
“Oweeekk… Oweeek…”
Suara tangisan Emran terdengar keras. Sepertinya sudah sejak tadi emran menangis. Sebab bocah itu sudah terlihat lelah.
Luh terkejut dan langsung membuka mata. Ia terjaga dari mimpi. Gegas Luth bangkit dari tidur dan meraih tubuh Emran yang tertidur di sisinya. Ia menimang tubuh si kecil.
Semalaman, Luth kurang tidur karena pulang dari rumah Hud sudah jam dua dini hari. Kemudian ia terjaga jam empat saat Emran menangis minta susu. Ia membuatkan susu untuk si kecil.
“Lyn!” panggil Luth sambil berjalan keluar.
Kemana Lyn? Kenapa tidak membangunkan Luth? kenapa tidak mengambil Meran? Sudah jam tujuh, Luth kesiangan.
Luth tidak menemukan Lyn sampai ke dapur. Bahkan di belakang rumah tempat penjemuran pakaian pun, Lyn tidak kelihatan. Justru Alisha yang terlihat sedang menjemur pakaian.
“Ada apa, Luth?” tanya Alisha melihat Luth yang berdiri di pintu dapur. “Sini, biar ibu gendong. Kamu bikinkan susu untuk anakmu!”
Luth mematuhi perkataan ibunya. Ia bergegas membuatkan susu untuk anaknya. Tak lama ia kembali dan memberikan botol susu kepada Alisha yang duduk di kursi taman belakang rumah, tak jauh dari jemuran pakaian. Sinar keemasan menyentuh kulit si bayi. Ia menyedot susu yang diberikan dengan lahap.
“Memangnya Lyn kemana? Kok ibu nggak melihat dia sejak pagi tadi? Biasanya dia duluan bangun pagi dan sibuk di dapur. Tapi ini nggak kelihatan. Apa belum bangun karena kelelahan?” tanya Alisha sambil menatap ke arah emran yang tampak kuat menyusu melalui botol dot.
Luth teresiap mendengar pertanyaan ibunya. Tumben Lyn tidak sibuk di pagi hari, bahkan tidak membangunkan Luth.
Satu hal yang baru Luth sadari, sejak malam tadi, ia pulang ke rumah jam dua dini hari, ia tidak melihat keberadaan Lyn. Lalu ia meletakkan tubuh Emran yang sudah tertidur di kasur. Jam empat pagi, saat Emran terjaga dan Luth membuatkan susu, Luth juga tidak melihat Lyn. Saat subuh, Luth shalat juga tidak melihat Lyn. Luth beranggapan bahwa Lyn ada di kamar mandi, atau sedang mengaji di kamar lain seperti biasa karena takut suaranya mengganggu Meran, sehingga ia tidak berpikir banyak hal mengenai itu. Lalu pagi ini… Lyn pun tidak kelihatan.
__ADS_1
Luth menghambur masuk ke dalam. Mencari keberadaan Lyn. Semua ruangan dia masuki, namun tetap saja ia tidak menemukan Lyn.
Luth terdiam di ruangan tamu. Menyadari bahwa Lyn tak ada di rumah. Entah kemana wanita itu.
“Luth, kenapa kamu kelihatan galau begitu?” Alisha muncul menggendong Emran.
“Lyn nggak ada di rumah,” lirih Luth.
“Maksud kamu?” Alisha masih belum bisa menangkap perkataan Luth.
“Lyn pergi.”
“Pergi bagaimana maksudmu?”
“Lyn pergi meninggalkan rumah,” jelas Luth.
Luth tak bisa menjawab. Ia pun tak mengerti harus berkata apa.
“Kenapa Lyn pergi?” tanya Alisha bingung. “Pergi kemana?
“Aku juga nggak tau.”
“Tapi apa yang membuat Lyn pergi? Kalian ada masalah?” selidik Alisha.
__ADS_1
“Lyn tidak mentaati perkataanku untuk tidak perlu mencari tambahan uang. Aku melarangnya menulis, sebab itu hanya akan melalaikannya dari tugasnya menjaga Emran. Dan benar, Emran terjatuh saat dia sibuk dengan urusan tulisannya itu,” jelas Luth.
“Lalu kamu marah padanya?” tanya Alisha.
“Istri yang tidak mentaati suami bukanlah istri yang pantas. Dia membangkang dariku!” Luth menyesali kejadian itu. Namun ia tetap mengungkapkan apa yang dia rasakan.
“Bukankah kamu bisa bicarakan ini baik- baik?”
“Sudah. Aku sudah bicarakan hal ini baik- baik sebelumnya, supaya dia jangan sibuk dan lalai gara- gara hape. Tapi dia melanggar ucapanku.”
“Astaghfirullah, Luth.” Alisha terduduk lemas.
“Bu!” Luth mendekati ibunya. “Ibu nggak apa- apa?”
“Ibu sedih. Kenapa Lyn harus mengalami ini. Dia pasti nggak akan pergi jika rasa sakit yang dia alami nggak parah. Mungkin rasa sakit itu sudah berat, sehingga dia memilih untuk pergi.”
“Ibu membela Lyn?” Luth kecewa.
“Apakah dari hasil menulis, Lyn mendapatkan penghasilan besar?” tanya Alisha.
“Aku dengar dari pembicaraannya begitu.”
“Berarti letak permasalahannya bukan pada kesibukan Lyn yang mengganggu rutinitasnya berbakti padamu, tapi masalahnya ada pada dirimu, yang merasa rendah diri saat istrimu memiliki segalanya. Kamu menuntut supaya Lyn menerima kamu apa adanya. Supaya dia menjalani kehidupan di garis kesederhanaan. Dan Lyn sudah membuktikan bahwa dia tulus, ikhlas dan ridha menerima keadaan itu. Tapi kenapa kamu tidak bisa memahami dia? Apakah masih belum cukup pengorbanan Lyn selama ini? Apakah semua itu masih kurang untukmu?” tanya Alisha dengan teduh.
__ADS_1
Luth terdiam, memejamkan mata sebentar, mengurut pelipisnya yang mulai terasa berdenyut.
Bersambung