
Lyn yang baru menginjak tepi taman, menoleh ke arah Luth.
Yang ditoleh menatap Lyn. "Lyn, kamu hanya perlu bicara sesuatu yang kamu anggap perlu ditanyakan, supaya kamu bisa putuskan, bersedia merawat anak itu atau enggak. Jangan tegang begitu."
Lyn tersenyum mengubah ekspresinya supaya rileks. "Aku cuma bingung aja, takut nanti akan menyinggung Afiqa saat aku mengajukan pertanyaan."
"Percayalah, Afiqa nggak akan tersinggung. Pertanyaanmu pasti baik-baik. Beberapa hari terakhir, Afiqa memohon kepadaku supaya aku bisa mengambil anaknya dengan banyak alasan yang dia kemukakan. Tapi aku nggak bisa menjawabnya. Ya, aku belum menjawabnya. Seperti yang aku katakan, keputusan ini nggak bisa aku putuskan sendiri karena ini melibatkan kamu, dan kamulah yang lebih berhak memutuskan, bukan aku."
"Aku tau." Lyn tersenyum.
"Kalau aku ditanya apakah aku mau menerima bayi itu, maka aku jawab mau, tapi semuanya tetap kembali kepadamu, kalau kamu nggak bisa menerimanya, maka bayi itu nggak bisa aku ambil. Inilah gunanya aku membicarakannya denganmu, karena aku nggak akan mengambil keputusan sendiri. Makanya aku nggak mau memberi jawaban pada Afiqa meski dia terus memohon." Luth berbicara panjang lebar.
Lyn lega sekali mendengar Luth berkata dengan sangat bijaksana, bahwa keputusan dalam semua hal, selalu bertumpu pada dirinya. Baik mengenai waktu untuk mengungkap rahasia pernikahan pada Amina, juga mengenai bayi Afiqa.
Sebenarnya urusan bayi ini tidaklah membuat situasi menjadi sulit, sebab jika Lyn mau, dia tinggal bilang tidak mau merawat bayi itu. Tapi sekarang Lyn sedang diuji, bukan diuji oleh manusia, melainkan diuji oleh Yang Maha Melihat. Ia dihadapkan pada pilihan itu, untuk menguji imannya, apakah ia akan peduli pada si bayi yabg dia ketahui dalam kesulitan, ataukah tak mau peduli?
Ada rasa tidak nyaman dan keresahan tersendiri dalam diri Lyn saat harus pura pura tak mau tau, atau tak mau peduli pada kisah pahit yang ia ketahui.
"Ya udah, aku mau ngomong sama Afiqa," ucap Lyn tenang. Ia melangkah mendekati Afiqa, ditemani oleh Luth.
"Siang, Fiqa!" sapa Lyn.
Afiqa sontak mendongak, menganggukkan kepala menatap Lyn di hadapannya. Ia menggeser duduk, memberi tempat untuk Lyn duduk di sisinya.
Melihat hal itu, Lyn pun duduk di sisi Afiqa, sedangkan Luth berdiri saja. Tidak ada kursi lain di dekat sana.
__ADS_1
"Fiqa, maaf aku meminta waktumu. Luth pasti udah mengatakan alasan apa yang membuat kita bertemu di sini," ucap Lyn.
Afiqa tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan getir yang ia rasakan.
"Lyn, maaf aku selama ini sering berkomunikasi dengan Luth, aku tau dia suamimu, seharusnya aku nggak boleh melakukan ini karena aku tau nggak baik bagiku berhubungan meski hanya via chat dengan suami orang, tapi apa yang bisa kulakukan selain itu? Aku nggak punya teman dekat, atau siapa pun yang bisa aku percaya selain Luth," ucap Afiqa menunduk. "Tapi aku janji, setelah ini aku nggak akan menghubungi Luth lagi."
"Baik," jawab Lyn.
"Afiqa, aku dan Lyn baru aja menikah, bahkan tanpa restu mamanya Lyn," sahut Luth. "Pernikahan kami sampai detik ini masih dalam rahasia yang tidak diketahui mamanya Lyn. Ada banyak hal yang perlu kami pertimbangkan. Dan... Dalam hal ini, Lyn adalah satu-satunya orang yang berhak memberi keputusan. Oleh sebab itu aku membawanya untuk bertemu denganmu."
"Ya, aku ngerti," jawab Afiqa.
"Setelah ini, kamu boleh berkomunikasi dengan Lyn, bukan denganku. oke?" sambung Luth.
Afiqa menatap Lyn. "Lyn, aku memang orang asing di matamu. Aku bukan siapa-siapa, tapi kuharap kamu bisa memahami kondosiku. Apa kamu mau mengambil anakku ini?"
"Apa kamu beranggapan kalau kamu belum berpengalaman mengurus bayi?"
"Semua wanita awalnya nggak berpengalaman dalam hal mengurus bayi. Jadi itu bukan alasan. Aku butuh waktu untuk mempertimbangkannya, kamu masih punya waktu untuk menunggu kan? Secepatnya aku akan memberikan jawaban."
"Baiklah."
"Seenggaknya, kamu tahu resiko buruk yang harus kamu hadapi saat kamu melakukannya dengan pria yang seharusnya menjadi ayahnya kan?" ucap Lyn enggan.
"Aku menyesal, Lyn. Sungguh aku menyesal. Seharusnya aku nggak sebodoh ini, melakukan dengan pria yang sudah beristri." Afiqa mengusap air mata yang merembes di pipinya.
__ADS_1
"Jika kelak aku memutuskan untuk bersedia menerima bayi itu, kamu mau kan mengatakan siapa ayahnya? Sebab bayi itu akan memiliki mahrom dengan anak-anak dari ayah kandungnya. Maka udah sepatutnya aku yang mengurusnya, mengetahui siapa ayahnya supaya anak itu kelak akan terhindar dari pernikahan sedarah. Kamu nggak perlu mengatakannya sekarang, kamu boleh mengatakannya saat aku udah bisa mengambil keputusan."
Afiqa tampak gugup, namun kemudian ia mengangguk meski tampak terpaksa. Ia tidak memiliki pilihan lain.
"Baiklah, aku rasa nggak ada lagi yang perlu dibicarakan. Nomer ponselku ada sama Luth, nanti biar Luth share ke kamu ya. Ya udah, aku pergi dulu." Lyn bangkit berdiri, melangkah meninggalkan taman diikuti oleh Luth.
Hari itu Luth langsung membawa Lyn makan siang di warung makan, tak masalah sesekali menghabiskan uang untuk menyenangkan istri. Luth mengalihkan pembicaraan saat Lyn membahas mengenai Afiqa di meja makan, Luth tak mau membicarakan hal lain selain membahas mereka berdua saja. Sulit baginya mencari waktu untuk berbagi cerita dengan Lyn. Bagaimana mungkin ia membiarkan Lyn membahas perkara lain selain mereka.
Setelah makan, Luth mengajak Lyn pulang. Luth sengaja menurunkan Lyn di depan rumah, sama halnya seperti dulu yang sering ia lakukan.
"Kenapa diturunin di depan rumah?" tanya Lyn dengan raut cemas.
"Tenang aja, dulu kita juga sering boncengan naik motor kan? Itu nggak masalah sama mamamu. Santai aja, anggap seperti dulu," ucap Luth dengan alis terangkat santai.
Lyn pun segera meraih handle.
"Tunggu!" ucap Luth membuat Lyn kembali menoleh.
Gadis itu menatap Luth dengan ekspresi polosnya.
Luth mendekatkan tubuhnya ke arah Lyn.
Seketika tubuh Lyn membeku di tempat saat merasakan kecupan hangat yang mendarat di pipinya.
Srrrrr... Darah di tubuh Lyn rasanya berdesir.
__ADS_1
Bersambung