
Untuk lepas dari Shaka Zivana memukul-mukul dada pria itu. Tetapi meskipun Shaka melepaskannya tetap saja pria itu tidak mau keluar kamar. Alhasil mereka jadi tidur satu ranjang.
Memang benar Shaka tak melakukan apa pun padanya tapi membuat Zivana tak bisa tidur nyenyak. Ia harus bergadang untuk berjaga-jaga. Takut ada serangan mendadak.
Habis subuh baru ia bisa tidur dengan nyaman walau sebentar. Yang akhirnya membuat ia kesiangan.
"Kurang ajar memang si Shaka. Bikin gue nggak bisa tidur," gumam Zivana dengan mulut penuh busa di depan wastafel.
Ia ambil gelas untuk berkumur. Lalu memperhatikan lingkar hitam di matanya. "Udah kayak zombie aja gue."
Buru-buru Zivana mandi untuk membuat tubuhnya segar. Hari ini ada kuliah pagi jadi ia harus segara berangkat, sebab ini sudah terlalu siang dari waktu yang seharusnya ia berangkat.
Ia biarkan saja Shaka yang masih pulas di ranjangnya dan pergi tanpa pamit.
Shaka terbangun karena mendengar dering ponselnya. Namun tak berniat mengangkat, ia biarkan saja ponsel itu terus berdering hingga mati sendiri. Ia meraba sisi ranjang yang semalam dipakai Zivana, yang ternyata kosong. Dengan mata yang dipaksa membuka, Shaka melihat ke arah jam dinding. Rupanya sudah jam sepuluh. Pantas saja Zivana sudah pergi.
Ia bangkit menuju kamar mandi. Baru setelahnya mengambil ponsel untuk melihat siapa yang meneleponnya.
Giska.
Ia abaikan panggilan itu tanpa berniat untuk menelepon balik. Lalu membuka aplikasi chating dan melihat banyak pesan yang masuk. Lagi-lagi salah satunya dari Giska. Yang menarik perhatian dan justru Shaka buka adalah pesan dari nomor tak dikenal.
Mata Shaka mendelik tajam ketika melihat foto yang dikirimkan oleh nomor tersebut. Di sana memperlihatkan Zivana yang berangkat ke kampus diantar oleh Arjuna.
Sedikit berlari Shaka menuju ke kamarnya. Mengambil hoodie dan segera tancap gas ke kampus. Tujuannya adalah fakultas ekonomi.
"Lo liat Arjuna?" tanya Shaka pada salah satu mahasiswa yang sedang nongkrong.
Pria itu menggeleng.
Shaka lanjut berjalan. Mencari keberadaan Arjuna. "Lo lihat Arjuna?" tanya Shaka lagi. Kali ini pada mahasiswi.
"Di kantin kayaknya," jawab mahasiswi itu.
Tanpa mengucapkan terima kasih Shaka pergi begitu saja menuju kantin. Matanya mengedar mencari di mana posisi Arjuna. Begitu menemukan targetnya ia langsung mendatangi dengan langkah menggebu-gebu.
Tidak ada basa-basi dari Shaka. Pria itu menarik baju Arjuna dari belakang hingga Arjuna terjengkang.
"Apa-apaan, lo?" tanya Arjuna kaget.
"Jauhi Zivana!"
__ADS_1
Arjuna bangkit. "Siapa, lo, ngelarang-ngelarang gue!" teriak Arjuna.
"Nggak perlu banyak bacot, lo, kalau gue bilang jauhi, ya jauhi aja, Bangsat!" Shaka kembali melayangkan sebuah bogem ke wajah Arjuna.
Tak mau kalah, Arjuna membalas pukulan Shaka. Keduanya adu jotos tanpa lihat tempat. Tidak ada yang melerai kalau dua orang ini yang berkelahi.
Sampai keduanya sama-sama terjatuh dan masih belum ada yang mengalah. Pengunjung kantin makin ramai berdatangan untuk melihat perkelahian mereka hingga dua orang security datang.
"Satpam ... woy ... satpam," teriak salah satu mahasiswa memberitahu.
Tidak ingin banyak masalah di kampus Shaka menyudahi pukulannya. Begitupun Arjuna. Keduanya sama-sama bangkit.
"Ingat ya, urusan kita belum selesai!" ancam Shaka sebelum pergi.
Zivana tiba di kantin setelah mendapat kabar dari teman-temannya yang membicarakan mengenai perkelahian Shaka dan Arjuna. Begitu sampai ia tidak melihat Arjuna maupun Shaka di tempat kejadian. Rupanya semua telah usai.
"Ada apa?" tanya Zivana pada seseorang yang berada di kantin. Tentu ia pura-pura.
"Arjuna sama Shaka anak tehnik berkelahi," jawab mahasiswi itu.
"Kenapa?"
Mahasiswi itu mengangkat kedua bahunya. "Nggak tahu, tiba-tiba aja Shaka datang dan menarik tubuh Arjuna sampai jatuh. Abis itu mereka saling pukul."
"Rebutan cewek kali," sambung mahasiswi itu.
Zivana terperangah. Maksudnya?
"Biasa kan cowok kaya mereka rebutan cewek. Kalau bener mereka rebutan cewek, jadi penasaran gue. Cewek kayak gimana ya, kok bisa jadi rebutan Arjuna dan shaka. Pastinya cewek itu beruntung banget 'kan?" Mahasiswi itu tersenyum sendiri.
"Kenapa, Zi," sela Dinda yang baru datang.
"Nggak tahu, ada orang berantem katanya."
"Oh, ya ... siapa?" tanya Dinda antusias. Jiwa keponya membara
"Arjuna sama Shaka," jawab mahasiswi itu.
"Apa?" Dinda kaget. Matanya melotot sampai hampir keluar.
"Serius, lo?"
__ADS_1
Mahasiswi itu mengangguk.
"Wah, bisa jadi gosip terhangat ini," seru Dinda.
Saat Dinda sibuk mengintrogasi mahasiswa itu, Zivana pamit undur diri. "Ya dah, makasih, ya," ujar Zivana pamit pergi.
"Eh, Zi, mau ke mana?" seru Dinda.
"Ada urusan bentar," jawab Zivana kemudian pergi.
Zivana menjauh dari Dinda dan mencari tempat untuk menelpon Shaka.
"Halo lo di mana?" tanya Zivana tanpa basa-basi begitu panggilan diangkat.
"Auditorium."
Zivana lantas mematikan ponselnya menuju tempat yang Shaka sebutkan.
Benar saja, Zivana melihat pria itu duduk sendiri di antara bangku kosong. Zivana berjalan menghampiri, dan mengambil duduk tepat di samping Shaka. Pria itu tetap diam tak menoleh. Sampai Zivana sendiri yang meraih dagu Shaka untuk melihat kondisi suaminya.
Tepat seperti apa yang ia bayangkan. Lebam di wajah terutama sudut bibir dan pelipis.
Zivana mengembuskan napas kasar. "Nggak ada kapok-kapoknya sih lo berantem. Mau sampai kapan lo kayak gini?"
Shaka terima semua omelan Zivana, sebab ia memang salah. Tapi tidak mau juga mengaku salah karena apa yang ia lakukan demi Zivana.
"Gue nggak mau lo terlibat masalah terus. Papa pasti kecewa kalau masalah ini sampai ke pihak kampus."
Shaka terus terdiam pun dengan Zivana.
"Gue suka lo peduli sama gue," ujar Shaka.
Zivana menoleh demi melihat wajah Shaka sekarang ini.
"Dan gue akan lebih suka kalau lo peluk gue sekarang."
Zivana mendelik seketika. Memukul bahu pria itu sebelum akhirnya pergi dari auditorium.
Kalau Shaka sudah bisa menggodanya itu artinya pria itu baik-baik saja. Zivana tenang sekarang untuk kembali ke kelas.
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Shaka. Ia rogoh kantong hoodienya dan membaca pesan tersebut.
__ADS_1
[Malam ini datang ke arena kalau lo mau gue jauhi Zivana!]
Pesan dari Arjuna membuat Shaka langsung bangkit. Ini saatnya menyelesaikan urusan soal pria itu agar tak berani lagi mendekati Zivana.