Dinikahi Berandal Kampus

Dinikahi Berandal Kampus
Bab. 34 Siapa itu Zivana?


__ADS_3

"Yah ...," teriak Zivana begitu sampai kamar Yusuf.


"Ayah baik-baik saja, kan?" Zivana melihat Ayahnya yang tengah memungut pecahan gelas yang berserakan di lantai.


"Astaga, Ayah." Zivana mendekat. "Sudah-sudah, biar Ziva aja. Ayah istirahat aja."


"Nggak apa-apa, cuma bersihin pecahan gelas ayah bisa sendiri," tolak Yusuf.


"Udah, Yah, nurut sama Ziva. Ayah istirahat aja." Zivana menuntun ayahnya untuk bangkit dan membawanya kembali ke ranjang.


"Tolong jaga Ayah," ujar Zivana pada Shaka sebelum ia keluar mengambil alat untuk membersihkan pecahan gelas.


Membawa sapu juga pengki Zivana membersihkan pecahan gelas yang berserakan. Lalu kembali menyiapkan air untuk ayahnya, tapi kali ini Zivana memakai botol agar tidak jatuh dan pecah seperti sebelumnya.


"Sudah kalian kembali ke kamar saja, istirahat. Ayah juga mau istirahat," ujar Yusuf setelah Zivana meletakkan botol minumnya.


"Bener nggak apa-apa ditinggal sendiri?" Zivana ragu.


"Iya." Yusuf meyakinkan.


"Yah, apa nggak sebaiknya priksa ke dokter aja biar tahu ayah sakit apa," ujar shaka. "Besok Shaka antar, ya."


"Nggak usah, Ayah sehat kok. Tadi itu Ayah habis cuci tangan terus pegang gelas, karena licin jadi jatuh. Sudah ... nggak usah khawatir soal Ayah, semua baik-baik saja. Sana balik ke kamar, kalian juga harus istirahat. Pasti capek tadi angkat-angkat barang. Besok juga harus kuliah, kan?"


Zivana mengembuskan napas kasar. Ayahnya memang sekeras kepala itu.

__ADS_1


"Ayo," ajak Zivana akhirnya. Ia keluar lebih dulu diikuti Shaka di belakang.


*****


Di rumahnya Arjuna tidak keluar kamar sama sekali sejak pulang dari kantor polisi. Ia masih memikirkan kenyataan tentang status Zivana. Lebih tepatnya menolak kenyataan jika Zivana adalah istri dari Shaka—rivalnya.


"Kenapa lo nggak cerita sama gue, Zi," ujar Arjuna pada potret Zivana yang ada di ponselnya.


Diam-diam Arjuna mengambil foto Zivana ketika sedang bekerja. Seobsesi itu Arjuna pada gadis berkaca mata itu.


"Atau, memang sebenarnya nggak pernah ada hubungan apa pun antara lo dan Shaka?" ujarnya lagi. Masih menatap wajah Zivana.


Arjuna mulai berpikir jika semua hanya akal-akalan Shaka saja. Sebab selama ini ia tak pernah melihat mereka bersama sama sekali. Bahkan ketika ketemu di kampus pun tak ada interaksi di antara keduanya.


"Tapi kalau benar?" Pikiran Arjuna mulai ke mana-mana. Ia letakkan ponsel di tangannya, lalu beralih pada anak panah yang ada di atas meja.


"Emang Bangsat, lo, Shaka!" teriak Arjuna. Melempar satu anak panah ke dart board yang menempel di dinding.


Tidak mengenai sasaran yang diinginkan Arjuna melempar lagi. "Bangsat, lo!"


"Kalau benar Zivana adalah istri lo, kali ini gue nggak akan ikhlas begitu saja. Kemarin gue biarkan wanita itu hidup sama lo sebagai ibu lo, sekarang gue nggak akan biarkan lo hidup dengan Zivana diatas sakit hati gue. Gue nggak rela!" Satu lagi anak panah dilempar Arjuna. Dan kali ini tepat mengenai sasaran.


"Siapa itu Zivana?"


Arjuna menoleh. Ada papanya mendekat.

__ADS_1


"Papa?"


"Jawab Papa, siapa itu Zivana. Apa dia pacar kamu?"


Arjuna bingung bagaimana harus menjawab. "Ehm ... enggak, Pa."


Selama ini Arjuna tak pernah bicara banyak hal dengan papanya, terlebih soal wanita. Jadi rasanya begitu canggung ketika tiba-tiba papanya ingin tahu tentang gadis yang sedang menarik hatinya.


"Kenapa? Papa juga ingin tahu pacar kamu. Kenalin lah ke papa," ujar Pras. Terlihat ingin akrab dengan Arjuna tapi justru menimbulkan rasa tak nyaman bagi pemuda itu.


Arjuna justru terdiam.


"Oh, papa tahu. Apa Zivana itu adalah gadis yang turut serta di kantor polisi bersama papa dan mamanya Shaka?" tebak Pras.


Kini Arjuna mengangguk. "Iya, Pa."


"Apa kamu suka dia?"


Arjuna kembali terdiam.


Pras jadi tersenyum sendiri. Nampaknya ia tahu sekarang. "Kalau kamu suka, perjuangkan. Jangan biarkan orang lain merebutnya begitu saja dari kamu. Jangan jadi pecundang atau kamu akan menyesal selamanya," ujar Pras lalu menepuk bahu Arjuna dan pergi.


Kepergiaan ayahnya membuat Arjuna berpikir tentang perjuangan yang papanya maksud. Apakah itu artinya demi memperjuangkan Zivana ia harus menyingkirkan Shaka lebih dulu.


Arjuna manggut-manggut. Ia paham sekarang. "Tunggu gue Zivana," gumam Arjuna.

__ADS_1


__ADS_2