DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Senang Atau Sedih?


__ADS_3

Aldeva menyerahkan amplop untuk Amina, isinya sejumlah uang yang nilainya mendebarkan. Ketebalannya saja sudah menjamin.


“Kamu juga kasih mama uang?” ucap Amina menatap Aldeva. “Kemarin kan kamu udah kirimin mama uang, ini uang lagi?”


“Yang kemarin kan beda, itu untuk keperluan mama belanja. Ini untuk hadiah ulang tahun mama. Soalnya aku nggak tahu selera mama yang kayak gimana, jadi mama belanja sendiri aja,” jawab Aldeva.


Istrinya Aldeva juga memberikan tas branded sebagai kado ulang tahun. Kebahagiaan jelas tercipta di keluarga Amina dan anak-anaknya.


Lyn juga menyerahkan kado berupa sepatu untuk Amina. Gadis itu terlihat sangat bahagia sekali. Tak lama Lyn mundur dari tempat dimana Amina berkumpul dengan keluarganya, pandangannya tertuju ke arah Alisha.


Lyn mengawasi wajah Alisha yang terus saja tersenyum, dengan tatapan mata Alisha yang terus tertuju ke arah amina dan anak-anaknya. Wanita paruh baya itu menyaksikan kemesraan yang tercipta di keluarga Amina.


Tidak ada ekspresi lain selain hanya senyuman di wajah tua itu. Entah apa yang diraskaan oleh Alisha saat menyaksikan ibu yang lain diperhatikan dan disayangi oleh anak-anaknya.


Suasana di keluarga Lyn tentu berbanding terbalik jika dibandingkan dnegan keluarga Alisha, dimana putra dan putri Alisha justru tampak lebih suka menjauh dari orang tua, mereka ingin hidup tanpa orang tua, tak ingin direpotin orang tua, bahkan tak ingin mengurangi sedikit pun harta mereka untuk seorang ibu.


Lalu, sekarang Alisha hanya bisa tersenyum saat menyaksikan pemandangan dimana para anak dan menantu terlihat sangat ingin memuliakan sang ibu, berlomba-lomba ingin membahagiakan ibu, berlomba memberikan yang terbaik untuk ibu.


Benarkah itu senyuman kebahagiaan yang mencuat dari hati? Ataukah justru itu adalah senyum yang mewakili situasi batinnya yang sedih?

__ADS_1


“Bu, mari ikut Lyn. Ibu mau makan apa?” tanya Lyn yang tak tahu harus tersenyum atau bersedih melihat senyuman mertuanya itu. sekilas Lyn melirik Luth yang sejak tadi terlihat tidak betah berada di sana.


“Ibu mau kasih bunga ini untuk mamamu,” jawab Alisha masih dnegan senyum yang terurai di wajahnya.


“Oh.. ya udah. Ibu bisa kasih sekarang ke mama,” jawab Lyn membimbing Alisha mendekati Amina.


Alisha menerima bunga itu dengan wajah sumringah. “Makasih, Jeng.”


Alisha tersenyum mengangguk. Syukurlah Amina menerima pemberiannya dnegan senang hati.


Sebenarnya bunga itu adalah pembelian Lyn, ia sangat paham dengan bunga kesukaan mamanya. Maka ia memilih bunga yang harganya juga tergolong wow untuk kado yang diberikan Alisha kepada Amina. Kemarin, Luth menanyakan kado apa yang pantas diberikan kepada Amina, lalu Lyn mengatakan supaya dia saja yang membeli kado untuk Amina dengan alasan bahwa ia lebih memahami apa saja kesukaan mamanya. Lyn menerima uang pemberian Luth untuk membeli bunga yang tentunya ditomboki oleh Lyn.


Perhatian anak-anak Amina membuat Alisha terharu. Wanita paruh baya itu sejak tadi hanya tersenyum saja.


Melihat itu, justru Lyn yang malah menjadi sedih.


Seluruh kursi sudah terisi, namun ada satu kursi yang kosong. Bukankah seharusnya semua kursi terisi? Lalu siapa yang belum duduk di sana? Pandangan Lyn mengedar, mencari Luth. Ya, pria itu menghilang entah kemana.


Lyn pun berdiri dan meninggalkan kursi. Ia mencari keberadaan Luth. namun ia tidak menemukan Luth di rumahnya, lalu dimana pria itu? Lyn akhirnya menelepon Luth.

__ADS_1


“Halo!” jawab Luth di seberang.


“Kok, pergi? Kamu belum makan bersama loh,” sahut Lyn.


“Kamu makan aja ya, aku ada urusan. Jagain mama!” ucap Luth.


“Kenapa nggak mau makan bareng?”


“Lihat kamu aja udah bikin aku kenyang. He heee…”


Lyn pun terkekeh. Bisa aja Luth menggombal. Namun Lyn menyadari alasan apa yang membuat Luth tak ingin makan bersama, tentunya Luth merasa tidak nyaman duduk satu meja bersama dengan mertua yang belum mengakuinya sebagai menantu.


Lyn kembali ke meja makan.


Acara makan bersama berlangsung, tanpa Luth.


Bagi Lyn, rasanya ada yang tidak lengkap saat makan bersama begini tanpa kehadiran Luth. Namun ia bisa memahami situasi hati Luth.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2