Dinikahi Berandal Kampus

Dinikahi Berandal Kampus
Bab. 39 Berakhir Di Rumah Sakit


__ADS_3

Dijemput oleh supir pribadi mertuanya, Zivana berangkat ke rumah sakit. Begitu sampai Zivana langsung menuju ke UGD, seperti yang ditulis Bagas dalam pesan singkatnya.


Hanya ada Winda di depan ruang UGD yang nampak sepi. Mungkin karena ini sudah lewat dari tengah malam.


"Ma, gimana keadaan Mas Shaka?" tanya Zivana.


"Sayang ...." Winda langsung memeluk Zivana.


"Papa masih di dalam, jadi Mama belum tahu kabar Shaka," sambung Winda usai mengurai pelukan.


Sama seperti ibu mertua, Zivana pun harus bersabar untuk tahu kabar suaminya. Jujur dalam hati ia takut kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Shaka. Entah kenapa tidak rela saja jika harus ditinggal Shaka dan menyandang status janda untuk saat ini.


Ah ... pikiran Zivana terlalu jauh. Namun, mau bagaimana lagi, begitu mendengar berita Shaka kecelakaan hal-hal negatiflah yang langsung memenuhi otaknya.


"Kita berdoa saja semoga Shaka masih dalam lindungan Tuhan." Winda menggenggam tangan Zivana. Senyum tulus terulas di bibir wanita itu.


Untunglah tak begitu lama Bagas keluar dari ruang UGD. Wajah tuanya terlihat lelah. Antara menahan marah juga sedih melihat kondisi Shaka. Namun, yang paling kentara adalah kecewa.


Baru kemarin ia membebaskan Shaka dari kantor polisi karena tawuran, dan hari ini ia harus datang ke rumah sakit karena anak semata wayangnya itu balap liar.


Shaka seolah selalu menguji kesabarannya. Apa yang Shaka lakukan Kalau tidak berakhir di kantor polisi pasti ya di rumah sakit. Bagas sudah hapal betul dengan dua resiko itu. Dan berkali-kali Bagas menceramahi Shaka yang selalu tak acuh dengan segala amarahnya.


"Pa ...." Segera Zivana mencium tangan mertuanya. "Gimana keadaan Mas Shaka?"


Bagas menghela napas panjang. Memijat pangkal hidungnya dan terlihat begitu lelah. "Cedera lutut juga tangan. Kata dokter mungkin untuk beberapa waktu Shaka tidak akan bisa beraktifitas secara normal tapi tidak perlu khawatir semua akan ditangani dokter dengan baik."


Zivana bisa bernapas lega akhirnya. "Boleh Ziva masuk?"


"Boleh." Bagas sedikit menepi untuk memberi jalan menantunya masuk ke UGD.


"Mama masuk juga, ya, Pa?" Winda ikut menyusul Zivana.


Keduanya masuk untuk melihat kondisi Shaka.


Begitu tirai dibuka, nampak wajah Shaka dengan mata terpejam. Tidak ada luka sama sekali di sana, mungkin karena terlindung helm ketika kecelakaan terjadi.


"Shaka, ada istrimu datang," ujar Winda agar mata putranya itu membuka.


Mendengar suara ibunya, Shaka membuka mata perlahan. Tubuhnya masih terasa sakit terutama di kaki dan tangan.


"Gimana keadaan kamu, Mas?" tanya Zivana. Pengucapan yang kaku terdengar jelas dari nada bicara Zivana. Terutama pada penyebutan 'Mas' untuk Shaka.


"Sakit." Jawaban singkat Shaka membuat Zivana semakin canggung.


Melihat kondisi Shaka yang tak separah bayangannya, Winda memilih keluar. Memberi ruang untuk Zivana dan Shaka untuk bicara berdua.


"Mama keluar dulu, ya. Mau nemenin Papa. Semoga cepet membaik." Winda mengusap kepala Shaka sebelum pergi.


Dibalik tirai ranjang perawatan Shaka ada Arjuna yang juga di rawat di sana. Perasaannya begitu kacau mendengar suara Winda dan Zivana. Perhatian yang ia harapkan dari dua orang itu justru tertuju pada Shaka.


Tidak tahan dengan situasi yang berkecamuk di hati, Arjuna mencabut infusnya sendiri. Lalu bangkit dan pergi dari UGD.


"Lho, Mas, mau ke mana?" tanya perawat yang memergoki Arjuna.


"Mas, Mas nggak boleh pergi dulu," sergah perawat itu tapi tak digubris oleh Arjuna.


Sampai di depan pintu UGD, Arjuna bertemu dengan papanya.


"Mau ke mana kamu, Juna?"


"Pulang, Pa. Juna baik-baik aja, kok."


Pras memperhatikan kondisi Arjuna dari atas sampai bawah. Memang terlihat baik-baik saja.


"Ya udah, Papa urus administrasi dulu."


"Pak, Masnya belum boleh pulang. Harus dapat ijin dari dokter dulu," ujar perawat.


Arjuna tak menanggapi. Ia hanya ingin segera pulang.

__ADS_1


"Udah, Pa, pulang aja," ujar Arjuna mengabaikan ucapan perawat.


Untung saja Arjuna dan papanya tidak bertemu dengan Bagas dan Winda sebab orang tua Shaka itu memilih pergi mencari teh hangat.


Tak lupa mereka membawakan satu untuk Zivana. Mereka harus tetap sehat di atas gempuran masalah yang Shaka ciptakan.


*****


Keesokan harinya, sesuai waktu yang sudah dijadwalkan Shaka masuk ruang operasi sekitar pukul sembilan. Shaka tidak menjalani operasi besar, hanya pemasangan gips saja untuk mengembalikan tulang kaki dan tangannya yang retak. Pria itu masih bernasib baik karena tidak ada cedera parah saat kecelakaan.


Usai pemasangan gips selesai Shaka langsung dipindahkan ke ruang rawat. Bagas hanya sebentar mengantar Shaka ke ruang perawatan, setelahnya ia pamit dan menyerahkan segala urusan Shaka pada istrinya. Begitu juga dengan Winda, ia ikut pulang bersama Bagas untuk mempersiapkan kebutuhan kantor pria itu.


"Nanti Mama akan suruh supir atau Mbak Eni datang antar makanan juga baju buat kamu dan Shaka," ujar Winda. "Pokoknya kalau ada apa-apa segera hubungi Mama atau Papa. Ok."


"Iya, Ma," jawab Zivana.


Winda berpesan pada Zivana agar sabar mengurus Shaka sebab itulah tugas istri ketika suami sakit. Tak lupa Winda pamit juga pada Shaka. Begitupun Bagas. Mereka meninggalkan ruang perawatan Shaka dengan tenang karena ada Zivana yang menjaga putra mereka.


Zivana mengantar Bagas dan Winda sampai ke depan pintu.


"Ngapain lo liatin gue kayak gitu?" tanya Zivana begitu kembali masuk.


Shaka menggeleng. Ia menepuk sisi kosong di ranjang perawatannya.


"Maksud lo apa?"


"Sini." Kembali Shaka menepuk ranjang di sisinya.


"Ogah!"


Shaka langsung melengos.


"Ciye, bayi gede gue ngambek," goda Zivana.


"Lo bilang apa, bayi?"


Zivana mengangguk.


"Idih suami, sejak kapan?" Zivana masih saja bergurau.


Melihat senyum mengejek di wajah Zivana, Shaka makin merasa kesal.


"Ambilin gue minum!" titahnya ketus.


Tanpa banyak bicara Zivana berjalan mengambil botol air mineral yang ada di sofa dan memberikannya pada Shaka.


Tidak langsung mengambil, Shaka justru menatap botol itu dengan marah. Lebih tepatnya marah pada Zivana yang tak pengertian. "Bukain!" sentak Shaka.


Bukan Zivana tak peka. Gadis itu memang sengaja melakukannya untuk membuktikan ucapan sebelumnya.


Zivana mengambil botol itu dan membukanya lalu menyerahkannya kembali pada Shaka. "Ini namanya apa kalau bukan bayi. Buka tutup botol aja nggak bisa."


Shaka mengabaikan cibiran itu, ia ambil botol dengan kasar lalu meneguk isinya. Ia tatap satu tangan dan satu kaki yang sudah terpasang gips. Sebuah benda yang menghalangi geraknya.


"Benda sialan!" umpatnya lirih.


"Bukan salah gipsnya, tapi salah kelakuan lo yang kayak ABG labil. Kemarin abis dijemput dari kantor polisi gara-gara tawuran, hari ini masuk rumah sakit karena balap liar. Nggak ada kapok-kapoknya, ya, lo?"


Shaka terdiam seketika mendengar omelan istrinya.


"Gimana gue mau percaya buat punya anak sama lo kalau kelakuan lo aja masih kayak bocah. Yang ada gue entar gue cepet tua gara-gara ngurus anak tanpa suami."


Shaka masih saja terdiam. Sedikit banyak ia memikirkan juga ucapan Zivana.


Melihat Shaka yang hanya diam, Zivana memilih meninggalkan pria itu dan rebahan di sofa.


Sesekali menengok ke ranjang tempat Shaka berbaring, kalau-kalau Shaka membutuhkan bantuan. Namun, sudah lebih dari satu jam, Shaka tak memanggilnya.


Apa pria itu ngambek lagi?

__ADS_1


Di atas ranjang, Shaka begitu gelisah. Sejak tadi ia menahan buang air kecil karena tak bisa bergerak sendiri.


"Ziva," panggil Shaka akhirnya.


Zivana segera bangkit menghampiri. "Kenapa, mau minum?"


Shaka menggeleng. "Gue mau ke kamar mandi."


"Ngapain?"


"Buang air lah, pakai nanya lagi." Shaka masih saja ketus.


"Emang lo bisa jalan?"


"Makanya lo bantuin gue."


Zivana melihat kondisi Shaka yang satu tangan dan kakinya tak bisa digerakkan. Pasti akan sangat susah membawa pria itu ke kamar mandi.


"Tunggu!" Zivana berpikir dengan cepat. Ia pergi ke kamar mandi. Mengambil


Pispot untuk Shaka.


"Pakai ini aja." Zivana mengulurkan pispot pada Shaka.


Bukannya langsung diambil, Shaka justru menatap benda itu. "Buat apa?"


"Katanya mau pipis."


Shaka belum amu mengambil benda tersebut.


"Kalau gue bawa lo ke kamar mandi, pasti akan sangat repot. Lo pakai ini aja, entar gue yang buang ke closet."


Shaka terlihat memikirkan ucapan Zivana. Dengan tangannya yang sehat ia mengambil benda berwarna putih itu dati Zivana.


"Eh, Mau ke mana, lo?" tanya Shaka ketika Zivana akan pergi setelah menyerahkan pispot itu.


"Keluar bentar biar lo nggak malu kalau ada gue," jawab Zivana jujur.


Shaka mengembuskan napas kasar. "Kalau lo keluar siapa yang mau bantu gue."


"Kan udah gue ambilin pispotnya tinggal lo buang air di situ, gampang kan."


"Gue tahu, tapi ini gimana. Gue nggak bisa sendiri."


Zivana baru sadar kalau tangan Shaka yang satu tak bisa digunakan. Sementara harus ada yang memegang pispot itu ketika dipakai. Pikiran Zivana langsung horor.


"Lo nggak nyuruh gue megangin, kan?" Zivana bergidik membayangkan.


"Terus kalau bukan lo, apa gue harus minta suster yang pegangin?" seru Shaka jengkel.


"Tapi, kan ...."


"Udah, buruan, gue udah nggak tahan!"


Dengan raut takut Zivana kembali mendekat pada Shaka. Terpaksa ia harus membantu pria itu karena status istri yang melekat padanya.


Takut, malu, canggung, juga risih adalah perasaan campur aduk yang kini menghinggapi Zivana. Tapi mau bagaimana lagi, Shaka tidak mau dibantu orang lain selain dirinya.


Baru satu hari mengurus Shaka sudah membuat Zivana lemas. Padahal dokter bilang gips Shaka akan dilepas setelah enam minggu.


Ya Tuhan, kuatkan Zivana.


"Jangan mikir jorok, lo!" seru Shaka usai Zivana membuang air dari pispot ke closet.


Tadinya Zivana pikir bakal lebih mudah karena Zivana tak perlu menahan berat badan Shaka yang besar dan membawanya ke kamar mandi. Nyatanya buang air di pispot jauh lebih horor dari bayangannya. Ia tak menyangka jika Shaka meminta dirinya untuk membantu proses tersebut.


"Please, ya, Shaka. Gue lagi males bercanda!" balas Zivana dengan berseru pula. Ia benar-benar lemas dengan drama pegang memegang tadi. Kini ia butuh waktu istirahat untuk membersihkan hati dan otaknya.


Di atas ranjang perawatan, Shaka justru tertawa melihat istrinya. Tak ada sedikit pun rasa malu pada diri pria itu. Ia justru menganggap lucu raut Zivana yang tegang tadi. Padahal cuma disuruh bantu buang air bukan diajak uji nyali tapi pucatnya udah ngalahin lihat hantu.

__ADS_1


Tidak apa dibilang seperti bayi, karena ternyata menjadi bayi justru lebih seru. Membuat Zivana selalu menuruti permintaannya.


"Kita lihat apa lagi yang bisa dilakukan bayi ini, Sayang." Senyum miring tersungging di bibir Shaka. Tak sabar membuat Zivana kewalahan dengan ulah bayi besar ini.


__ADS_2