Dinikahi Berandal Kampus

Dinikahi Berandal Kampus
Bab. 42 Suami Gila


__ADS_3

"Coba lo lihat!" timpal Bimo. Mereka semua tentu penasaran dengan suara yang baru saja mereka dengar.


Baru saja Rendi ingin memastikan ada apa atau siapa di bawah kolong tempat tidur, Shaka buru-buru mencegah.


"Heh, mau ngapain, lo? Nggak sopan banget lihat-lihat kolong tempat tidur orang. Mendingan pergi deh kalian. Noh, udah hampir hujan."


Rendi memang tak jadi melihat ke kolong tempat tidur tapi tatapannya pada Shaka justru semakin curiga.


"Apa lo lihat-lihat kayak gitu ke gue. Nantangin gue, lo?" Mendadak sikap Shaka jadi emosi. Nada bicaranya pun meninggi.


"Enggak, Bos. Gue, cuma____"


"Udah-udah, pulang aja deh kalian. Gue mau lanjutin tidur gue." Dengan gerakan tangan Shaka mengusir ketiga temannya.


Mereka terpaksa menurut apa yang Shaka perintahkan. Namun sebelum keluar kamar, mata Rendi sempat menangkap sebuah tas perempuan teronggok di lantai dekat meja belajar. Kenapa baru Rendi sadari sekarang. Tapi sudahlah, toh untuk apa juga ia tahu terlalu dalam dengan apa yang Shaka sembunyikan. Kalaupun Shaka menyembunyikan seorang gadis itu juga bukan urusannya.


"Kita balik, Bos. Cepet sehat biar bisa nge-race lagi," pamit Farel.


Usai keluar dari rumah Shaka, Rendi berkata pada kedua temannya. "Lo curiga nggak sih sama sikapnya si bos. Kayak nyembunyiin sesuatu gitu."


"Iya, gue juga merasa aneh, tapi buat apa juga curiga. Kalau pun bos ada sembunyikan cewek dalam kamarnya itu urusan dia. Kan dia udah gede, mau main sama cewek di mana pun, ya terserah aja. Resiko tanggung masing-masing, Bro," jawab Bimo.


Sependapat dengan Bimo, Farel pun tak mau ambil pusing. Memilih untuk segera tancap gas untuk kembali ke basecamp.

__ADS_1


Di kamar, Zivana segera keluar dari persembunyiannya begitu mendengar pintu ditutup. Ia kembali menjatuhkan diri di ranjang. Napasnya naik turun setelah menahan pengap di bawah sana.


Matanya masih memejam ketika ia berkata, "Suami gila, lo. Bisa-bisa lo bunuh gue dengan nyuruh gue sembunyi di kolong tempat tidur. Di bawah pengap banget, sumpah."


Shaka yang mendapat laporan bukannya minta maaf atau merasa bersalah tapi justru tertawa.


"Lain kali kalau ada temen lo mau jenguk, lo kasih tahu gue dulu. Supaya gue bisa pergi dari rumah ini. Biar gue nggak tersiksa kayak gini," omel Zivana.


Meski mentertawakan keadaan Zivana tapi Shaka cukup peduli. Ia mengambil botol minum yang ada di meja samping ranjang.


"Nih, minum dulu."


Zivana membuka mata. Sedikit mendongak demi bisa melihat tangan Shaka yang memegang botol.


Dibawanya tubuh Zivana untuk bangun agar bisa meraih botol yang Shaka ulurkan. Karena tidak benar-banar di posisi yang tegak berdiri Zivana kehilangan keseimbangan ketika akan meraih botol tapi Shaka dengan sengaja justru menarik tangannya menjauh. Menggoda Zivana masih menjadi hal menyenangkan sejak ia hanya bisa berbaring di ranjang.


Kelakuan Shaka itu otomatis membuat Zivana jatuh menubruk tubuh Shaka. Pria itu mengaduh karena tak siap ditimpa tubuh Zivana. Belum lagi ketika Zivana menyenggol tangan yang berbalut gips.


"Sory ... sory," ujar Zivana spontan.


Nah, kenapa jadi Zivana yang minta maaf dan merasa bersalah. Padahal semua kan karena ulah Shaka mulanya.


Zivana akan bangkit dari tubuh Shaka agar tak semakin menyiksa pria itu, tapi Shaka justru mencegah. Tangan yang tadi memegang botol ia gunakan untuk menahan tubuh Zivana agar tetap ada di dadanya.

__ADS_1


Mata pria itu seolah mengunci tatapan heran Zivana. Membuat Zivana tak mampu bergerak walau seinchi. Sorot lembut itu menenggelamkan Zivana dalam tanya yang begitu dalam. Sampai ia tidak sadar ketika Shaka sudah mendaratkan sebuah kecupan di bibir merah mudanya.


Suara gemuruh dari langit menarik Zivana untuk mendapatkan kesadarannya. Saat itu juga, cerocos omelan Zivana mulai mengular panjang.


Ia menarik diri dari dada bidang sang suami. Diiringi kata-kata panjang yang keluar dari bibirnya. "Dasar Garangan, nggak pernah melewatkan kesempatan sedikit pun!"


"Coba kalau nggak lagi sakit udah gue hajar juga lo. Gue nggak rela lo nyolong ciuman dari gue!"


Dan masih banyak lagi kata yang memojokkan Shaka. Namun pria itu tak pernah mengambil peduli. Bahkan di saat seperti itu Shaka masih bisa bercanda. Ia ambil botol yang tadi ia jatuhkan di ranjang dan memberikannya lagi pada Zivana. "Minum dulu biar nggak haus."


Zivana mendelik tajam ketika menyahut botol dari tangan Shaka. Lalu membawanya menjauh ke arah balkon.


Shaka hanya bisa tersenyum melihat punggung Zivana. Sejak ia sakit dan selalu membutuhkan Zivana untuk membantu kebutuhannya, ia merasa jauh lebih dekat dengan gadis itu.


Shaka bahkan tak malu mencuri ciuman di pipi Zivana ketika gadis itu membantunya membersihkan diri atau sekadar melempar godaan dan candaan untuk Zivana.


Gadis itu mungkin akan marah ketika Shaka mulai bersikap genit, tapi tak sampai mengamuk. Mungkin karena mengingat kondisi Shaka yang sedang sakit. Hanya omelan panjang layaknya gerbong kereta api yang harus Shaka dengar seperti sekarang ini.


Zivana meneguk air dalam botol sebelum ia menutup pintu balkon. Gerimis mulai turun takutnya air dari luar bisa masuk kalau tidak segera ditutup.


Ketika akan menarik rel pintu, Zivana mendengar teriakan Winda dari bawah. Ia langsung berlari ke balkon untuk melihat.


Dilihatnya Winda berteriak pada seorang pengemudi motor yang sudah pergi meninggalkan depan rumah mereka. Dari balkon Zivana masih bisa melihat motor itu menjauh.

__ADS_1


"Arjuna?" gumam Zivana.


__ADS_2