
"Halo.. Ada apa?" Akhirnya Luth menjawab panggilan. wajah tampan pria itu muncul di layar ponsel. Ya, hanya wajah saja yang kelihatan. Sengaja Luth hanya memperlihatkan wajahnya saja tanpa ingin menunjukkan tempat sekitarnya. Yang jelas pria itu tampak sedang berbaring.
"Loh, kok ada apa? Kan kamu yang telepon aku duluan tadi, ada apa?" Lyn ngeles, syukurlah ada alasan untuknya menelepon Luth.
"Oh itu, tadi aku mau nanyain kamu jadi beliin topi untukku kan?"
"Jadi."
"Kenapa belum dikasih ke aku?"
"Eh iya ya? Sori, aku lupa."
"Warna apa?"
"Hitam."
"Coba lihat, tunjukkin ke aku. Aku mau lihat kayak apa bentuknya, kalau jelek aku nggak mau."
"Oke, bentar aku ambilin. Kamu pasti suka." Lyn bangkit turun dari kasur, mengambil topi dari lemari, kemudian dia tunjukkan ke depan kamera. "Gimana? Bagus, kan?"
"Jelek."
Lyn membelakak kaget. Senyumnya seketika lenyap. "Jadi kamu nggak mau?"
"Enggaklah, jelek begitu. Tapi ya udahlah nggak apa-apa aku pakai. Udah terlanjur dibeli juga. Antarin ke sini ya!"
"Sekarang?"
__ADS_1
"Kapan lagi?" Luth geleng-geleng kepala. "Nggak mungkin aku yang ke situ, aku kan nggak pernah ke situ, jadi aneh kalau aku ketahuan orang ke situ. Tapi kalau kamu yang ke sini mah udah biasa. Nggak aneh dilihat orang."
"Iya iya."
"Eh, tapi jangan sampai ketahuan siapa-siapa ya kalau kamu ke sini."
"Kenapa?" tanya Lyn bingung.
"Malu. Entar dikirain kita lagi pacaran lagi."
Kulit wajah Lyn seketika itu langsung memanas mendengar ucapan Luth. Hadeh, rasanya deg-degan.
"Hari pernikahan kita tinggal besok aja, malu kalau dilihat orang kita ketemuan. Rasanya kayak sedang nyuri waktu buat ketemuan," sambung Luth. Pria itu sedikit menjauhkan kamera ponsel dari wajahnya, membuat Lyn dapat melihat dengan jelas Luth saat itu bertelanjang dada. Sehingga tampaklah dada bidang dan perut rata yang bike dipamerkan sebagai manekin, pasti menggoda para wanita.
"Hari H emang tinggal besok, tapi nggak ada acara lamaran ya?" lirih Lyn polos sekali.
Lyn gelagapan, salah tingkah mendengar pertanyaan Luth.
"Yang menyusun jadwal acara nikahan kita kan papa kamu, papamu nggak ada bahas soal lamaran, beliau mintanya langsung nikah. Mendadak banget lagi, ini mau nikah tapi berasa dikejar setan, buru-buru banget. Jadi nggak salah aku kan kalau aku nggak pakai acara ngelamar kamu?" ucap Luth.
Lyn hanya menggigit bibir bawah tanpa ingin berkomentar, rasanya risih saat harus membahas pernikahan dengan sosok pria yang telah lama menjadi temannya, bahkan teman bermain sejak kecil. Tiba-tiba sekarang status itu berubah menjadi calon suami. Kan aneh.
"Kamu mau dilamar juga?" ulang Luth.
"Terserah kamu aja deh," jawab Lyn sungkan.
"Ya udah."
__ADS_1
"Ya udah apa?"
"Gini aja, kita ketemuan di taman ya," ajak Luth.
Lyn mengangguk. "Aku matiin."
Sambungan video diputus. Lyn tersenyum sambil melompat girang. Ia lalu bergegas menyambar switer, berjalan keluar sambil mengenakan switer tersebut. Ia tidak perlu memakai mobil untuk sampai ke taman yang dijanjikan. Cukup berjalan kaki saja, ia pun sudah sampai di tempat tujuan. Tentunya ia mengendap-endap supaya tidak ketahuan telah meninggalkan rumah.
Di taman itu, Lyn duduk di kursi tempat biasa. Luth belum muncul. Entah kemana pria itu, seharusnya Luth lebih dulu sampai di taman, kenapa malah Lyn yang justru harus menunggu? Kalau dibegal preman gimana? Mana malam itu sepi lagi. Lyn menoleh ke kiri dan ke kana mencari keberadaan Luth. Pria itu benar-benar belum muncul.
Lyn meraih ponsel, menelepon Luth.
"Ya, kenapa?" tanya Luth di seberang. Terdengar suara deru keramaian kendaraan di sekitar pria itu.
"Kamu dimana? Lama banget. Aku udah di taman nih," ucap Lyn sedikit ketakutan. "Aku takut sendirian di sini. Mana banyak nyamuk lagi."
"Iya. Bentar lagi aku sampai. Tunggu aja disitu, jangan manja!" ketus Luth.
"Jangan lama-lama," rengek Lyn.
"Iya. iya. Emangnya takut apaan sih?"
"Kalau ada yang nyulik aku gimana?"
"Hah? Nyulik? Mana ada orang yang minat nyulik kamu."
"Luuuth...!" kesal Lyn ingin menjitak Luth. "Pokoknya cepetan, aku ngerasa kayak ada yang ngikutin nih." Ia memutus sambungan telepon. Memangnya apa yang dilakukan Luth sampai selama itu hanya untuk menempuh perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu lima menit dengan berjalan kaki?
__ADS_1
TBC