Dinikahi Berandal Kampus

Dinikahi Berandal Kampus
Bab. 43 Ingin Jadi Suami Beneran


__ADS_3

Arjuna terus menarik gas ditangan kanan. Menerobos hujan yang makin lama makin deras.


Di dadanya bertahta kemarahan yang siap meledak. Mungkin niatnya untuk datang ke rumah Shaka adalah hal yang tidak tepat. Setelah sekian lama ia kembali menginjakan kaki di komplek perumahan itu.


Hanya untuk memastikan jika Zivana benar-benar menantu keluarga Bagas Mahendra. Bukti nyata yang ia lihat justru membuat kebenciannya pada Shaka semakin besar.


Setiap hal yang ia inginkan selalu menjadi milik Shaka. Kenapa takdir seolah tidak berpihak padanya. Kenapa harus Shaka lagi?


Zivana. Gadis yang mulai menyulut api cinta di hatinya tenyata adalah istri dari rivalnya. Sebuah kenyataan yang sulit untuk Arjuna terima. Semua terasa begitu menyakitkan.


Arjuna terus memacu motornya sampai di sebuah rumah di perumahan elit. Usai pintu gerbang terbuka, Arjuna segera memarkir motornya. Ia masuk tanpa peduli kondisi dirinya yang basah kuyup.


"Dari mana, kamu?" tanya pria paruh baya yang merupakan ayah Arjuna.


"Dari jalan-jalan, Pa."


Arjuna langsung meninggalkan papanya menuju kamar. Bukannya membersihkan diri atau mengeringkan tubuh lebih dulu, Arjuna malah menjatuhkan diri di atas ranjang. Tidak peduli dengan tubuh basahnya.


Ia butuh teman atau apa pun untuk bisa melampiaskan semua kemarahan yang bercokol di hati. Akan tetapi di rumah ini tidak ada yang bisa ia jadikan teman untuk berbagi.


"Aarghh ...." Hanya berteriak yang bisa Arjuna lakukan.


*****


Hujan masih betah turun. Bahkan semakin malam semakin deras saja air yang jatuh. Udara pun menjadi semakin dingin. Lebih dingin dari biasanya.


"Mau tidur di mana, lo?" tanya Shaka saat melihat Zivana mengambil alas tidurnya.


"Emang mau di mana lagi, nggak mungkin kan lo gantiin gue tidur di lantai," jawab Zivana ketus.


"Malam ini dingin banget, gue nggak mau lo mati beku di bawah. Lo tidur di sini aja." Shaka menepuk sisi ranjang yang kosong.


Zivana menoleh, masih melihat tangan Shaka yang menepuk ranjang. Tatapannya penuh curiga.

__ADS_1


Shaka geleng-geleng kepala sembari mengembuskan napas kasar melihat reaksi istrinya. "Cuci tuh otak kotor lo, lagian gimana juga gue bisa macem-macem sama lo kalau kondisi gue aja kayak gini," ujar Shaka menebak apa yang ada di otak Zivana.


Zivana bergeming. Melihat tangan dan kaki Shaka yang terbalut Gips. Dengan kondisi Shaka yang seperti itu harusnya Zivana merasa sangat tenang.


"Udah buruan, sebelum gue berubah pikiran!" ujar Shaka.


Zivana kembali meletakkan bedcover yang biasa ia pakai alas untuk tidur ke dalam lemari, dan hanya mengambil selimut saja. Menuruti kata Shaka, ia berbaring di samping Shaka dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut karena memang udara malam ini sangatlah dingin.


Zivana teringat sesuatu tentang Arjuna tadi sore. Untuk apa pria itu datang ke rumah mertuanya? Apa untuk bertemu Winda?


"Bagaimana tadi, sudah bisa ambil cuti?" tanya Shaka membuka pembicaraan.


Zivana langsung membuka selimutnya. Ia mendongak untuk menatap Shaka yang duduk bersandar. "Gue berhenti."


Shaka cukup kaget. "Kenapa?"


"Karena cuti yang gue ajukan terlalu lama. Jadi gue harus berhenti." Terdengar kesedihan dalam nada bicara Zivana.


Sontak Zivana terhenyak. Ia langsung duduk mensejajarkan diri dengan Shaka yang bersandar. "Nggak salah denger gue, duit dari mana lo mau bayar gue, minta ke bokap? Bukannya semua akses keuangan lo udah diblokir?"


Shaka baru ingat sekarang. Sejak ia pulang dari kantor polisi, papanya membekukan semua akses keuangannya.


"Nggak usah ngadi-ngadi deh lo sok mau bayar gue, padahal jajan aja masih minta."


"Gue mau kerja," ujar Shaka serius.


Zivana kontan tertawa. "Dengan kondisi lo yang kayak gini?" cibir Zivana.


"Ya nggak juga, entar kalau gue udah sembuh gue mau kerja. Gue pengen kasih nafkah ke elo."


Tawa Zivana semakin keras seiring dengan derasnya air hujan yang turun.


"Jadi ceritanya lo mau jadi suami beneran gitu?"

__ADS_1


Shaka mengangguk yakin.


"Gue juga udah mikirin soal status kita. Gue nggak akan lagi nutup-nutupin. Gue pengen semua orang tahu kalau lo itu istri gue. Biar nggak ada lagi cowok yang gangguin lo, terutama si Arjuna itu."


Sontak Zivana terduduk. "Gila lo! Nggak ... gue nggak setuju!"


"Kenapa?"


"Kalau pernikahan ini berakhir dan gue jadi janda, orang-orang bakalan tahu. Dan gue belum siap untuk itu."


"Lo nggak usah takut, gue nggak akan ceraiin lo."


Zivana terlihat bingung.


"Gue mau jalani pernikahan ini layaknya pernikahan sebenarnya."


Zivana semakin bingung. Lain halnya dengan Shaka yang sudah merasa mantap untuk hidup bersama dengan Zivana. Sejak ia sakit, Zivana mengurusnya dengan telaten. Tidak pernah mengeluh, dan apa yang Zivana lakukan membuat Shaka seperti tergantung pada gadis itu.


Shaka sudah memikirkan masak-masak sejak kedatangan teman-temannya tadi. Akan lebih baik dan nyaman jika ia jujur tentang statusnya yang sudah menikah. Rencananya ia akan mengumumkan pada teman-temannya juga pada teman di kampus soal statusnya dengan Zivana.


"Shaka, please jangan bikin hidup gue makin susah."


Shaka tak menjawab kebingungan Zivana. Ia justru merentangkan tangannya yang sehat. Meminta Zivana untuk mendekat.


"Kemari!" pinta Shaka.


Zivana menatap diam.


"Masak suami mau peluk aja nggak boleh," ujar Shaka dengan gaya sok manis.


"Nih, peluk guling aja!" Zivana mengambil guling miliknya lalu menyerahkannya pada Shaka. Sementara dirinya kembali merebahkan diri dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Membuat Shaka tersenyum menghadapi Zivana yang ternyata sulit diluluhkan.

__ADS_1


__ADS_2