
"Tidak semua, hanya cerita kalau kalian adalah teman lama sekaligus saudara tiri."
"Dasar ember!" umpat Arjuna.
"Kalau lo memang anak kandung mama Winda kenapa waktu itu lo bersikap tak acuh. Bukannya itu menyakiti mama?" Zivana melihat saat itu, juga melihat bagaimana kesedihan mama mertuanya itu ketika di mobil.
"Gue udah lama nggak pernah anggap dia ibu gue," jawab Arjuna tanpa beban.
Zivana mendelik menatap Arjuna yang fokus menyetir. Tak lagi bisa berkata setelah mendengar pengakuan seorang anak terhadap ibunya. Apa semudah itu
memutus hubungan darah?
"Apa lo cinta sama Shaka?" tanya Arjuna mengalihkan topik pembicaraan. Malas kalau harus membahas masa lalu tentang ibunya.
Zivana yang masih sibuk memikirkan perasaan Winda jika tahu semua yang Arjuna ucapkan, seperti tertarik pada kenyataan.
Cinta? Dirinya dan Shaka?
Itu seperti hal mustahil, kan?"
Cukup lama Zivana tak menjawab. Dan itu dimanfaatkan Arjuna untuk menyimpulkan.
"Jadi kalian nikah tanpa cinta? Dijodohkan?" tebak Arjuna.
Ekspresi kaget sekaligus heran dari Zivana membuat Arjuna tertawa. Ia yakin tebakannya benar.
"Apa masih ada perjodohan di jaman seperti ini?" ujar Arjuna. Lebih tepatnya mengejek.
Zivana malas juga menanggapi kalau hanya jadi bahan bullyan. Ia memilih untuk menatap ke jendela dan mengabaikan Arjuna.
Dari sikap yang ditunjukkan Zivana justru membuat Arjuna bahagia. Nampaknya ia punya celah untuk bisa masuk atau bahkan merusak hubungan yang sebenarnya tak pernah ada itu. Ia hanya butuh lebih banyak bukti jika antara Zivana dan Shaka tak pernah ada apa-apa.
"Kita ini hidup di jaman modern, di mana kita punya hak menyuarakan penolakan. Apa lagi soal memilih pasangan, kalau tidak cinta kenapa mau menikah?" Arjuna melirik Zivana yang masih memalingkan wajah darinya.
Untunglah, mobil sudah sampai ke tempat tujuan. Jadi Zivana tak perlu menjelaskan alasan kenapa ia mau menikah dengan Shaka. Lagi pula pernikahannya kan hanya sementara dan Zivana tak perlu menjelaskan itu pada semua orang.
Zivana segera turun untuk memastikan alamat yang dituju memang benar. Usai menurunkan semua pesanan dan mereka kembali ke restoran. Tak sekali pun Zivana bicara. Arjuna membuat moodnya hancur karena tuduhan-tuduhannya.
Sampai restoran tutup dan semua pegawai pulang, Zivana tetap tak acuh pada Arjuna.
__ADS_1
"Lo nggak bareng gue?" tanya Nesa yang sudah duduk di atas motor maticnya.
"Nggak, lo duluan aja."
Setelah Nesa, Pak Iwan juga Deni menyusul pulang lebih dulu. Tinggal Zivana dan Arjuna berdua.
"Mau gue antar pulang?" tawar Arjuna.
Zivana melirik sinis. "Nggak perlu!"
"Lo tahu nggak sih, kalau lo judes kayak gitu lo malah makin cantik." Arjuna tertawa sendiri dengan apa yang ia ucapkan untuk Zivana.
Namun, tawanya pudar saat sebuah ducati hitam berhenti tepat di depannya. Tanpa pamit Zivana langsung naik ke motor tersebut.
Meninggalkan Arjuna sendiri. Tawa sebelumnya berubah menjadi kemarahan yang tertahan.
"Gue harus bikin lo ngerasain apa yang gue rasain hari ini Shaka. Zivana harus jadi milik gue!" Arjuna menatap tajam kepergian Zivana dengan Shaka. Tangannya terkepal dan rahangnya mengeras.
_______
"Shaka, lo mau ngajak gue mati, hah?" teriak Zivana ketika Shaka melajukan motor dengan kecepatan yang tak biasa.
Shaka langsung menarik rem mendadak. Otomatis tubuh Zivana terantuk punggung pria itu dan tangannya secara spontan melingkar kuat di perut Shaka.
Motor mereka berhenti, dan Shaka menoleh demi bisa melihat wajah Zivana. "Gue nggak suka lo deket-deket dengan Arjuna. Berapa kali sih harus gue bilang?" tegas Shaka.
Mulai lagi, deh!
"Gue nggak deket-deket." Zivana membela diri.
"Tadi itu apa? Berduaan sama dia," tukas Shaka.
"Astaga, ya jelas cuma berdua karena semua pegawai udah pulang. Salah lo sendiri kenapa jemputnya telat." Zivana tak mau disalahkan.
Shaka sadar akan kesalahannya tapi tidak mau mengakui. Ia lebih memilih untuk kembali menjalankan motornya. Kembali Shaka membuat Zivana kaget dan harus berpegangan erat saat pria itu menarik gas tiba-tiba.
"Shaka!" teriak Zivana.
Pria itu menikmati membuat Zivana kesal, tapi setelahnya ia membawa motor dengan kecepatan normal. Tak mau juga membawa Zivana dalam bahaya.
__ADS_1
"Lo udah makan belum?" tanya Zivana begitu sampai rumah.
Shaka mengangguk. "Udah."
Zivana menanyakan itu karena takut Shaka belum makan sementara di rumah ia tak punya apa pun untuk dimakan juga Shaka yang tak pegang uang seperti biasanya. Tapi mendengar shaka sudah makan Zivana tak jadi risau. Ia bisa istirahat dengan tenang.
"Ngapain lo iku ke kemar gue?" tanya Zivana ketika masuk kamar dan Shaka mengekor di belakangnya.
"Gue mau tidur di sini."
"Apa?" Mata Zivana membeliak. "Udah nggak waras, lo?"
Shaka menerobos masuk begitu saja melewati Zivana.
"Shaka, keluar lo sekarang, jangan bikin ribut! Gue mau istirahat."
"Gue juga mau istirahat. Kenapa nggak boleh, kemarin kita tidur berdua juga di rumah ayah."
Zivana berdecak kesal. "Itu lain Shaka! kalau di sini lo pasti macem-macem."
"Gue janji nggak bakal macem-macem. Satu macam aja cukup." Shaka tersenyum miring membuat Zivana bergidik seketika.
"Shaka, pokoknya lo harus keluar! gue nggak mau lo ada di sini!" Zivana berusaha menarik tangan Shaka agar keluar.
"Keluar, Shaka! Gue nggak mau lo bikin gue hamil!" teriak Zivana. Kembali berusaha menarik tangan suaminya.
Tubuh Zivana yang kecil tak sebanding dengan tubuh kekar Shaka. Mana mungkin ia bisa menyingkirkan pria itu dengan menariknya. Bahkan kalaupun Zivana mengeluarkan semua tenaganya tidak akan mampu membuat Shaka bergeser, yang ada malah tubuhnya jatuh menubruk dada Shaka yang kini jatuh ke ranjang.
Untuk sesaat Zivana seperti terhipnotis saat mata Shaka menguncinya kuat dalam pandangan. Rengkuhan erat pria itu pun seakan membiusnya.
Senyum Shaka membuat Zivana tersadar. "Shaka, lepasin, gue!" Zivana mulai meronta.
Posisinya yang berada di atas tubuh suaminya membuat Zivana sulit lepas.
"Shaka jangan macem-macem. Gue nggak mau hamil!"
"Tenang aja, gue tahu caranya biar lo nggak hamil," jawab Shaka dengan senyum setan di bibirnya.
Zivana benar-benar takut sekarang. "Shaka!"
__ADS_1