Dinikahi Berandal Kampus

Dinikahi Berandal Kampus
Bab. 11 Janda Muda


__ADS_3

Kalau mengingat-ingat pertanyaan Kania tadi siang padanya, Zivana berasa muak sendiri. Bagaimana mungkin ia naksir dengan pria berandal seperti Shaka. Masa depannya jauh lebih berharga dari pada harus dihabiskan dengan pria itu.


Ia berjanji dalam hatinya untuk tidak akan jatuh cinta pada suaminya itu. Perpisahan yang sudah direncanakan sebelumnya adalah impian indah yang sangat ia nantikan. Untuk itu ia harus bersabar dulu. Setidaknya sampai lulus kuliah.


"Kenapa, lo? Sakit perut, lo?" tanya Shaka yang melihat Zivana terus memegangi perut dengan satu tangan. Sementara tangan yang lain menutup mulut seolah ingin muntah.


"Enggak."


"Terus kenapa lo pegangin perut lo kayak gitu?"


Zivana segera menarik tangan yang menutup mulut juga yang berada di atas perutnya. Namun, ia tidak menjawab apa yang Shaka tanyakan. Tidak mungkin, kan, dia jujur jika ia ingin muntah kalau membayangkan dirinya jatuh cinta pada Shaka.


"Nggak kenapa-kenapa." Demi menghindari pertanyaan lanjutan dari Shaka, Zivana segera mengalihkan perhatiannya pada buku yang tadi ia baca. Membolak-balik tanpa tujuan yang jelas.


Shaka menggedikkan bahu, melihat tingkah aneh istrinya. Ia tidak ingin terlalu ikut campur yang takutnya nanti malah akan disalah artikan sebagai bentuk perhatian.


Masa bodoh dengan apa yang Zivana lakukan. Shaka memilih untuk melanjutkan kembali memakai sepatu, kemudian meraih jaket yang ada di gantungan baju dan bersiap untuk pergi.


"Mau ke mana, lo?" tanya Zivana ketika mendengar Shaka membuka pintu.


Pria itu menoleh. Menatap Zivana yang masih duduk di meja belajar. "Keluar bentar, cari angin," jawab Shaka asal. Lalu pergi begitu saja.


Setelah pintu tertutup kembali, Zivana menampar mulutnya sendiri. "Ngapain sih, bawel banget nanya-nanya. Biar aja kan dia mau pergi, dia mau tidur, atau dia mati juga bukan urusan lo, Ziva," gumam Zivana pada dirinya sendiri.


"Eh ... tunggu-tunggu!" Zivana seakan teringat sesuatu akan apa yang barusan ia ucapakan.


"Mati?" Otaknya membayangkan akan satu kata itu.


"Nggak!" pekik Zivana. "Dia nggak boleh mati sekarang. Gue nggak mau jadi janda di usia gue sekarang ini!"

__ADS_1


"Amit-amit, deh." Tangan Zivana mengetuk meja beberapa kali.


Ah ... memikirkan Shaka malah membuat Zivana seperti orang stres. Ia berbicara sendiri dari tadi. Dari pada otaknya makin oleng, lebih baik ia sudahi saja sesi baca buku kali ini. Ia harus istirahat segera supaya pikirannya kembali waras.


Zivana pun segera bangkit dan bersih diri sebelum tidur. Kemudian menata bedcover yang selalu menjadi alas istirahatnya. Merebahkan diri dan menutupi tubuh dengan selimut tebal adalah kebiasaannya.


Meski semua ritual sudah ia lakukan, tapi mata Zivana enggan terpejam. Otaknya masih mengelana tentang ke mana gerangan pria itu pergi.


Ini bahkan sudah dua jam Zivana berusaha untuk tidur. Namun matanya justru tidak mau diajak kerja sama. Masih terlihat terang. Mungkin karena pikirannya pun sedang tidak tenang.


Semua karen Shaka. Si suami berandal. Kepergian pria itu yang katanya sebentar tapi nyatanya malah berjam-jam menjadi pemicunya. Mendadak Zivana merasa takut jika terjadi sesuatu dengan Shaka. Jujur ia tidak ingin jadi janda muda.


*****


Di rumah, sang istri tengah mengkhawatirkannya. Sementara di luar Shaka sedang berpesta dengan teman-temannya.


"Mau main nggak, Bos?" tanya Rendy. "Ada yang nantangin tuh."


"Siapa?" Bukan Shaka yang bertanya, tapi justru Farel yang terlihat ingin tahu.


"David," jawab Rendy.


Shaka meletakkan minumannya, kemudian berdiri. Tidak menolak tidak juga mengiyakan.


Namun ketika Shaka naik ke motornya, Farel pun bertanya, "Mau ke mana lo, Bos?"


"Pulang!" jawab Shaka sekadarnya.


Baru juga Shaka memutar kunci dan mulai menstater kuda besi warna hitam miliknya, suara dari orang yang tidak ia inginkan terdengar.

__ADS_1


"Dasar cemen! Ditantang balapan malah kabur. Kalau nggak berani tuh bilang, jangan main asal kabur aja!" ujar Mario. Pria yang memberikan tantangan untuk Shaka.


"Udah jadi Banci, lo!"


"Heh, lo bilang apa! Jaga tu bacot lo!" Rendy yang tidak terima Shaka dimaki langsung maju hendak menghajar Mario.


Tetapi dihalangi oleh Farel.


Teman-teman Mario yang ada di belakang pria itu langsung siaga ketika Rendy hendak melayangkan pukulan.


"Cari ribut, lo?" tantang Mario.


Shaka yang sejak tadi diam, akhirnya turun tangan juga. Tidak terima temannya mendapat tantangan oleh rivalnya.


Tanpa basa-basi Shaka meraih kerah kaus Mario dan menghadiahi wajah Mario dengan sebuah bogem mentah. Sontak hal itu menimbulkan keributan.


Teman-teman Mario yang sejak tadi siaga langsung menyerang. Adu fisik dengan tangan kosong pun tak terelakkan.


Arena yang harusnya jadi ajang balap kini jadi ajang tawuran. Semua menyerbu tanpa tahu duduk perkaranya.


Shaka yang sudah sangat berpengalaman dalam hak baku hantam, mampu menumbangkan beberapa orang sekaligus. Sebab itulah, ia menjadi sasaran keroyokan.


Semua kacau tak terkendali. Saling pukul dan saling lempar hajar.


"Berhenti, Woy!"


Suara seseorang menggunakan pengeras suara mampu menghentikan semua gerakan. Mereka semua menatap ke arah pria yang berdiri memegang pengeras suara di tangan kirinya.


Tak terkecuali Shaka. Pria itu sampai tertegun melihat sosok di depannya.

__ADS_1


__ADS_2