
Arjuna sedang ada di markasnya untuk mempersiapkan adu balap malam ini. Pertarungan kali ini adalah pertarungan besar menurutnya.
"Apa pun hubungan lo dengan Zivana, gue akan membuat hubungan itu putus malam ini juga," batin Arjuna.
Lewat adu balap ia akan mengalahkan Shaka dan membuat pria itu tahu rasanya kehilangan.
"Bos, udah siap? Mau tes drive, nggak?" ujar mekanik yang mempersiapkan motor Arjuna.
"Sudah siap semua?" tanya Arjuna.
Mekanik itu mengacungkan jempolnya. "Malam ini siapa pun lawan lo, bakal nangis-nangis di kaki, lo, Bos," ujar sang mekanik dengan jewama.
Arjuna menepuk bahu pria yang sudah lama bekerja padanya itu.
Di tempat berbeda ada Shaka dan teman-temannya yang juga tengah mempersiapkan kuda besi yang akan menjadi tunggangan Shaka untuk bisa mengalahkan Arjuna.
Shaka memenuhi tantangan Arjuna untuk menyelesaikan urusan mereka di arena balap liar. Pesan tantangan yang dikirim Arjuna begitu jelas mengatakan akan taruhan balap kali ini.
Jika Arjuna kalah ia rela menjauhi Zivana, tapi jika Arjuna menang Shaka harus menceraikan Zivana dan keluar dari Bullent Ant.
"Kali ini taruhannya apa, Bos?" tanya Rendi.
"Harga diri!" jawab Shaka dengan fokus yang tak teralih dari motor balap miliknya.
Rendi yang tak paham maksud Shaka, menoleh pada Farel.
Mereka berdua sedikit menjauh dari kesibukan Shaka dan mekaniknya.
"Apa kali ini yang jadi taruhan adalah Bullent Ant?" tanya Rendi.
"Maksud, lo?" Farel bingung juga.
"Ya, kali aja malam ini bos mempertaruhkan Bullent Ant pada Arjuna. Siapa yang kalah harus membubarkan diri atau malah harus jadi anak buah dari yang menang," jawab Rendi.
__ADS_1
Farel memegang dagunya. Memikirkan kebenaran ucapan Rendi.
"Bisa jadi, sih," ujar Farel. Setuju dengan pemikiran Rendi.
"Kalau benar kayak gitu, kalau si bos menang, enak kita. Nah, kalau kalah, habis kita dijadikan kacung sama Arjuna dan anak buahnya." Farel memikirkan nasib geng motor tempatnya bernaung selama ini.
Ia tak bisa membayangkan jika Bullent Ant harus bubar. Geng motor yang dibentuk Shaka ini sudah lama ada. Farel sendiri sudah merasa nyaman bersama teman satu geng di Bullent Ant. Nama Bullent Ant mereka pilih karena punya filosofi tersendiri.
Bullent Ant atau yang berarti semut peluru adalah salah satu hewan berbahaya yang hidup di hutan Amazon. Gigitan hewan ini begitu menyakitkan. Sama seperti bullent ant di hutan Amazon, mereka juga ingin ditakuti oleh geng motor lain di kota ini. Menjadi geng yang solid layaknya semut dan menjadi berbahaya layaknya semut peluru.
"Wah, nggak bisa dibiarkan ini. Si bos harus menang ini," sambung Farel. Ia langsung berbalik pada Shaka yang masih sibuk dengan motornya.
"Bos, lo nggak boleh kalah pokoknya. Harus menang, Bullent Ant harus tetap selamat. Ini rumah kita bos, jangan sampai ada yang berani mengusik." Farel berkata seolah tahu benar apa yang Shaka pertaruhkan.
"Gue setuju bos, lo harus menang malam ini. Pokoknya apa pun bakal kita lakukan agar Bullent Ant tetap ada. Kalau mau perang kita perang sekalian," timpal Rendi penuh semangat.
"Ngomong apa sih kalian, berisik banget. Ambilin tuh obeng!" Shaka tak begitu menggubris ucapan Farel dan Rendi, yang ia fokuskan hanya membuat performa motornya sempurna malam ini. Arjuna harus diberi pelajaran agar tahu siapa dia Biar pria itu sadar jika tak ada tempat untuknya di hati Zivana.
Baik Shaka maupun Arjuna tak mau menganggap adu balap kali ini biasa saja. Adu balap kali ini adalah penentu siapa yang bakal bisa bersama dengan Zivana.
Sementara itu anak buah Shaka maupun Arjuna tak lupa bersiap jika nanti harus ada tawuran di akhir balapan. Hal itu sering terjadi, jadi mereka sudah antisipasi.
Suasana arena balap liar malam ini sangat berbeda dari biasanya. Hanya ada dua peserta yakni Shaka dan Arjuna. Duel antara dua pentolan geng motor itu selalu mereka tunggu-tunggu. Setelah sekian lama Arjuna tak muncul di arena balap liar kali ini justru muncul dan langsung menantang Shaka. Aksi yang tak boleh mereka lewatkan.
"Vibe-nya beda oy malam ini, ngeri-ngeri sedap," ujar salah satu orang di pinggir arena.
"Kenapa?" sahut yang lainnya.
"Nggak liat lo di samping kanan dan kiri kita, mereka udah siap aja buat perang."
"Benar juga, ya."
"Tapi nikmati dulu aja balapnya entar kita kabur kalau mereka udah saling serang."
__ADS_1
"Kalau nggak bisa kabur?"
"Harus bisa kalau lo mau selamat, kalau nggak bisa mati lo di sini."
Keduanya saling mengangguk.
Di atas motor, Shaka dan Arjuna sudah bersiap.
"Mampus lo, malam ini!" Arjuna tersenyum miring di balik helm.
"Gue bakal bikin lo sadar kalau lo nggak akan pernah menang lawan gue, sampai kapan pun!" ujar Shaka ketika menoleh ke arah lawan.
Aba-aba dimulai, dan tarikan gas dari kedua motor yang mereka tunggangi membawa laju motor melesat di jalanan.
Keduanya saling kejar mengejar. Shaka di depan, tak lama Arjuna menyalip. Tak mau kalah, Shaka semakin memperkuat tarikan gasnya dan berhasil menggantikan posisi Arjuna.
Semangat untuk menang membakar keduanya. Zivana harus mereka dapatkan lewat adu balap ini.
Meski berhasil menggantikan posisi Arjuna, itu hanya sesaat karena Arjuna tak akan membiarkan Shaka menang dengan mudah. Ia pun terus memacu kendaraannya untuk bisa menyalip Shaka. Shaka yang tak terima mengerahkan segala manuver untuk kembali berada di depan Arjuna.
Begitu terus sampai hampir garis finish dan Shaka berada tepat di depan Arjuna. Tak ingin kalah, Arjuna memepet motor Shaka dan mengambil resiko yang sangat besar. Motor mereka saling berbenturan dan membuat kedua motor itu jatuh karena hilang keseimbangan.
Keduanya terpelanting dari motor sebelum mencapai finish. Semua yang ada di pinggir arena balap terutama anak buah masing-masing langsung panik untuk melihat kondisi ketua geng mereka.
Tidak ada yang mau ambil resiko, mereka memilih untuk membawa keduanya ke rumah sakit dan mengabaikan hasil dari adu balap malam ini.
"Cepat cari mobil!" seru Rendi pada temannya.
Rendi dan Farel yang pertama mendekat berusaha menjaga kesadaran Shaka. Tak kalah panik dari Rendi dan Farel, anak buah Arjuna pun bingung melihat kondisi ketua mereka.
Barulah ketika sampai di rumah sakit anak buah Shaka memberi tahu Bagas tentang keadaan Shaka. Begitu mendengar kabar tentang putranya, Bagas langsung meneruskan berita itu pada Zivana.
Zivana yang baru saja bisa istirahat terpaksa bangun saat mendengar panggilan dari papa mertuanya.
__ADS_1
"Iya, Pa, Ziva segera ke rumah sakit," pungkas Zivana diujung panggilan.
Bagaimanapun Shaka sudah menjadi bagian dari hidupnya. Sekuat apa pun menolak untuk dekat dengan pria itu, tapi kalau mendengar kabar tak enak tentang Shaka, panik dan takut pasti Zivana rasa.