
Acara sudah usai, Lyn pun telah selesai membereskan rumah dibantu oleh kakak-kakak iparnya, juga asisten rumah tangga.
Sepeninggalan kakak-kakaknya, Lyn pun memasuki kamar. Ia meraih ponsel dan menelepon Luth.
"Ada apa? Baru tadi kamu nelepon, ini udah nelepon lagi. Nggak bisa ditunda kangennya?" tanya Luth Ge Er.
Lyn terkekeh gemas. "Aku mau ketemu sama kamu. Ada yang mau aku omongin."
"Ya udah, ngomong sekarang aja. Kenapa harus ketemu segala?"
"Boleh nih ngomong lewat telepon?"
"Hm. Ya udah, bicaralah!"
"Aku udah putuskan kalau aku bersedia mengambil calon bayinya Afiqa," jawab Lyn. Ia sudah memikirkan hal itu matang-matang, dan keputusannya pun sudah bulat. Bahwa calon bayi Afiqa akan dia rawat di rumah Alisha bersama dengan pembantu. Nanti dia akan mencari seseorang untuk turut merawat bayi itu. Begitu pikirnya.
"Kamu yakin?" tanya Luth. "Kalau sekiranya nggak yakin, jangan dipaksain. Ini bukan hal mudah."
"Aku yakin. Semoga aja keputusanku ini membawa berkah. Ya udah, itu aja sih. Dadaaah." Lyn menutup sambungan telepon saat mendengar suara Amina memanggilnya di lantai bawah.
Cepat-cepat Lyn menemui ibunya.
"Kamu bagiin kue ulang tahunnya ke tetangga gig!" titah Amina yang kabgsung dipatuhi oleh Lyn.
Lyn mendorong meja kue ke belakang, sekarang giliran Lyn yang memerintah asisten rumah tangga untuk memotong kue dan membagikannya ke rumah para tetangga.
Sedangkan kue khusus untuk tetangga idola, dibawa oleh Lyn sendiri. Ia menuju ke rumah sebelah yang hanya beberapa langkah saja membawa kue.
__ADS_1
Melalui pintu dapur, Lyn masuk dan meletakkan kue ke meja makan. Setelah itu, tentu ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan Luth. Ia langsung menuju ke ruangan depan, ia mendapati Luth tengah berbaring di sofa, Alisha duduk di hadapan putranya itu, mereka tampak sedang mengobrol. Lyn menghentikan langkah di balik pintu saat mendengar perbincangan Luth dan Alisha.
"Kenapa kamu pergi sebelum acara makan bersama dimulai, Luth?" tanya Alisha menatap putranya yang tampak sibuk pada ponselnya.
Nah ini adalah pertanyaan yang juga mengganjal di pikiran Lyn, tapi mungkin Luth tidak akan menjawab jika Lyn yang mengajukan pertanyaan itu. Alisha telah mewakili pertanyaan yang juga muncul di benak Lyn.
"Aku sedang ada urusan dengan Zul. Soal kerjaan, Bu. Aku sibuk via telepon, nggak enak juga kan kalau aku sibuk teleponan di meja makan," jawab Luth.
"Memangnya teleponnya nggak bisa ditunda ya?"
"Urgent, Bu. Soalnya penting."
"Oh." Alisha mengangguk.
"Lagi pula rasanya aku minder ada di tengah-tengah mereka. Apa lagi di dekat Mama Alisha, rasanya nggak nyaman."
"Minder? Kenapa harus minder? Dulu kamu sering kan keluar masuk rumah Alisha? Kamu nggak masalah, apa karena Alisha akhir akhir ini sering marah sama kamu dan ngelempar sapu ke kamu? Atau karena status kamu sekarang udah jadi suami putrinya?"
"Luth, bagi ibu, nggak ada istilah minder selagi itu adalah mengenai harta di hadapan manusia. Ingat, di hadapan Tuhan, kita ini sama. Yang membedakan adalah akhlak. Jadi kata minder itu hanya berlaku jika akhlak kita cacat di mata Tuhan. Tapi kalau urusan duniawi begini, jangan pernah merasa minder."
Luth bangkit duduk, menatap wajah ibunya. Jadi alasan ini yang membuat Alisha tampak santai dan tanpa beban berkumpul dengan Alisha di tengah kemewahan? Ya, semua yang dikatakan Alisha benar, minder di hadapan manusia hanya karena harta adalah salah besar, tapi tentu hal itu manusiawi kan?
Luth tersenyum tipis. Ia lalu melirik ke arah pintu saat melihat sekelebat bayangan, seperti ada orang lain di ambang pintu. Ia pun bangkit berdiri dan mengejar sosok itu.
Lyn yang buru-buru meninggalkan pintu pun mempercepat langkah supaya tidak ketahuan oleh Luth. Ia tidak mau Luth mengetahui keberadaannya karena takut pria itu rendah diri jika mengetahui dirinya mendengarkan perbincangan itu.
Lyn ngibrit melewati pagar pembatas antar rumah. Tepat saat kakinya menginjak rumput hijau taman belakang rumah, samping kolam renang, Lyn merasakan pergelangan tangannya dipegang oleh seseorang dari belakang.
__ADS_1
Lah, ini pasti Luth. Lyn ketahuan menguping tadi. Pelan, Lyn pun menoleh, tersenyum lebar saat mendapati Luth dengan muka datarnya itu di belakangnya.
"Kenapa kabur?" tanya Luth yang mulai ketus lagi.
"Enggak kabur. Cuma nggak jadi nimbrung ke rumahmu aja, salah? He heee...."
"Cengengesan lagi. Main kabur kayak maling aja. Nyolong apa kamu tadi? Nguping ya?"
Hiyah, ketahuan! Lyn hanya bisa nyengir.
"Nguping itu nggak bagus," ketus Luth.
"Maaf. Sebenernya nggak niat nguping. Nggak sengaja aja tadi kedengeran pembicaraan kami dan Ibu."
"Trus kabur?"
"Jangan marah, dong. Peace!" Lyn mengangkat dua jari mengharap perdamaian. Sayangnya muka Luth tetap saja ditekuk.
"Lain kali jangan nguping lagi, kalau sempat kedengaran pembicaraan orang, nggak usah kabur, jadi nggak kayak maling. Kamu itu salah, jadi harus dihukum!" tegas Luth serius membuat Lyn menelan dengan tercekat.
Luth gini amat hanya karena masalah sepele begitu, apa mungkin Luth merasa rendah diri beneran karena kepergok mengakui kalau dia minder berada di tengah-tengah keluarga Amina?
Lyn terkesiap, kaget saat tiba- tiba tubuhnya terhuyung maju setelah tangannya disentak dengan tarikan kuat oleh Luth, bibirnya merasakan sentuhan bibir Luth yang dingin.
Loh? Jadi ini hukuman dari Luth? Tubuh Lyn terasa kebas dan lemas, wajah Luth berada sangat dekat dengan wajahnya, sebagian wajah mereka bahkan menempel. Jantung pun berdetak kuat.
"Liiiiiiiiiiiin...."
__ADS_1
Jeritan keras itu bersumber dari arah pintu, membuat Lyn dan Luth sontak menjauhkan wajah mereka, seketika keduanya menoleh ke sumber suara. Amina sudah berdiri di pintu dengan wajah merah padam.
BWRSAMBUNG