
"Ya udah, turun! Nunggu apa lagi? Mau dicium sekali lagi?" tanya Luth yang melihat Lyn malah terbengong seperti tak ingin turun dari mobil.
"Apaan sih?" Muka Lyn memanas seketika. Bisa-bisanya Luth berkata seperti itu. Lyn malu sekali jadinya. Dalam hati ia mengutuki dirinya sendiri yang tak lekas turun setelah Luth menciumnya, jadinya Luth beranggapan kalau ia menunggu ciuman yang kedua. Sebenarnya iya juga sih.
"Ya udah aku turun," ucap Lyn sambil mengarahkan tangannya kepada Luth.
Melihat Juluran tangan sang istri, Luth pun menyambut dan menyalaminya. Kecupan singkat di punggung tangan Luth melalui bibir Lyn pun terasa dingin sekali.
Lyn bergegas turun dari mobil, berlari kecil memasuki halaman rumahnya, menaiki teras.
"Hah?" kejut Lyn yang melihat sosok berdiri di teras. "Mama?" Jantung Lyn deg-degan, mukanya gugup seketika itu juga. Apakah mamanya melihatnya turun dari mobil Luth?
"Kamu pulang barengan sama Luth?" tanya Amina sambil mengawasi mobil Luth yang memasuki garasi rumah sebelah.
"I iya." Lyn menganggukkan kepala masih dengan jantung ketar ketir. Padahal dulu ia terbiasa disaksikan oleh mamanya berboncengan motor dengan Luth, tapi kali ini ia merasa takut sekali, takut ketahuan hubungan yang sesungguhnya.
"Jangan sering-sering barengan sama dia, nanti dia modus sama kamu," ucap Amina yang langsung diangguki oleh Lyn. "O ya, bentar lagi kan mama ulang tahun, mama mau order kue raksasa. Kamu bantuin mama handle acara ulang tahun mama ya."
"Idih Mama, udah tua juga masih ngebet pakai acara ulang tahun ulang tahunan segala," celetuk Lyn membuat Amina langsung melotot.
"Heh, ulang tahun itu penting, mengingat hari lahir. Lagi pula mama mau juga dong hadiah dari papamu."
Rasanya Amina memang haus dengan segala bentuk kesenangan barang barang elit, sekarang pun ia bersemangat sekali mengharapkan kado spesial dari sang suami. Jiwa muda wanita itu belum berkurang sama sekali.
"Mama mau bikin acara besar-besaran?" tanya Lyn sambil melangkah masuk ke rumah.
Amina mengikuti Lyn. "Enggaklah. Cuma keluarga sama saudara saudara, dan tetangga aja. Itung itung ngajakin makan bersamalah. Kakak kakakmu dari kemarin udah sibuk menelepon mama buat nanyain mama minta kado ulang tahun apa."
__ADS_1
"Oh, berarti Luth dan Bu alisha diundang juga kan, Ma?" tanya Lyn berhati-hati, setelah melontarkan pertanyaan itu, ia langsung menggigit bibir bawah, dahi mengernyit. Punggungnya meremang menunggu jawaban sang mama yang ada di belakangnya.
"Ya iyalah. Dia itu kan tetangga dekat kita," jawab Amina.
Lyn langsung menghela nafas lega. "Oke, mama. Lun akan bantuin mengurus acara itu." Lyn tersenyum girang sambil berlari kecil menaiki anak tangga.
Senyumnya mengembang saat menutup pintu kamar. Tasnya dilempar ke atas kasur, menyusul tubuhnya yang juga dilempar ke kasur.
Setelah beberapa tahun Luth tidak menginjak rumahnya, kini pria itu akan kembali menginjak rumahnya lagi. Terakhir kali Luth memasuki rumahnya adalah saat acara pernikahan kakaknya.
Hari ulang tahun Amina hanya tinggal menghitung hari saja, Lyn sudah tidak sabar ingin merayakannya bersama dengan suami tercinta.
Malam itu, Lyn tidak ikut makan bersama di meja makan dengan kedua orang tuanya. Ia sengaja menghindari kebersamaan di rumahnya supaya saat ia sering menghilang, Amina tidak akan mencurigainya. Lyn memilih makan bersama di rumah Luth, bersama dengan Alisha dan juga suaminya. Setelah itu, Lyn kembali ke rumahnya untuk mengerjakan tugas kuliah di meja belajar. Sesekali berbalas chat dengan suaminya, selalu terbit senyum khas di wajahnya setiap kali ia menerima chat dari Luth.
Tidak ada hal penting yang mereka bahas dalam chat, hanya candaan semata. Namun hal itu membuat Lyn selalu tertawa.
Lyn menoleh, tersenyum tipis, kepalanya mengangguk sambil menjauhkan ponsel dari bukunya. Lalu pandangannya kini fokus ke arah buku dan kembali menulis.
Nuh masuk, menarik kursi dan mendekatkannya ke meja Lyn.
"Lyn, kita tidak bisa berlama-lama merahasiakan pernikahanmu dengan Luth dari mamamu," ucap Nuh.
Lyn menghentikan gerakan tangannya yang sedang menulis, kepalanya terangkat dan menatap wajah papanya. "Maksud papa, papa mau mengatakannya ke mama?" raut wajah Lyn memucat.
"Cepat atau lambat, mamamu akan mengetahui hal ini. Jadi, papa dan Bu Alisha sepakat untuk menghadap kepada mamamu dan membicarakan hal ini baik-baik. Semuanya sudah terjadi, mamamu pasti juga bisa memahami."
Lyn terkesiap. Ia benar-benar belum siap untuk terbuka dengan mamanya. Ia takut tidak bisa menumpang mobil Luth lagi, ia takut tidak memiliki kesempatan untuk memeluk Luth, juga kan mereka belum sempat eya eya. Eh? Kok mikirnya sampai ke situ? Malu sama cicak.
__ADS_1
Intinya, Lyn takut tidak bisa menghabiskan waktu bersama dengan Luth jika kemungkinan buruk terjadi pada pernikahannya. Setidaknya, ia sudah melewati masa indah bersama suami saat yang ia takuti terjadi.
"Lyn nggak yakin mama akan bisa mengerti, mama kan nggak suka sama Luth," ucap Lyn.
"Lalu? Maumu bagaimana?" tanya Nuh lembut.
"Lyn belum siap. Tunggu beberapa saat lagi ya, Pa. Sekarang biarkan semua ini berjalan seperti ini."
Nuh berpikir. Kemudian mengangguk. "Kamu yakin nggak apa-apa sembunyi sembunyi begini?"
"Untuk sementara biarkan begini aja dulu."
"Baiklah. Bicarakan kepada papa kalau kamu sudah merasa siap." Nuh mengusap pucuk kepala putrinya. Kemudian melenggang pergi.
Sepeninggalan Nuh, Lyn kembali meraih ponselnya. Membaca beberapa chat dari Luth yang masuk dan belum sempat dibaca. Ia tersenyum membaca chat dari Luth meski hanya sebatas mengucapkan selamat tidur. Rasanya nyes nyesan di dada.
Lyn menghambur ke kamar mandi seusai membereskan meja belajar. Sejak pulang dari taman, ia belum mandi. Rasanya gerah.
Seusai mandi, Lyn keluar dengan lilitan handuk di tubuhnya. Wajahnya berseri-seri. Rambutnya basah, keramas.
Ia langsung menuju ke lemari untuk mengambil pakaian.
"Hah?" Lyn terkejut saat menghadap cermin di pintu lemarinya, ia melihat sosok pria yang duduk di sisi kasur melalui pantulan di cermin. Luth.
Bersambung
Jangan lupa klik like. 🤗🤗🤗
__ADS_1