DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Salah Kaprah


__ADS_3

"Ya, kamu hebat sudah bisa menghasilkan uang. Dan aku nggak bisa kasih kamu lebih. Kamu merasa kekurangan?" tegas Luth dengan paras kecewa. "Aku nggak pernah menuntut kamu untuk membantu aku mencari nafkah. Aku juga nggak mau kamu bekerja apa pun. Percayakan padaku untuk urusan uang. Tapi kalau kamu nggak bisa mempercayaiku soal itu, kamu ingin pendapatan lebih dengan kepintaranmu, lakukan saja! Aku nggak akan memintamu untuk tinggal di sini. Mungkin rumah mama Amina lebih tepat untukmu!"


Luth lalu pergi.


Mengingat itu, Lyn tak pernah lagi membahas soal keuangan, apa lagi soal hobinya menulis. Bahkan ia menulis pun secara sembunyi- sembunyi. Hal itu dia lakukan tanpa sepengetahuan Luth, tepatnya ia menulis saat tak ada Luth di rumah.


Lyn sebenarnya tak ingin melanjutkan tulisannya, sebab suaminya tidak ridha dengan pekerjaannya itu, namun ia tetap harus menyelesaikan tulisannya sesuai kontrak. Sebab ia terikat kontrak dengan jumlah kata yang sudah disepakati, dan itu belum mencapai target.


Lyn tetap menulis untuk menyelesaikan target kontraknya, setelah itu ia akan menyudahi tulisannya. Ia tahu bagaimana hukum mengenai istri yang harus taat pada suami mengenai hal- hal yang tidak disukai suami. Jika memang suaminya tidak ridha pada kegiatannya mencari penghasilan, maka itu tidak akan dia lakukan. Ia tidak menyangka jika ternyata Luth justru berpendapat lain mengenai hobinya menulis, ia mengira Luth akan ikut senang, tapi ternyata justru sebaliknya.


Jika memang sejak awal ia tahu suaminya melarang, maka ia pasti tidak akan menerima tawaran meski penawaran itu sangat menggoda. Ketaatannya pada suami lebih utama.

__ADS_1


Dan sekarang ia sedang mengejar jumlah kata yang tersisa. Semoga secepatnya akan selesai dan ia akan meninggalkan tulisannya itu meski berat. Bahkan Lyn bingung untuk menyampaikan pada Luth tentang uang setengah milyar yang kini ada di rekeningnya. Bagaimana ia akan mengatakan bahwa ia sudah memiliki uang sebanyak itu dalam waktu dua bulan?


Lyn sedang membuat susu di dapur ketika suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya.


Lyn menoleh ke sumber suara. Nomer asing meneleponnya.


Ragu untuk menjawab, namun Lyn memutuskan untuk mengangkatnya.


"Selamat malam, Nona Lyn. Benarkah saya bicara dengan Nona Lyn?" sahut seorang pria di seberang.


"Benar. Ini saya berbicara dengan siapa?"

__ADS_1


"Saya editor dari salah satu platform, ingin mengajak Anda bekerja sama, perihal tulisan yang ditampilkan di instagram, bagaimana kalau kami adaptasi ke platform kami yang berbasis di Singapura. Rencana akan diadaptasi menjadi komik, kemudian novel juga akan ditranslete ke bahasa Inggris dan dipasarkan di Singapura. Tentu ini tidak ditawarkan secara cuma- cuma, kami menawarkan angka 8000 dollar untuk adaptasi ini. Ini belum termasuk royalti dari viewer setelah pendapatan melewati nilai dari angka pembelian, bagaimana?" pria itu terdengar sangat ramah.


"Sehubungan cerita itu sudah dikontrak oleh salah satu platform, maka pembicaraan ini bisa dihubungkan kepada editor platform tersebut. Silakan untuk menghubungi ke pihak yang bersangkutan. Saya akan menerima jumlah persentase dari hasil kesepakatan nominal nilai yang didiskusikan," ucap Lyn dengan senyum.


Lyn mengantongi hape, lalu menutup botol dot dan segera balik badan hendak kembali ke kamar. Namun ia terkejut saat melihat Luth sudah berdiri di hadapannya kini, pria itu menggendong Emran yang terpejam.


"Emran terjatuh. Dan kamu disibukkan dengan urusan kontrak platform mu itu!" Setelah mengatakan kalimat itu dengan raut kesal, jiga tatapan yang tak bersahabat, Luth kemudian berlari keluar membawa Emran yang tak tahu kondisinya bagaimana. Bocah itu merem.


Dan apa tadi? Emran terjatuh?


Lyn menghambur mengejar Luth.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2