DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Air Mata


__ADS_3

Dibalik senyum manis Alisha, wanita itu menyembunyikan ketakutan besar yang ia sendiri tak ingin memperlihatkannya kepada semua orang. Sungguh wanita yang luar biasa.


"Ibu, percayalah Tuhan bersama ibu. Ibu akan kuat dan semuanya baik-baik saja." Lyn tidak tahu harus berkata apa untuk bisa menguatkan Alisha. Hanya itulah kata-kata yang bisa ia ucapkan. Ia mengangkat kedua tangan Alisha dan mengecup punggung tangan itu sangat lama.


"Lyn, kamu jangan malah bersedih ya. Ibu semakin bersemangat untuk sembuh kalau lihat kamu begini. Luth mana?" Pandangan Alisha mengedar mencari-cari.


"Luth akan segera datang. Dia sedang buang air," ucap Lyn terpaksa berbohong. Tak ingin membuat hati Alisha bersedih jika mengatakan Luth sedang pergi untuk mencari uang.


"Lyn, biaya operasi itu kan mahal. Uangnya dari mana? Ibu nggak mau dioperasi kalau uangnya berasal dari meminjam. Kalian akan repot nanti," ucap Alisha dengan murung.


"Jangan pikirin soal uang. Uangnya bukan hasil pinjaman kok. Lyn punya tabungan untuk ibu. Jangan cemas."

__ADS_1


"Ya Allah, ibu malah jadi menghabiskan uangmu, Nak." Alisha terlihat sedih.


"Ibu, jangan bicara begitu. Plis, tolong jangan pikirkan masalah uang." Lyn jadi serba salah. Takut jawabannya akan salah dan membuat hati Alisha bersedih. Dan nyatanya Alisha malah jadi sedih sekarang. "Ibu menerima Lyn sebagai menantu kan? Kalau ibu ikhlas menerima Lyn, maka biarkan Lyn berbagi dengan ibu. Suatu saat, Lyn juga akan meminta bantu sama ibu."


Alisha tidak lagi menjawab, ia hanya mengusap rambut Lyn haru.


Lyn bangkit berdiri dan menggantikan posisi suster. Ia mendorong kursi roda sampai ke depan pintu ruangan operasi. Ia berhenti, memutari kursi roda. Tersenyum getir menatap wajah keriput Alisha, lalu membungkuk dan memeluk tubuh Alisha cukup lama.


"Jangan menangis. Kok malah kamu yang nangis sih? Kamu bilang semuanya akan baik-baik saja, lalu kenapa menangis?" Suara Alisha terdengar tegar.


Lyn segera mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia melepas pelukan dan mengangguk, membiarkan suster mendorong kursi roda memasuki ruangan operasi.

__ADS_1


"Jangan lupa suruh Luth menunggu ibu ya!" ucap Alisha sebelum akhirnya pintu tertutup rapat.


Saat itulah tubuh Lyn yang bersandar di dinding, merosot jatuh ke lantai. Tubuh yang rasanya lemas itu seperti tak kuat lagi menopang diri. Tangisnya pecah. Air yang sejak tadi mendesak di balik kelopak matanya, mencuat dengan deras.


Lyn merasa sedih melihat Alisha yang harus menjalani operasi. Bukan hal mudah bagi siapa pun menghadapi ruang operasi. Segalanya menakutkan. Bahkan kini, berbagai rasa berkecamuk mengaduk-aduk batinnya, cemas memikirkan nasib Alisha. Apa yang terjadi si ruangan operasi sana?


"Lyn!"


Suara panggilan itu seiring dengan sentuhan hangat di pundak Lyn. Lalu tangan kokoh di pundak Lyn itu merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan erat.


"Luth, ibu..." bisik Lyn tak kuasa membalas pelukan Luth yang kini berada di posisi jongkok. Lyn hanya memegangi lengan Luth sambil menangis. Ia merasakan usapan lembut di punggung. Juga pelukan yang semakin menguat.

__ADS_1


TBC


__ADS_2