
Sejak hari itu Zivana merasa ada yang berubah dari sikap suaminya. Terkesan lebih cuek pada Zivana. Bahkan interaksi di antara mereka pun sangat minim.
Tidak ada lagi antar jemput seperti biasanya. Seolah Shaka ingin menghindar.
Di hari mereka pindah rumah, Shaka masih sama dinginnya. Pria itu terus saja menurut dan pasrah menerima semua yang Zivana inginkan. Tidak seperti biasanya, di mana mereka akan adu mulut terlebih dulu sebelum menentukan sesuatu. Termasuk menentukan kamar mana yang akan Zivana dan Shaka tempati. Tidak ada protes sama sekali dari pria itu ketika Zivana memilih kamar utama.
Semua menjadi semakin asing saat mereka tinggal hanya berdua. Shaka dengan hidupnya begitu juga dengan Zivana. Janji yang dulu mereka ucapkan untuk tidak saling mengusik privasi masing-masing berjalan sesuai rencana. Mereka jarang sekali ngobrol, atau sekadar tanya; Dari mana dan dengan siapa?
Tidak ada formalitas seperti itu. Sampai-sampai membuat Zivana merasa seperti hidup sendiri.
Karena itulah, Zivana ingin segera punya pekerjaan agar hidupnya tak terlalu membosankan. Satu minggu saja serasa waktu berjalan setahun jika ia berada di rumah.
Di sela-sela jam istirahat Zivana mulai berselancar di media sosial untuk menemukan pekerjaan yang pas untuknya.
"Sibuk apa, sih, lo, Zi?" tanya Dinda setelah menyeruput es teh yang tadi ia pesan.
Cuaca memang sedang panas siang ini. Sepanas hati Shaka yang sejak tadi memperhatikan Arjuna yang duduk satu meja dengan istrinya.
"Iya, ih ... sok sibuk banget. Minum tu es lo, entar mencair bikin banjir," timpal Kania.
Arjuna memperhatikan tingkah Dinda dan Kania yang sering meledek Zivana dengan senyum. Ini bukan kali pertama Arjuna ikut gabung di meja mereka. Tentu tujuan Arjuna adalah Zivana. Memang siapa lagi?
Zivana menghentikan sejenak fokusnya pada layar laptop. Mendorong sedikit kaca matanya ke atas agar nyaman. "Gue lagi sibuk cari loker," jawab Zivana.
"Lo cari kerjaan?" tanya Arjuna spontan.
"Hmm ...," jawab Zivana.
"Emang lo mau kerja, apa?" sela Kania.
Zivana mengangkat dua bahunya ke atas. "Belum tau, tapi kerja apa pun boleh yang penting paruh waktu."
"Yakin lo mau kerja? Buat apa sih, apa orang tua lo udah nggak mampu biayain kuliah lo?" Dinda ikut nimbrung.
Zivana mencebik dengan pertanyaan Dinda. "Emang harus nunggu orang tua gue nggak mampu dulu baru gue kerja? Denger ya, gue kerja karena gue pengen menghasilkan uang sendiri, setidaknya buat kebutuhan gue sendiri gue nggak perlu bergantung sama orang tua gue. Kalau soal kuliah, orang tua gue masih mampu biayain gue sampe lulus." Kesal juga Zivana dengan pertanyaan Dinda.
"Maaf ... maaf, nggak ada maksud gue," seloroh Dinda.
"Beneran lo mau cari kerja?" ujar Arjuna setelah tadi nampak berpikir.
"Ya bener lah, masak iya gue bercanda." Lagi-lagi Zivana menampakkan raut kesal karena tidak ada yang percaya jika dirinya memang berniat untuk kerja.
Melihat raut kesal Zivana dengan bibir mencibir membuat Arjuna gemas. Zivana semakin memesona di mata Arjuna. Sikap cuek dan apa adanya dari Zivana inilah yang menjadi daya tarik bagi Arjuna. Ia sampai rela bergabung dengan dua gadis absurd seperti Dinda dan Kania, semua demi bisa dekat dengan Zivana.
Arjuna masih menyimpan rasa penasaran pada Zivana yang tak luluh dengan pesonanya. Padahal di kampus ini ia termasuk mahasiswa impian para gadis. Wajah tampan nan rupawan dengan tunggangan yang tak main-main harganya menunjukkan kelas Arjuna sebagai pemuda dari kalangan atas.
Desas-desus tentang bisnis orang tua Arjuna yang sukses semakin menambah pamor pria itu. Belum lagi tersiar kabar akan kemampuan Arjuna menaklukkan sirkuit. Beuh ... semakin banyak saja para gadis yang mengantri untuk jadi kekasihnya. Berbeda dengan Zivana yang justru selalu menghindar ketika Arjuna berusaha mendekat.
"Gue ada info loker buat lo," ujar Arjuna.
"Becanda apa serius, lo?" tanya Zivana masih ketus.
__ADS_1
"Serius lah, dua rius atau tiga rius juga nggak masalah."
Bukan hanya Zivana yang menatap heran. Dinda dan Kania pun sama herannya dengan jawaban receh Arjuna.
"Gaje, lo, Kak!" cibir Dinda.
Ditanggapi dengan tawa oleh Arjuna. "Biar kalian senyum dikit."
Benar saja, Dinda dan Kania langsung tersenyum kecuali Zivana.
"Loker apaan?" tanya Zivana menindaklanjuti.
"Jadi pelayan di rumah makan ayam cepat saji, mau?" jawab Arjuna.
"Jauh nggak lokasinya?"
Arjuna menggeleng. "Nggak, paling sepuluh menit dari kampus."
"Pasti nggak ini?"
"Jelas pasti. Kalau lo mau, gue anter ke sana."
Zivana nampak berpikir.
"Kak, aku mau juga dong dicariin kerjaan," sela Kania.
"Maaf tapi lokernya cuma butuh satu orang," jawab Arjuna dengan senyum.
Dinda langsung menyenggol temannya itu. "Apaan, sih, lo!"
"Namanya juga usaha, gue kan pengen juga dianterin sama Kak Arjuna." Mata Kania mengerling manja pada Arjuna. Mencoba menggoda tapi justru hanya dibalas senyum oleh Arjuna.
"Gimana, mau nggak?" tanya Arjuna memastikan.
"Boleh deh, gue coba," jawab Zivana setelah memikirkan.
Arjuna pun memberitahu jam kerja di rumah makan tersebut. Apa-apa saja pekerjaan yang harus dilakukan.
"Kok tahu banget sih, lo?" tanya Zivana curiga.
Arjuna langsung tertawa. "Iya lah, gue tahu."
Tak lupa Arjuna memberitahu kapan mereka akan berangkat ke lokasi.
"Jadi lo tunggu gue di parkiran?" Zivana memastikan.
"Iya."
"Tungguin aku juga dong, Kak." Kania masih saja berusaha.
Seketika kepalanya ditoyor oleh Dinda.
__ADS_1
"Ish, nggak bisa lihat temen usaha dikit aja!" Kania mengusap-usap kepalanya dengan kesal.
"Ok, deh kalau gitu," ujar Zivana. Zivana mulai memikirkan gambaran untuk mengatur waktu jika nanti ia diterima di rumah makan itu.
Clear mencari lowongan pekerjaan, kini baru terasa perut Zivana lapar. Ia pun bangkit untuk memesan makanan.
"Dah, ah, gue laper mau pesen makan dulu." Zivana beranjak dari bangkunya.
"Gue mau siomay, Zi," teriak Dinda.
"Gue juga," sahut Kania.
Zivana berhenti sekejap. "Lo mau pesen apa?" tanya Zivana pada Arjuna.
"Samain aja sama lo," jawab Arjuna.
Zivana meninggalkan bangkunya.
Di saat yang sama ada Shaka dan teman-temannya juga berdiri. Hendak meninggalkan kantin.
Seperti tidak ada jalan lain saja, mereka berpapasan di antara meja-meja yang penuh dengan para mahasiswa. Sampai Zivana bingung siapa yang harus menepi untuk memberi jalan.
Pandangan Shaka dan Zivana sempat saling bertemu sebelum akhirnya gadis di samping Shaka memutusnya.
"Eh, ini cewek yang waktu itu bukan sih?" tanya Giska melirik pada Shaka. "Bener, kan?"
Shaka tak menanggapi ia justru berlalu begitu saja dari hadapan Zivana. Memaksa Zivana menyingkir dengan sendirinya.
Tak ada sakit hati pada Zivana karena memang inilah yang mereka inginkan untuk menutupi status mereka. Zivana kembali melangkah memesan makanan setelah Shaka dan teman-temannya pergi dari hadapannya.
Berbeda dengan yang lain yang tak peduli dengan Zivana, gadis bernama Giska justru menoleh. Kembali melihat Zivana. Giska rasa benar-benar pernah melihat Zivana.
Selesai jam kuliah, Arjuna sudah menunggu Zivana di tempat parkir.
"Udah lama nunggu, ya?"
"Buat lo, nunggu setahun juga gue rela," jawab Arjuna.
"Ish ... gaje banget, lo." Zivana mencibir.
Membuat Arjuna tak bisa kalau tidak tertawa.
"Yuk, entar keburu diisi orang lokernya," ajak Arjuna.
"By the way, gue nggak pakai helm nggak apa, nih?"
"Aman." Arjuna mengacungkan jari jempolnya.
Segera Zivana naik ke motor Arjuna. Pria itu pun tak menunggu waktu untuk menstarter motor sport miliknya.
Begitu gas ditarik meninggalkan area parkir, ada Shaka yang sejak tadi diam-diam memperhatikan. Tangannya mengepal menahan marah melihat Zivana pergi dengan pria lain.
__ADS_1