
Lyn menggeret koper milik Amina, semalam mamanya itu sudah packing barang. Dan hari ini katanya akan berangkat ke Eropa. Sejak semalam Amina heboh sekali mengungkap kegembiraannya akan berangkat ke luar negeri. Amina juga sibuk menghubungi teman-teman sosialitanya, mengabarkan kalau ia akan ke Eropa, menanyakan oleh-oleh apa saja yang mereka inginkan. Pokoknya heboh sekali.
Pagi itu Amina juga kasih tampak heboh menelepon teman-teman sosialitanya. Ia duduk di sofa sambil terkekeh bahagia sekali.
Sedangkan Nuh menunggu dengan sabar, berdiri di sisi istrinya.
"Koper udah ready!" seru Lyn sembari menaruh koper di tengah-tengah ruangan utama. Dalam hati, Lyn berpikir keras, papanya bilang kalau ia akan dinikahkan dengan Luth dalam waktu dekat ini untuk menghindari hal-hal buruk yang tidak diinginkan, tapi kenapa malah mengirim Amina ke Eropa?
Apakah ini artinya Nuh sengaja mengirim Amina ke luar negeri supaya mamanya itu tidak mengetahui pernikahan Lyn dan Luth? Kalau benar itu yang akan dilakukan oleh Nuh, berarti papanya itu nekat banget. Berani ambil resiko besar. Padahal Lyn adalah anak semata wayang. Apakah mungkin Amina akan tinggal diam ketika suatu hari nanti dia tahu dikibulin begitu?
Hadeeeh... Nuh cari pasal terberat ini. Tapi sepertinya memang tidak ada jalan keluar lainnya selain jalan paling terjal itu, sebab Amina pastinya tidak akan mungkin merestui Lyn menikah dengan Luth atas alasan kelas sosial.
"Sudah siap? Ya udah, ayo kita antar mamamu ke bandara," ucap Nuh dengan senyum lebar. Sedikit pun tidak terlihat sesuatu yang disembunyikan oleh Nuh, meski Lyn tahu papanya itu merahasiakan hal besar yang tidak boleh diketahui istrinya. Astogeh, Nuh sedang mencari pasal baru.
"Udah, Pa. Semuanya udah oke. Yuk, pergi!" ajak Lyn.
__ADS_1
Amina yang sedang berteleponan itu pun menyudahi teleponnya. "Oke, ayo kita berangkat. Duuh... udah nggak sabar pengen cepet-cepet sampai ke Eropa." Amina menghambur keluar dan masuk mobil.
Nuh duduk di bagian kemudi, sebagai supir. Sedangkan Lyn duduk di jok belakang. Sepanjang jalan, Lyn bingung memikirkan nasibnya, apakah harus senang atau takut. Senang karena akan menikah dengan Luth, dan takut karena resiko yang dihadapi tidaklah mudah.
Sesampainya di bandara, Lyn dan Amina melakukan banyak hal, makan es krim bersama, berfoto bersama, lalu akhirnya berpelukan dan saling berdada ria.
"Kamu jaga diri baik-baik, ya," ucap Amina mengecup kening Lyn. "Mama lama loh ke Eropa. Jangan nangis. Jangan kangen sama mama."
Lyn tersenyum, mengangguk.
"Ya udah, mama pergi dulu ya!" Amina melenggang masuk sesaat setelah cipika cipiki dengan suaminya.
Nuh sudah lebih dulu menyantap makanan. "Kenapa kamu nggak makan? Nggak lapar?" Nuh memperhatikan Lyn yang malah diam.
Lyn tampak enggan bercerita. Di benaknya sekarang hanya terpikir Luth. Setiap kali hendak membicarakan Luth, lidahnya terasa berat. Rasanya malu membicarakan sosok laki-laki pada papanya.
__ADS_1
"Pa, Lyn kepikiran soal..."
"Luth?" potong Nuh menatap Lyn yang menunduk.
Lyn diam saja. Sebentar melirik wajah papanya, kemudian kembali memalingkan pandangan.
"Papa tahu kamu sudah mengerti apa yang papa rencanakan. Papa sengaja mengirim mamamu ke Eropa supaya kamu bisa menikah dengan Luth. Inilah satu-satunya jalan supaya kamu bisa menikah dengannya. Sebab jika mamamu mengetahui pernikahan ini, pasti mamamu tidak akan menyetujuinya," sambung Nuh.
"Papa tahu kan resiko yang akan kita hadapi jika ketahuan mama? Ini kan bukan perkara kecil." Lyn tampak bingung.
"Papa berani mengambil tindakan, maka berani pula mengambil resiko. Dan ini sudah papa pikirkan. Masa depanmu, kebaikanmu, adalah tanggung jawab papa sebagai pimpinan di dalam rumah tangga. Papa mencemaskan kemudharatan yang akan lebih besar jika membiarkan kamu dan Luth tidak menikah. maka Pernikahanmu dengan Luth merupakan jalan kebaikan yang papa anggap benar. Jika mamamu tahu setelah kami menikah, maka semua sudah menjadi bubur. Sudah terlanjur."
Terkadang Nuh memang agak nekat. Beraninya mengambil resiko besar untuk hal besar. Tapi Lyn yakin ia akan bisa mengatasinya. Apa lagi ia mencintai Luth, maka jalan apa pun akan ditempuh, termasuk menghadapi kemarahan mamanya. And than, lusa akan ada Luth yang akan menjadi perisai. Ah, kulit wajah Lyn memanas setiap kali membayangkan wajah Luth.
"Percayalah, ini jalan terbaik. Jangan ragu!" ucap Nuh meyakinkan. "Ya udah, kamu cepat makan!"
__ADS_1
Lyn mengangguk, segera menyantap hidangan.
***