
Lyn kini beranjak ke rumah satunya lagi, tak lain rumah Hud.
Dengan sebongkah harapan, Lyn mendatangi rumah Hud, mungkin dengan bertemu secara langsung, pintu hati Hud akan lebih terketuk saat mendengar kondisi Alisha. Ia tadi sempat mendengar perbincangan antara Luth dan Hud via telepon. Suara Hud meski sayup sayup namun cukup jelas terdengar di telinga Lyn. Hud tidak bersedia menjenguk apa lagi memberikan uang untuk Alisha. Tapi Lyn tidak berputus asa, ia ingin mendapatkan hak Alisha yang dititipkan Tuhan melalui Hud.
Saat ini Hud sedang diuji dengan harta yang cukup, dan di sana ada sebagian hak milik Alisha, Lyn ingin mengambil hak Alisha dan memberikannya kepada yang berhak. Jika saja Lyn memiliki uang cukup, ia tidak akan mungkin sampai berbuat senekat ini, mendatangi rumah Hud. Penderitaan Alisha, rasanya justru menjadi luka bagi Lyn hingga akhirnya ia pun berjuang mencari keadilan untuk sang ibu.
Ya, Lyn hanya seorang menantu, tapi hatinya lembut seperri oapas, yang akan langsung terluka saat melihat Alisha dilukai.
Lyn sudah menginjak lantai teras rumah Hud, rumah cukup besar yang tergolong mewah.
Lyn memencet bel rumah. Tak lama seorang wanita paruh baya membukakan pintu. Senyum lebar terbit di wajah wanita berpakaian sederhana khas Jawa itu.
"Bibik ini siapa?" tanya Lyn yang tidak mengenali wanita itu. Setahunya, Hud hanya tinggal berdua dengan istrinya.
__ADS_1
"Saya asisten rumah tangga di sini. Baru dua minggu kerja di sini," tukas si bibik ramah tamah.
Waw… Hud dengan kehidupannya yang serba berkecukupan, bahkan kini istrinya diberi kebahagiaan dengan segala kemudahan di rumah tanpa harus memasak karena adanya pembantu, tapi ibu kandungnya sendiri tidak pernah dinafkahi. Miris.
"Bik, Mas Hud ada?" tanya Lyn. "Aku adik iparnya, mau ada perlu sama Mas Hud."
"Oh… Ada di dalam. Kebetulan belum berangkat kerja, katanya masuk kerja agak siangan. Palingan sebentar lagi mau berangkat. Tunggu, bibik panggilin dulu ya." Wanita oaruh baya menghilang memasuki ruangan lain.
Lyn menunggu dengan cemas. Berharap tidak bertemu dengan Yesa, sebab ia tahu apa yang akan terjadi jika ia bertemu dengan wanita itu.
"Kak Yesa, aku mau ketemu Mas Hud," jawab Lyn.
“Loh, bukannya kamu seharusnya ada di rumah sakit ya? kok, kesini?” tanya Yesa dengan dahi bertaut.
__ADS_1
Sebelum sempat Lyn menjawab, ia menatap ke arah Hud yang kebetulan menyembul keluar dari ruangan lain dengan penampilan khas ala kantoran.
“Lyn, ibu gimana?” tanya Hud menghampiri Lyn. “Operasinya udah berjalan?”
Ya allah… Bagaimana bisa dengan entengnya Hud bertanya operasi sudah berjalan atau belum. Memangnya dari mana uang operasi didapatkan?
“Ibu masih belum dioperasi. Aku ke sini untuk minta bantuan Mas Hud,” ucap Lyn tegas. “Tolong bantu supaya ibu bisa secepatnya dioperasi, Mas. Kasihan ibu. Ibu kritis. Ibu sudah sakit parah. Mas Hud pasti memiliki rasa iba untuk bisa membantu ibu.”
“Bantuan apa?” sergah Yesa dengan lantang. “Uang Mas Hud yang dipakai ibu sebanyak empat juta aja sampai sekarang belum dibalikin. Gimana mungkin ibu mau pakai uang Mas Hud lagi?”
Allahu Akbar… masih sangat jelas di inagtan Lyn kalau dulu Hud pernah memberikan uang empat juta untuk Alisha, tapi itu bukan sebagai uang pinjaman, melainkan dalam bentuk nafkah.
Sayangnya sang istri yang julid dan durhaka ini meminta uang yang sudah diberikan itu supaya dikembalikan. Betapa miskinnya iman wanita itu. sampai-sampai rela menjilat air liur sendiri. barang yang sudah diberikan, minta dibalikin. Lagi pula itu adalah uang milik Hud, bukan miliknya. Lalu kenapa dia seheboh itu minta supaya uang dikembalikan?
__ADS_1
TBC