
“Mama, maafkan aku sudah hadir di kehidupan putrimu,” ucap Luth.
“Jangan meminta maaf, Luth. Kamu tidak salah. memang ini kesalahan mama. Mama seharusnya tidak memperlakukan kamu seperti ini. Semuanya sudah berlalu. Kalian harus saling menjaga.” Pandangan Amina kemudian beralih kepada Alisha. “Jeng, saya minta maaf selama ini sudah banyak salah.” Suara Amina terdengar lemah.
“Saya sudah memaafkan sebelum jeng minta maaf. Kita sama- sama memiliki kesalahan. Sekarang yang perlu dipikirkan adalah kesehatan Jeng Amina,” jawab Alisha begitu teduh.
“Mama jangan memikirkan banyak hal, cukup kesembuhan mama saja,” kata Lyn.
Amina tersenyum.
“Jadi, kapan Emran punya adik?” lirih Amina.
Lyn melirik ke arah Luth dengan muka merah merona.
Yang dilirik malah berdehem.
“Nanti pasti ada masanya,” jawab Luth enteng.
Hari itu menjadi hari bahagia bagi keluarga Lyn dan Luth. mereka kini sudah bisa berkomunikasi dengan baik dengan Amina.
Luth yang memiliki pekerjaan baik, tentu dnegan penghasilan yang fantastis pula, merenovasi rumah yang disulap menjadi gedongan.
Sedangkan Lyn semakin dikenal banyak orang, sering masuk berita seleb sebagai penulis produktif yang karyanya luar biasa. Kehidupan Lyn dan Luth kini berubah drastis.
Mudah saja bagi Tuhan mengangkat derajat manusia.
Hingga beberapa bulan berlaku, komunikasi mereka terjalin dengan baik.
***
__ADS_1
Beberapa kali Emran hendak terjatuh dan baby sitter dengan siaga menangkap tubuh gemuk itu.
Lyn senang sekali melihat pertumbuhan Emran yang kini semakin baik. Bocah itu sudah berusia sepuluh bulan sekarang. Ya, setelah beberapa bulan dilewati, akhirnya Emran tumbuh semakin lincah.
Di tangan Lyn, membawa segelas teh hangat. Ia menaruh gelas berisi teh itu ke meja hadapan Luth.
"Hei, makasih." Luth tersenyum dan langsung meraih gelas tersebut.
Lyn duduk di kursi depan suaminya.
"Lyn, Luth! Emran sudah mulai belajar jalan ya!" Suara yang baru datang membuat Lyn menoleh ke sumber suara.
Tampak Amina melangkah mendekat. Wanita yang kini tampak lebih bugar dan sehat itu tersenyum. Penampilannya sudah kembali seperti sedia kala, modis dan elegan ala ibu- ibu berkelas. Mudah sekali bagi Tuhan mengangkat penyakit bagi yang Dia kehendaki.
"Mama mau kemana? Rapi banget?" tanya Luth. Beberapa bulan terakhir, semenjak hubungan Luth, Lyn dan Amina membaik, Tuhan seperti memperlihatkan Kekuasaan- Nya dengan mengangkat penyakit Amina. Kesehatan Wanita itu mulai pulih, dan kini keadaannya pun semakin sehat.
"Mama mau ke salon. Mau krimbat. Kamu mau bawa istrimu ke salon juga nggak?" tanya Amina bersahabat. Dia benar- benar terlihat keibuan semenjak permintaan maafnya tempo waktu.
"Lain kali aja, Ma," sahut Lyn sebelum Luth menjawab.
"Bukan aku yang nggak mau anterin Lyn ke salon loh, Ma. Lyn sendiri yang nolak." Senyum Luth mengembang.
"Emang." Lyn mencubit kecil lengan suaminya.
"Ya sudah, mama pergi dulu ya. Itu supir udah nungguin. Mama ke sini cuma mau lihat kalian aja."
"Hati- hati, Ma," ucap Luth.
__ADS_1
Amina mengangguk kemudian melenggang pergi.
Luth menatap Lyn, memegang tangan istrinya. "Kamu hari ini ada jadwal apa?"
"Nggak ada. Kenapa? Mau ajakin aku dinner?" tanya Lyn pe de.
Luth terkekeh. "Enggak. Cuma ingin berduaan aja sama kamu di rumah."
Lyn tertawa kecil tanpa mau menanggapi.
“O ya Luth, aku mau bicara sesuatu yang penting sama kamu. Sebenernya ini udah lama ingin aku sampaikan ke kamu, tapi aku merasa belum tepat mengungkapkannya. Ada banyak masalah, banyak hal serius yang mesti kita hadapi sehingga membuatku menunda untuk membicarakan ini," ucap Lyn dengan enggan.
"Bicara apa?"
"Ini soal Emran."
Luth mengerutkan dahi. "Ada apa sama Emran?"
"Sewaktu beberapa hari aku pergi dari rumah, tepatnya beberapa bulan lalu ketika kita dihadapkan pada masalah rumah tangga, aku sempat menyelidiki siapa ayah biologisnya Emran.”
Luth terkesiap. Ia menatap intens wajah Lyn yang duduk di hadapannya.
"A apakah kamu sudah menemukan namanya?" tanya Luth dengan ekspresi tegang.
"Udah," jawab Lyn meyakinkan.
Luth menelan saliva. "Siapa?"
Bersambung
__ADS_1