Dinikahi Berandal Kampus

Dinikahi Berandal Kampus
Bab. Sembunyi


__ADS_3

Shaka begitu menikmati peran sebagai bayi. Apa pun yang ia minta selalu Zivana turuti meski dengan muka yang masam karena terpaksa.


Tidak apa. Shaka tetap suka walau harus melihat raut cemberut istrinya.


Seperti hari ini ketika mereka akan pulang dari rumah sakit. Zivana terpaksa membantu pria itu membersihkan diri. Dasar Shaka, urat malunya sudah putus. Dengan sengaja ia meminta Zivana melepas pakaiannya dan meminta gadis itu untuk membersihkan tubuhnya.


"Jangan cemberut gitu dong, Sayang. Bantuin suami itu pahala lho buat kamu," goda Shaka ketika Zivana menggantikannya baju.


Mendengar godaan Shaka justru membuat Zivana mencebik kesal. Bibirnya mengerucut sembari menggerutu tak jelas.


"Eh, mau ke mana? Kan, belum selesai," cegah Shaka ketika Zivana akan pergi.


Gadis itu terpaksa berhenti melihat apa lagi yang diinginkan Shaka.


"Sisirin rambut dulu." Tangan kiri Shaka menyugar rambut yang sudah sedikit gondrong.


Tak mau mendebat apa pun, Zivana kembali dengan wajah ditekuk. Ia ambil sisir untuk merapikan rambut Shaka. Sengaja ia melakukannya dengan kasar.


"Aduh, sakit, Sayang," protes Shaka.


Gerakan tangan Zivana langsung terhenti. "Bisa nggak sih, lo jangan panggil gue kayak gitu. Jijik tau!"


Tawa Shaka meledak. "Kenapa, bukannya wajar manggil istri dengan sebutan sayang?"


"Gue nggak sudi!"


Shaka masih saja tertawa. Baru berhenti ketika suara pintu terbuka dan membawa Bagas masuk.


"Kalian sudah siap?" tanya Bagas begitu memasuki kamar perawatan Shaka.


"Sudah, Pa," jawab Zivana. Ia segera meninggalkan Shaka dan mengemas baju kotor milik Shaka. Juga barang-barang lain milik pria itu.


"Papa juga sudah menyelesaikan administrasi. Jadi kita langsung pulang saja," ujar Bagas pada Zivana dan Shaka.


"Baik, Pa."


Bagas meminta bantuan perawat untuk memindahkan Shaka dari ranjang ke kursi roda. Perawat bahkan membantu Shaka turun sampai ke lobi rumah sakit. Dibelakang Shaka dan Bagas ada Zivana yang membawa barang-barang miliknya juga milik Shaka.


Hanya dua hari Shaka menginap di rumah sakit karena setelah itu dokter mengijinkannya pulang. Atas kesepakatan bersama, Shaka kembali ke rumah orang tuanya selama masa perawatan. Semua demi kebaikan Shaka dan Zivana.


Shaka memang sakit dan Zivana harus merawat pria itu tapi bukan berarti semua aktifitas Zivana harus terhenti.


Zivana harus tetap kuliah, sebab itulah kembali ke rumah Bagas adalah pilihan. Agar Shaka ada yang mengurus ketika ditinggal Zivana kuliah.


Winda dan Yusuf sudah menunggu di rumah. Menyambut Shaka dan Zivana.


"Bagaimana kabar kamu, Nak?" tanya Yusuf begitu Shaka turun dari mobil.


"Lebih baik, Yah, tapi belum bisa gerak banyak."

__ADS_1


"Perlahan saja, semoga cepat pulih," ujar Yusuf.


"Makasih, Yah."


"Ziva antar Mas Shaka ke kamar dulu, Yah."


Kini hanya tinggal Yusuf dan Bagas saja di teras. Sedangkan Winda masuk membuatkan minuman untuk tamunya.


"Shaka bilang kamu sakit?" tanya Bagas saat mereka sudah duduk.


"Ah, cuma kecapekan aja," jawab Yusuf.


"Suf, kita ini teman lama dan sekarang kita ini keluarga, kalau ada apa-apa itu tidak usah sungkan untuk bicara. Kalau kamu butuh uang untuk berobat kamu tinggal bilang biar aku kirim. Shaka juga bisa antar kamu ke rumah sakit," ujar Bagas seolah tahu apa yang Yusuf sembunyikan.


"Aku baik-baik saja. Aku juga punya uang untuk berobat, hasil dari toko membuat aku punya sedikit tabungan. Kamu nggak usah khawatir, aku sudah cukup bahagia karena Zivana ada di keluarga yang tepat. Aku juga yakin Nak Shaka bisa menjaga Zivana dengan baik. Rasanya tidak ada lagi beban jika saatnya sudah tiba." Yusuf menghela napas panjang di akhir kalimatnya.


"Kamu ngomong apa, sih. Kita masih akan sehat untuk bisa melihat cucu kita nanti." Bagas tidak suka mendengar kalimat Yusuf yang seakan tidak akan lama lagi bersama mereka.


"Iya, aku juga akan menunggu untuk melihat cucu kita lahir." Yusuf tertawa.


"Ngobrolin apa, sih, Yah, kok asik banget?" tanya Zivana yang baru saja keluar membawa dua cangkir teh.


"Ini, Ayah sama Papa mertuamu nggak sabar pengen lihat cucu kami. Iya, kan, Gas?"


"Benar," jawab Bagas.


Zivana jadi merasa bersalah telah bertanya. Harusnya tadi cukup diam saja.


\*\*\*\*\*


Sore hari Zivana ijin untuk keluar sebentar. Bersamaan dengan Yusuf yang hendak pulang. Dengan taksi yang sama, Zivana mengantar ayahnya itu kembali ke toko terlebih dahulu baru ia pergi ke rumah makan ayam cepat saji tempatnya bekerja.


Hari ini ia ingin menemui manajer langsung untuk mengambil cuti.


"Jadi saya ingin cuti, Pak. Kira-kira untuk waktu dua bulan, jika nanti urusan saya sudah beres saya akan kembali bekerja jika diijinkan," ujar Zivana pada manajer restoran.


"Dua bulan itu waktu yang cukup lama Ziva, kalau kamu ingin mengambil cuti, maaf kami tidak bisa memberikannya. Lebih baik kamu keluar dan kami akan mencari ganti, jika nanti urusan kamu sudah selesai dan kami masih membutuhkan tenaga tambahan mungkin kamu bisa kembali melamar pekerjaan," jawab sang manajer.


Tak ada yang bisa Zivana lakukan selain menerima keputusan dari manajer tersebut. Lagi pula siapa juga yang mau memberikan cuti sementara Zivana hanya pekerja paruh waktu. Mereka itu pebisnis, tentu mencari keuntungan.


Terlihat wajah lesu Zivana ketika ia kembali ke rumah. Tidak ada semangat sama sekali setelah kehilangan pekerjaan. Padahal sudah banyak sekali rencana yang ia buat. Kini semua harus ditata ulang.


"Kenapa, lo?" tanya Shaka yang duduk di atas ranjang.


Zivana melempar tasnya asal lalu menjatuhkan dirinya di ranjang. Tepat di samping Shaka. Matanya memejam, berharap semua kecewa yang ia rasa segera hilang.


"Hei, lo kenapa?" tanya Shaka lagi. Kali ini tangannya mengusap kasar kepala Zivana.


Tidak suka dengan apa yang Shaka lakukan, Zivana dengan rambut yang sudah teracak mendongak. Matanya mendelik tajam menatap pria itu. "Bisa nggak lo, nggak ganggu gue dulu. Gue capek, gue mau istirahat!" sentak Zivana. Lalu kembali menenggelamkan kepalanya di kasur.

__ADS_1


Shaka sedikit heran tapi ia biarkan saja Zivana sesuai apa yang gadis itu minta. Ia memilih untuk melanjutkan bermain ponsel.


Sudah satu jam waktu berlalu dan Zivana tak bergerak. Mungkin gadis itu benar-benar lelah hingga ketiduran. Shaka pun tak berniat membangunkan. Sampai ketukan pintu kamar terdengar olehnya.


"Mas ...," panggil Mbak Eni dari luar kamar.


"Masuk, Mbak."


Perlahan Eni membuka kamar Shaka. Melihat Zivana yang tertidur dengan posisi tengkurap.


"Itu, ada temennya Mas Shaka datang. Mau jenguk Mas Shaka katanya. Kata Nyonya disuruh masuk ke kamar saja biar Mas Shaka nggak perlu turun, tapi kata Nyonya juga kalau Mas Shaka belum mau ketemu nggak apa-apa, biar temennya disuruh balik dulu," ujar Eni menjelaskan.


"Ya udah, suruh ke kamar aja Mbak," jawab Shaka. Sebelumnya memang Farel, Rendi juga Bimo sudah mengatakan jika ingin menjenguk.


Begitu Mbak Eni keluar kamar tatapan Shaka tertuju pada Zivana. Di situlah ia baru sadar jika tidak ada seorang pun yang tahu jika ia sudah menikah.


Shaka panik. Segera ia bangunkan Zivana dengan mengusap kepala Zivana kasar.


"Ziva, bangun, woy!" seru Shaka.


"Ish ... apaan, sih, lo!" Zivana hanya menyingkirkan tangan Shaka yang berada di atas kepalanya tanpa mau bergerak sedikit pun.


"Bangun Ziva!" Shaka makin panik kala mendengar derap langkah menuju kamarnya. Ia mengguncang tubuh Zivana.


"Jangan ganggu gue dulu, napa!" Zivana tetap tidak mau bangun. Ia masih ngantuk.


"Bangun dulu, Culun!" seru Shaka kasar.


Zivana tidak suka dengan panggilan itu. Mendengarnya Zivana langsung membuka mata. Kembali ia menatap tajam Shaka, memperlihatkan ketidaksukaannya.


"Gue udah sering bilang, kan, jangan panggil gue culun, gue punya nama!"


"Gue tahu nama lo Ziva, tapi dari tadi gue suruh lo bangun lo cuma diem aja. Begitu gue panggil lo Culun, langsung bangun."


Zivana terdiam mendengar penjelasan Shaka.


"Udah buruan bangun, ini ada temen-temen gue mau ke sini. Lo nggak mau kan kalau ketahuan kita udah nikah," jelas Shaka panik.


Zivana dipaksa untuk segera sadar kala mendengar penjelasan Shaka. "Kapan temen lo datang."


"Sekarang!"


"Apa?" Tentu Zivana kaget.


"Lo nggak denger itu suara langkah kaki menuju kamar ini?"


Zivana pun mendengar baik-baik suara langkah kaki yang dikatakan Shaka. Sangat jelas jika langkah itu menuju kamar mereka.


Kontan Zivana bangkit. Matanya mengedar mencari tempat aman untuk sembunyi. Ketukan pintu semakin menambah kepanikan Zivana juga Shaka.

__ADS_1


"Gue harus sembunyi di mana?" tanya Zivana bingung mencari tempat sembunyi.


__ADS_2