tidak tahu kalau sebenarnya Luth merasakan kegilaan yang bisa membuatnya demam setiap kali ingin menyalurkan hasratnya.
__ADS_1
"Lyn!" panggil Luth setengah berbisik.
"Ya?" Lyn kembali membuka mata, menatap Luth yang lagi-lagi ada di dekat wajahnya.
"Kamu beneran udah ngantuk?"
Hayaah.... Kenapa malah kalimat itu yang melontar keluar dari mulut Luth? Akhirnya ribuan kata makian bertabur di benaknya. Seharusnya ia bertanya, apakah Lyn bisa disentuh? Itu yang seharusnya keluar dari mulutnya. Siapa tau Lyn sedang datang bulan, Luth tentu harus minta ijin dulu, dari pada malu karena ditolak saat permainan sudah setengah jalan.
"Udah," jawab Lyn. "Kenapa?"
"Ya sudah, tidurlah. Kalau belum ngantuk aku mau ajakin makan dulu," sahut Luth yang lagi-lagi ingin menaboki mulutnya setelah itu. Kenapa canggung sekali saat akan memulai? Padahal ia sudah mengumpulkan nyali sejak tadi. Kemana perginya keberaniannya itu?
"Kita kan udah makan tadi," bisik Lyn.
Nah kan, keliatan begonya kalau sudah begini. Luth mengulum senyum menyadari kekonyolannya. Jelas jelas mereka sudah makan bersama tadi, malah sekarang ngajakin makan lagi. Aneh.
"Kalau begitu, aku ke kamar kecil dulu."
Ya ampun, seharusnya bukan kalimat itu yang Luth katakan. Namun apa boleh buat, ia terpaksa mengikuti ucapannya tadi, turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
Tidak ada yang dilakukan Luth di kamar mandi kecuali merapal doa, menatap wajahnya di pantulan cermin sambil mengepalkan tinju dan mengarahkan ke wajahnya sendiri di cermin.
Setelah lama berkutat dengan kegiatannya yang menyebalkan itu, ia akhirnya keluar dari kamar mandi dengan pasrah, tak ingin melanjutkan niatnya itu, lebih baik menunda lain kali saja saat nyalinya sudah benar-benar terkumpul.
Nahas, kakinya tersandung sendal milik Lyn yang tergeletak sembarangan di lantai dekat ranjang. Dan...
Bruk! Tubuh Luth mendarat sempurna di atas tubuh Lyn sesaat setelah terhuyung dan ambruk.
Bersambung
__ADS_1
🤗🤗🤗