DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Bayi


__ADS_3

Lyn menatap Luth penuh tanda tanya. Yang ditatap membalas tatapan seperti tanpa masalah.


"Ini semua chat dari satu nama, Afiqa," ucap Lyn dengan gigi menggemeletuk. Bagaimana mungkin sang mantan bisa mengirimi Luth chat sebanyak itu? Apakah ini artinya Luth sudah terbiasa berbalas chat dengan Afiqa? Jika tidak demikian, mana mungkin Afiqa akan dengan leluasa mengirim chat sebanyak itu untuk Luth.


"Oh. Ya udah, nggak usah dilihat. Masukin lagi hape nya ke laci!" titah Luth, sedikit melirik ke arah Lyn dengan lirikan berbeda.


"Aku boleh lihat isi pesannya kan? Kalau kamu nggak punya rahasia sama Afiqa, pasti bolehlah ya!" Lyn langsung klik chat sebelum mendapat jawaban dari Luth.


Anak ini butuh sosok orang tua


Gak lama lagi anak ini lahir


Aku hanya percaya sama kamu, Luth


Tolong rawat anakku ini


Aku tau istrimu orang baik


pasti dia juga mau kan merawat dan membesarkan anak ini

__ADS_1


Orang tuaku gak mau menerima anak ini


Mereka berniat ingin membuangnya


Bantu aku, Luth


tolong anak ini


Pliss


Luth yang tidak bisa melarang dikarenakan gerakan Lyn yang begitu cepat membuka chat, serta kondisinya yang sedang menyetir, membuatnya pasrah, tak mau mendebat. Ia hanya garuk kepala.


Lyn menatap Luth di sisinya. "Kamu masih berkomunikasi sama Afiqa ya?"


"Iya. Kenapa? Cemburu?" Luth menaikkan alis kemudian terkekeh pelan.


Sialan! Di saat serius begini, Luth malah menertawakan Lyn. Muka Lyn yang seharusnya manyun terbakar api cemburu, kini malah memerah karena malu.


"Sekarang udah bisa cemburu ni yeee..." ledek Luth.

__ADS_1


Lyn memalingkan wajah. "Luth, aku tuh bicara serius. Afiqa mau ngasih anaknya ke kamu? Apa ini nggak aneh ya? Kamu adalah cowok yang pernah dia tipu, dan sekarang dia minta supaya kamu membesarkan dan merawat anaknya? Bersama dengan aku, begitu?"


"Itu permintaan Afiqa sejak kemarin. Aku dan dia membahas masalah itu, dan belum ada solusi. Kedua orang tuanya nggak mau bayi itu menjadi aib, sebab sekarang nggak ada pria yang mau menikahinya. Sedangkan usia kandungannya semakin membesar," ucap Luth.


"Lalu... Apa kamu mau merawat anak itu?"


"Aku nggak bisa kasih keputusan sendiri, Lyn. Sebab aku udah menikah. keputusan itu ada sama kamu dan aku, kita berdua. Kalau pun aku bersedia merawat bayi itu, tapi kalau kamu nggak bersedia, aku nggak bisa paksakan."


"Jadi, maksudnya kamu mau merawat anak itu?" tanya Lyn.


"Kalau aku sih nggak masalah, Lyn. Selagi ini demi kebaikan, aku bersedia membesarkan bayi itu. Dari pada bayi itu dibuang dan akhirnya terlantar, atau bahkan nyawanya terancam, lebih baik aku yang merawatnya. Sebab saat aku tau bayi itu akan dibuang dan aku membiarkannya, sama aja aku membiarkan kezoliman terhadap bayi itu. Nggak ada satu pun anggota keluarga Afiqa yang bersedia merawat bayi itu, termasuk kedua orang tua Afiqa yang justru akan membuang bayi itu. Afiqa saat ini hidup dan bergantung hanya kepada orang tuanya, dia nggak bisa berbuat apa-apa."


"Apa nggak ada niat buat membawa bayi itu ke panti asuhan?" tanya Lyn dengan lirih.


Luth menghela nafas. "Kupikir hati kamu jauh lebih lembut dan iba saat tau hal ini, bukan iba pada Afiqa, tapi pada bayi itu."


Lyn tiba-tiba merasa tersudut atas perkataan Luth. Luth sepertinya sengaja menggunakan kata-kata itu untuk membuatnya terpaksa harus mengiyakan pilihan itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2