
Air mata Afiqa masih menetes melalui kedua sudut matanya. Deras sekali.
Lyn tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala, menyemangati. “Sedikit lagi bayimu akan melihat dunia. Ayo, pasti bisa!’ bisik Lyn sambil menggenggam erat tangan Afiqa.
Beberapa suster di bawah sana meminta supaya Afiqa kembali mengejan saat bayi di dalam perut mulai berinteraksi.
Lalu dengan sekuat tenaga, bersamaan dengan teriakan kuat, Afiqa mengejan.
Suara tangis bayi nyaring terdengar, bersamaan dengan tubuh Afiqa yang langsung lemas, gemetar.
Lyn masih menggenggam tangan Aifiqa. “Bayi kamu udah lahir. Laki- laki.”
Afiqa hanya memberi isyarat dengan kedipan mata. Wajahnya memucat. Kemudian sudut bibirnya sedikit tertarik melihat bayinya yang sudah dalam keadaan bersih itu digendong suster, didekatkan ke tubuh Afiqa.
Afiqa tersenyum menatap wajah bayinya yang tembem, mulutnya yang kecil komat- kamit, mata bayi itu terpejam. Senyuman Afiqa diiringi dnegan tangisan. Afiqa tak kuasa menahan tangis. Ia sesenggukan menatap bayinya yang digendong suster.
“Bolehkah aku memegang bayiku, Sus?” tanya Afiqa yang saat itu sedang dibersihkan oleh suster.
“Boleh.” Suster menempelkan tubuh bayi ke dada Afiqa.
Jari lentik Afiqa mengelus pipi tembem bayi laki- laki yang katanya memiliki berat 2.7 kg. mungil.
Air mata Afiqa terus mengalir. Tangannya lemas, tak bisa memegangi bayi.
Cepat Lyn mengambil alih bayi itu dan menggendongnya. Dia tatap wajah bayi yang suci itu, dia juga mengelus kening bayi itu.
“Masyaa Allah… kamu hebat. Kamu membantu ibumu berjuang. Anak pintar!” Lyn mengelus kening bayi itu.
__ADS_1
Sebelum sempat Lyn bicara lebih banyak, ia mendengar para suster yang tiba- tiba heboh dan disibukkan dengan kepanikan. Lyn baru sadar bahwa Afiqa kejang- kejang dan kemudian tak sadarkan diri. Gegas para suster menarik bed dan mendorongnya menuju keluar. Entah mau dibawa kemana. Pasti dilarikan ke UGD.
Lyn hanya bisa keluar mengikuti para suster, Luth di luar tampak bingung. Menatap Lyn dengan dahi bertaut.
“Apa yang terjadi dengan afiqa?” tanya Luth pada Lyn.
“Aku juga nggak tau,” jawab Lyn sambil menimang bayi yang terpejam dalam gendongannya.
Pandangan Luth tertuju ke arah bayi di tangan Lyn. Ia tersenyum tipis dan mengusap pucuk kepala bayi yang tertutup kain bedung.
Mereka lalu menyusul para suster, dimana Afiqa dibawa ke UGD.
Tak berselang lama, dokter keluar dari ruangan UGD, memberi kabar bahwa Afiqa sudah meninggal dunia.
Tubuh Lyn rasanya lemas sekali mendengar kabar itu. Setelah Afiqa melahirkan bayinya, bahkan sempat memegang bayi tersebut, Tuhan pun mengambil nyawanya. Apakah itu artinya tugas Afiqa sudah selesai?
Pihak rumah sakit segera menghubungi keluarga Afiqa. Dan tak lama, keluarga Afiqa pun berdatangan, menunjukkan tangis pilu yang tak bisa ditahan lagi.
Tak mau menambah masalah, Lyn segera membawa bayi itu pergi dari sana. bersama dengan Luth, mereka pulang ke rumah.
Sudah pukul empat dini hari ketika Lyn dan Luth sampai di rumah, merebahkan si bayi ke kasur setelah sempat mampir ke minimarket 24 jam untuk membeli susu formula dan perlengkapan si bayi yang ternyata tidak sedikit, lumayan menguras kantong. Tapi Lyn tidak mempermasalahkan hal itu. Ia tetap ikhlas melakukannya. Rejeki Allah itu Maha Luas, tak akan mungkin Allah akan mempersempit rejeki orang yang ikhlas berbagi, apa lagi memuliakan bayi yang suci itu.
“Kita kasih nama siapa bayi lucu ini?” tanya Lyn sambil merebahkan tubuhnya dalam posisi miring menghadap bayi. Bibirnya tersenyum.
Luth menyusul berbaring di belakang Lyn, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang istrinya. Tatapannya tertuju ke rambut Lyn yang tanpa hijab.
“Kamu saja yang kasih nama,” jawab Luth.
__ADS_1
“Kenapa aku? Kan kamu ayahnya.”
“Kamu yang akan merawatnya.”
Lyn tersenyum. “Baik, aku kasih nama Emran Khan Fattah.”
“Waow… Namanya bagus banget.” Luth merangkul dari belakang, mempererat pelukannya. “Nama panggilannya siapa?”
“Emran. Sayangnya dia nggak sempat melihat ibunya. Dia nggak mengenal ibu yang melahirkannya.”
“Sudah menjadi kehendak Tuhan.”
“Dan mengenai siapa ayah biologisnya, Afiqa belum mengatakannya. Bagaimana aku bisa tahu asal- usul anak ini? itu penting untuk diketahui supaya kelak nggak akan ada yang namanya pernikahan sedarah. Andai saja bapaknya memiliki anak perempuan, tentu haram bagi Emran menikahinya,” ungkap Lyn.
“Kita akan cari petunjuk nanti. Bagaimana pun caranya. Pasti allah akan memberi petunjuk kalau memang kamu benar- benar berharap mengetahui siapa ayah biologisnya,” jawab Luth.
“Hm.” Suara Lyn terdengar lirih. Dia sudah mengantuk sekali. Lalu masuk kea lam mimpi.
Bahkan Lyn tak sadar lagi ketika Emran menangis.
Gegas Luth menggendong si bayi, membuatkan susu dan menimangnya hingga kembali tertidur.
Bersambung...
Sambil nungguin novel ini update, yuk baca novel baru Emma dengan judul
TERJERAT PESONA PREMAN INSAF.
__ADS_1
Cek aja profil Emma Yah.