DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Permintaan


__ADS_3

"Apa pun yang terjadi, Lyn sekarang sudah menjadi istriku," ucap Luth dengan raut yang mulai tampak kesal. "Aku berhak atas Lyn."


"Makin berani kau!" gertak Amina muak sekali.


"Mama, Lyn mohon, tolong restui kami. Nggak ada alasan untuk menolak Luth menjadi bagian keluarga kita. Hubungan kami sudah sah dan halal di mata Agama, jangan membuat ikatan suci ini ternoda dengan adanya kata-kata hinaan." Lyn menangis sambil menatap Amina penuh permohonan, berharap kemurkaan Amina memudar.


Namun tidak, Amina malah semakin naik pitam. "Keterlaluan kau Lyn, bisa-bisanya kau membela pria kurang ajar itu? Kalian sudah membohongiku, diam-diam menikah tanpa sepengetahuanku, kebohongan macam apa ini? Dan sekarang kau meminta restu dariku? Haram bagiku merestui mu dengan pria nggak berguna itu."


"Sudah, cukup!" Suara Luth terdengar keras. Dan ini adalah kali pertamanya Luth berbicara dengan nada tinggi. "Tante, aku maklumi kemarahan Tante atas pernikahan kami yang tanpa sepengetahuanmu, aku juga minta maaf atas itu, tapi bukan berarti tante bebas menghujat dan menghinaku. Dan satu hal lagi, aku nggak akan melepaskan Lyn." Luth menarik tangan Lyn, mengajak gadis itu pergi.


"Tunggu, Luth. Biarkan aku bicara dengan mama," pinta Lyn menahan diri.


Luth menatap Lyn, mengawasi wajah sembab istrinya. Tak lama ia mengangguk. Mungkin Lyn ingin membicarakan dari hati ke hati, atau mungkin Lyn masih ingin mengutarakan banyak hal yang ada di pikirannya, biarlah Lyn mengobrol dengan ibunya.

__ADS_1


Luth melepas tangan Lyn, pria itu pergi ke rumah sebelah.


Tinggalah Lyn dan Amina yang bertukar pandang. Lyn menatap muka Amina yang memerah, urat wajah yang menegang, serta nafas yang menderu. Kemarahan Amina sudah total.


"Mama!"


Amina berpaling. "Keterlaluan kau, Lyn."


"Ma, sejak dulu mama nggak pernah setuju jika aku memiliki hubungan khusus dengan Luth, itulah sebabnya..."


Lyn hanya bisa menggeleng gelengkan kepala saat wajahnya terbenam ke dalam air. Ia berusaha mengangkat kepalanya dari sana namun kalah kuat dengan tangan Amina. Kakinya menjejak jejak ke lantai. Tangan kiri berpegangan kuat pada sisi bak, berusaha melawan kekuatan Amina.


Kepala Lyn diangkat, lalu kembali dicelupkan. Berulang kali Amina melakukan hal itu. Lalu kini kepala Lyn terbenam cukup lama di dalam air, hidungnya sakit sekali saat merasakan air menyusup dan masuk ke pernafasan.

__ADS_1


Disaat terdesak begini, Lyn mendapat ide. Tangan kanannya yang dipegangi oleh Amina, mencubit paha Amina sangat kuat. Sontak Amina pun mundur dan kepala Lyn terlepas dari Amina. Lyn selamat. Ia mengangkat kepalanya dari air dan menghirup udara banyak banyak.


Sungguh rasanya sakit sekali di bagian dalam hidungnya, pedih akibat air yang sempat masuk ke dalamnya. Tubuh Lyn menyandar di dinding. Sekuat tenaga, ia berusaha mengeluarkan air yang menusuk ke dalam hidungnya.


"Kau dan papamu akan menerima akibat atas pengkhianatan ini. Lihatlah apa yang akan aku lakukan pada kalian!" hardik Amina.


"Bu, Bu Amina! Bu, itu, anu. Gawat, Bu," ucap asisten rumah tangga yang tergopoh muncul dan berdiri di ambang pintu.


Sejurus pandangan tertuju ke arah asisten rumah tangga.


"Gawat kenapa?" tanya Amina ketus.


"Itu... anu...." Asisten rumah tangga gugup dan tampak memucat, membuat yang mendengar jadi penasaran.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2