
Akhirnya kabar yang ditunggu terdengar juga. Bagas memberitahu jika rumah yang akan Zivana dan Shaka tempati sudah siap. Kapan saja mereka sudah bisa pindah.
Baik Zivana maupun Shaka menyambutnya dengan gembira. Banyak hal yang sudah Zivana rencanakan jika nanti mereka tinggal terpisah dari orang tua. Ia ingin mencari kerja paruh waktu untuk bisa menghasilkan uang sendiri, terutama agar tidak terlalu tergantung pada mertua yang selama ini membiayai semua kebutuhannya.
Mandiri secara finansial menjadi tujuan Zivana sekarang.
Yang terpenting dari itu semua adalah di rumah baru nanti ia tidak perlu berpura-pura berperan menjadi istri yang baik. Sebab tentunya di tempat yang hanya ada dia dan Shaka seorang pasti akan lebih bebas.
Kesepakatan untuk tidak saling mengusik privasi masing-masing sangat Zivana nantikan. Zivana merasa akan ada angin segar jika mereka bisa tinggal terpisah nanti.
Zivana mulai menulis apa-apa saja yang ia rencanakan dan menjadikannya target selain cepat lulus kuliah.
"Nulis apa sih, lo?" tanya Shaka yang lewat di belakang Zivana dan melihat istrinya itu sedang dalam mode serius.
"Kepo!" jawab Zivana tanpa menoleh.
Shaka berhenti. Memperhatikan Zivana yang masih menekuri buku dan pena. Mengintip sedikit apa yang sedang istrinya tulis.
Badannya membungkuk di belakang bangku. Kepalanya b di atas pundak Zivana.
"Mau kerja? Kerja apa, emang?" ujar Shaka membaca tulisan Zivana.
"Apaan, sih, lo, resek banget jadi orang!" Zivana bersungut. Segera ia menutup buku catatannya.
"Gue kan cuma nanya. Lo mau kerja apa? Lagian apa bisa lo kerja?" ujar Shaka yang terdengar menyebalkan di telinga Zivana.
Sedang malas berdebat dan malas juga memberi penjelasan, Zivana bangkit dari bangkunya.
"Kita lihat saja nanti, gue atau lo yang bakalan sukses lebih dulu. Jangan sampai kalau nanti tiba saatnya kita berpisah, lo mohon-mohon nggak mau cerai dari gue!" ujar Zivana yang akhirnya meninggalkan Shaka dan bersiap untuk tidur.
Shaka hanya bisa bergeming. Mencerna kalimat cerai yang baru saja diucapkan Zivana. Entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal dalam hati. Tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi ada rasa tidak suka kalimat itu keluar dari mulut Zivana.
"Mau sampai kapan lo berdiri di situ, apa mau tidur sambil berdiri?" tanya Zivana yang sudah bersiap tidur setelah menggelar alas tidurnya.
__ADS_1
Shaka menatap Zivana yang sudah bergelung dalam selimut. Mencari jawaban tentang apa yang sedang bergelut dalam hati.
*****
Sebab keresahan hati Shaka tak terjawab. Justru semakin rumit untuk menyimpulkan jawabannya ketika ia melihat Arjuna kembali mendekati Zivana.
"Sendiri lagi?" tanya Arjuna.
"Juna?"
"Sebenernya lo nunggu siapa, sih, di sini?"
"Gue?" Zivana menunjuk dirinya sendiri. "Nggak nunggu siapa-siapa. Nunggu angkot aja."
Dahi Arjuna mengernyit. "Angkot? Emang lewat sini?" Setahu Arjuna jalan di depan mini market ini tidak dilewati angkot.
Zivana bingung dengan pertanyaan Arjuna. Ia sebenarnya tidak tahu apakah ada angkot yang lewat di depan mini market ini atau tidak.
"Ya udah gue nunggu ojek aja di sini." Mata Zivana celingukan. Mencari pria yang biasa menjemputnya.
Shaka ada di seberang jalan. Pria itu tak menghampirinya tetapi justru pergi begitu saja meninggalkannya dan Arjuna.
"Dari pada lo nunggu ojek mending gue anter." Arjuna menepuk jok belakang motornya.
Yang dilihat Zivana sekilas karena ia kembali mencari ke mana Shaka mengarahkan motornya.
"Yuk, naik, gue anter," ulang Arjuna.
"Eh ... nggak usah, gue pulang sendiri aja." Tidak mau lagi bicara panjang lebar, Zivana segera kabur.
Membuat Arjuna bertanya-tanya.
Setelah memesan onjek on line, sampai juga Zivana di rumah meskipun terlambat.
__ADS_1
Badan sudah lelah tapi masih harus dihadapkan dengan sikap Shaka yang kekanak-kanakan. Pria itu berdiri di depan pintu kamar sambil bermain rubik. Mungkin niatnya menyambut sang istri tapi justru membuat Zivana kesal dengan ucapannya.
"Hanya cewek murahan yang nggak ingat status. Jalan sama cowok sampai lupa waktu."
Zivana berusaha tak mendengar dan mengabaikan apa pun yang Shaka ucapkan. Ia memilih segera masuk kamar dan membersihkan diri. Merebahkan diri sejenak rasanya akan sangat nyaman.
Namun, lagi-lagi Shaka mengusiknya. Pria itu mencekal tangan Zivana. Memaksa Zivana berhenti dan memberi perhatian pada Shaka.
"Gue bilangin, ya, jadi cewek itu jangan kegatelan. Lo itu udah nikah, ngapain juga mau diantar sama cowok lain!" tukas Shaka dengan nada emosi.
Sebenarnya Zivana kurang paham apa maksud Shaka dengan 'kegatelan'. Terus diantar cowok.
Siapa?
Dirinya?
Zivana memang pulang diantar cowok tapi itu adalah supir ojek online. Lalu di mana salahnya.
"Maksud lo apa, sih? Nggak jelas banget!" Zivana melepas tangan Shaka kasar. Malas kalau harus ribut soal hal yang tidak jelas.
Sebelum Zivana kembali melangkah, Shaka menarik tangan Zivana lagi.
"Lo dianter Arjuna, kan!" tuduh Shaka.
Zivana menatap tajam suaminya. Ia sedikit banyak menangkap maksud tuduhan Shaka.
"Oh, lo lihat tadi kalau ada Arjuna nawarin buat anter gue pulang. Terus masalahnya di mana kalau emang gue pulang dianter Arjuna?" Zivana seolah menantang.
"Jangan terlalu mendalami peran sebagai suami, lo sendiri yang mengusulkan perjanjian nikah itu, 'kan. Status kita hanya dalam buku, bukan dalam kehidupan!" Usai mengatakannya Zivana benar-benar pergi.
Meninggalkan Shaka dalam bimbang. Ada yang salah dalam dirinya. Sikap Shaka terhadap Zivana harusnya tak seperti tadi.
Shaka seakan tertampar kenyataan jika pernikahannya dengan Zivana tidak selayaknya pernikahan. Ia tidak boleh mencampuri urusan Zivana termasuk soal hubungan gadis itu dengan pria lain.
__ADS_1
Ego, kemarahan, juga rasa cemburu yang belum bisa ia raba dengan nyata harus terpenjara karena ia tak ada hak untuk menyuarakannya. Kebebasan yang dulu Shaka janjikan menjadikan dirinya tak berdaya.