
Zivana bangun dengan kepala pening. Sepulang dari kantor polisi ia sempat tidur sebentar karena sejak dari Chicken Jet kemarin ia belum tidur sama sekali. Kalau tidak ingat jika hari ini ada presentasi mungkin Zivana akan memilih bolos saja.
Begitu keluar kamar, Shaka sudah menunggunya di sofa ruang tengah. Pria itu mungkin tak tidur sejak pulang dari kantor polisi karena setelah sampai rumah tadi, Bagas langsung marahinya habis-habisan. Bahkan sebagai hukuman semua kartu yang menjadi fasilitas Shaka diambil. Begitupun uang saku. Bagas mengatakan tak akan memberikannya selama tiga bulan.
"Gue anter, ya." Shaka berdiri. Bersiap mengantar Zivana.
Zivana menatap Shaka yang belum ganti baju apa lagi mandi. Tampilan pria itu masih sama saja sejak dijemput di kantor polisi. "Lo nggak ke kampus?"
"Gampanglah." Tangan Shaka menghalau angin.
"Kalau nggak ke kampus, gue pergi sendiri aja," tolak Zivana.
"Udah, gue anter." Shaka menarik tangan Zivana keluar.
Dan benar. Sampai di kampus Shaka langsung balik. Namun sebelum itu Shaka sempat mencuri ciuman di pipi Zivana.
"Shaka!" teriak Zivana kesal tapi orang yang dimaksud sudah lebih dulu tancap gas.
Bukan apa-apa Zivana dicium di tempat umum, hanya saja Zivana takut kalau ada yang melihat sementara belum ada yang tahu tentang status mereka. Kelakuan Shaka itu membuat Zivana geleng-geleng kepala sambil mengelus dada.
Zivana langsung menuju kantin karena kuliah masih akan dimulai setengah jam lagi. Pun karena ia sudah ditunggu Dinda dan Kania di sana. Katanya ingin memantapkan materi presentasi agar nanti di depan dosen tidak gugup atau canggung.
Namun nyatanya ....
"Lo beli di mana ini?" tanya Dinda setelah mencoba lipstik yang baru saja Kania pamerkan.
"Ada lah, entar gue anter ke sana. Jadi 'kan kita hang out?"
Dinda masih sibuk melihat bibirnya di cermin setelah mengoles lipstik warna merah milik Kania. Kedatangan Zivana dengan meletakkan tasnya di atas meja membuat Dinda juga Kania tersentak. Mereka mendongak demi melihat Zivana yang nampak kesal.
"Kenapa, lo?" tanya Kania.
"Nggak kenapa-kenapa," jawab Zivana berbohong.
__ADS_1
"Kok tampangnya bete gitu? PMS, lo?" tanya Kania lagi.
Zivana menggeleng cepat.
"Terus?" Kania menaikkan dua alisnya.
"Kesel aja," jawab Zivana akhirnya.
"Iya kesel, tapi kenapa?" sahut Dinda.
Zivana menggeleng cepat. Lalu mengalihkan perhatian dua temannya itu dengan bertanya, "Lo udah pelajari presentasinya nanti?"
Kania mengangguk. "Tenang aja, semua akan mudah dan kita akan dapatkan nilai yang bagus."
"Yakin, lo?" Zivana memastikan.
"Yakin banget, kan yang bakalan presentasi entar elo. Kita cuma dampingi aja," jawab Kania seenaknya.
Tugas kali ini memang berkelompok dan Zivana memilih Dinda dan Kania sebagai kelompoknya. Namun ia malah seolah jadi kambing perah. Tujuh puluh persen dari tugas, Zivana sendiri yang mengerjakannya. Kini giliran presentasi dua orang temannya itu masih juga meminta Zivana saja yang maju. Dengan alasan Zivana yang paling menguasai materi.
"Nggak usah cemberut gitu, entar pulang kuliah gue ajak hang out. Gue traktir lipstik yang lagi viral," bujuk Kania.
"Gue nggak butuh lipstik. Gue hanya butuh teman yang waras!" pekik Zivana frustasi. Sampai-sampai beberapa mahasiswa yang ada di kantin melihat ke arah meja mereka saking kerasnya Zivana berteriak.
Tawa Dinda dan Kania kontan meledak mendengar suara frustasi Zivana.
Saking jengkelnya dengan dua temannya ini, Zivana yang awalnya ingin memperdalam materi jadi malas. Dan tidak jadi juga membuka laptop.
Ia justru menyimak Obrolan seputar lipstik dan juga skin care andalan Dinda dan Kania. Membuat Zivana yang selalu dandan ala kadarnya jadi bahan bullyan mereka berdua.
"Zi, nggak mau coba, lo. Ini lagi viral tahu," celetuk Kania sembari meletakkan lipstik yang tadi dicoba Dinda di depan Zivana.
Dinda mengangguk setuju. "Iya, Zi. Penampilan itu penting. Di usia kita ini harus mulai memikirkan jodoh. Dan itu dimulai dari penampilan."
__ADS_1
"Jadi kalian pikir penampilan gue bakal ngalangin gue dapat jodoh gitu?" protes Zivana.
"Ya nggak gitu juga, tapi penampilan itu delapan puluh persen menentukan jodoh kita," jawab Dinda.
"Gimana kalau hari ini kita make over lo, kita belanja alat make up buat bikin lo cantik paripurna," usul Kania.
"Enggak!" tolak Zivana cepat.
"Kenapa?" seru Dinda.
"Gue suka gaya gue sekarang ini dan gue nggak mau ikut-ikutan tren yang nggak sesuai sama karakter gue," jelas Zivana.
"Tapi gaya lo itu ketinggalan jaman, gimana cowok mau deketin lo coba!" ujar Kania.
"Gue belum ingin cari cowok, kalaupun ada yang mau sama gue ya dia harus terima gue apa adanya," tutur Zivana.
Dinda dan Kania mengembuskan napas kasar. Percuma membujuk Zivana yang keras kepala.
"Eh, udah jam nih. Masuk, yuk," ajak Dinda setelah melihat jam di tangan kiri.
Dinda dan Kania membereskan semua barang-barang yang tadi mereka keluarkan dari tas. Termasuk Zivana. Saking buru-burunya sampai tak memperhatikan apa saja yang masuk ke dalam tas Zivana. Pokoknya semua yang ada di depannya ia masukkan begitu saja.
"Buruan, entar telat masuk kelas," ajak Dinda.
Mereka pun bergegas masuk kelas sebelum dosen datang. Beberapa kali Dinda dan Kania memberikan semangat pada Zivana untuk presentasi nanti. Hal itu justru membuat Zivana kesal. Tapi ia tetap harus melakukan agar mendapatkan nilai yang baik.
Jam kuliah belum selesai, bahkan giliran presentasi pun belum tiba ketika Zivana mendengar getar ponselnya. Diam-diam ia membuka pesan tersebut dan mendapatkan pesan singkat agar segera pulang. Melihat banyaknya panggilan yang tak sempat ia angkat membuat Zivana paranoid. Akhirnya, mau tak mau Zivana ijin untuk pulang.
Begitu keluar kelas, panggilan kembali terdengar.
"Iya, Mbak, ini aku pulang," ujar Zivana cepat ketika panggilan tersambung.
Tidak mau membuang waktu. Setelah mematikan sambungan telpon, Zivana segera membuka aplikasi untuk memesan ojek online. Naik ojek dirasa akan lebih cepat untuk sampai ke rumah.
__ADS_1