Dinikahi Berandal Kampus

Dinikahi Berandal Kampus
Bab. 28 Kencan


__ADS_3

Motor Shaka berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Ini pertama kali mereka jalan bersama ke tempat umum seperti ini.


"Ngapain kita ke sini?" tanya Zivana saat berusaha melepas helm.


"Jalan-jalan." Shaka menerima helm yang diberikan Zivana lalu mengaitkannya pada jok belakang.


"Ayo!" ajak Shaka dengan mengulurkan tangan.


Bukannya langsung menyambut uluran tangan suaminya, Zivana justru menatap aneh.


"Harus ya gandengan tangan?" seloroh Zivana.


Shaka tersenyum sebelum akhirnya ia raih sendiri tangan Zivana dan menggenggamnya erat. "Harus! biar semua orang tahu kalau lo milik gue."


Mata Zivana memicing, bibirnya mencebik.


Tak ambil peduli dengan respon Zivana, Shaka langsung menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke gedung yang menjadi surganya para wanita.


Sesekali pria itu mengecup tangan Zivana yang ada dalam genggamannya.


"Aneh, lo!" cibir Zivana.


"Biar aja aneh asal gue seneng."


Zivana memutar bola matanya malas. Memilih diam dan mengikuti saja ke mana kaki Shaka melangkah. Meski ia merasa aneh dengan sikap Shaka kali ini. Semalam seperti orang kesetanan, sekarang pun masih seperti kerasukan.


Zivana tidak bisa menyadari jika Shaka ingin menunjukkan pada dunia jika wanita yang ia gandeng adalah miliknya. Sampai terlihat tidak tahu malu. Bagaimana tidak, sepanjang jalan tangan Zivana tidak dilepaskan sama sekali. Bahkan ketika mereka masuk ke dalam elevator. Tangan mereka terus saja tertaut hingga menarik perhatian orang di sekitar mereka.


"Lepasin tangan gue," bisik Zivana karena merasa risih menjadi objek tatapan aneh orang lain.


Seakan tidak mau dengar, Shaka justru mempererat genggaman lalu melirik Zivana untuk memperlihatkan senyumnya.


Demi menghindar dari rasa malu, Zivana menggunakan satu tangan yang bebas untuk menutupi wajah agar tidak terlihat oleh orang lain. Namun, Shaka justru menurunkan tangan Zivana. Niat shaka 'kan ingin agar orang tahu jika mereka punya hubungan spesial, kalau Zivana menutup wajahnya bagaimana orang akan tahu.


Beberapa kali Zivana kembali menutup wajahnya dengan tangan setelah shaka menurunkan tangan itu. Sampai Shaka gemas dan menurunkan tangan Zivana lalu memeganginya. Di dalam elevator yang penuh orang, tanpa tahu malu Shaka mencium pipi Zivana.


Sontak tatapan semua orang tertuju pada mereka berdua.


"Kenapa, apa salah mencium istri sendiri?" ujar shaka pada semua yang menatap.


Saat itu juga rasanya Zivana ingin tenggelam ke dasar laut. Malu. Iya, Zivana sangat malu dengan sikap alay Shaka.


Denting elevator berbunyi, segera Zivana menyeret Shaka keluar dari kerumunan orang.


"Bisa nggak sih, nggak usah lebay kayak tadi," omel Zivana.


Shaka langsung berhenti. "Apa, lebay?"


"Iya, lebay!" Zivana mencibir.


"Yang mana yang lebay, gandeng istri sendiri, cium istri sendiri atau ngasih tahu orang kalau lo istri gue?"


"Semua!"


Shaka mengembuskan napas kasar. Bagaimana mungkin sikapnya dianggap berlebihan. Tak terima dengan hal itu, secara absurd ia menghentikan seseorang yang lewat di sampingnya.


"Permisi, gue mau kenalin istri gue." Shaka menunjuk Zivana.


Tentu orang yang itu menatap aneh pada Shaka juga Zivana karena tak mengerti maksudnya.


Paham akan kebingungan orang itu, Zivana pun segera berkata, "Maaf sudah mengganggu. Kami hanya bercanda."


Kembali Zivana menarik tangan Shaka untuk pergi.


Akhirnya Zivana memang harus tetap sabar jika berhubungan dengan pria ini. "Ok, sekarang tujuan kita ke mana? Kalau nggak ada kita pulang aja. Nanti sore gue harus kerja."


Gantian Shaka yang menarik Zivana. Tenyata pria itu membawa Zivana ke sebuh toko optik.


"Ngapain ke sini?"


"Gantiin kaca mata lo yang udah rusak."


Zivana mengernyit.


"Gak boleh nolak. Kalau nolak gue cium di sini," ancam Shaka ketika tahu akan gelagat penolakan Zivana.


Zivana pun menurut dari pada malu.


Dengan ramah seorang pegawai toko menyapa mereka berdua dan menanyakan apa yang dibutuhkan.


"Saya mau beli kaca mata buat istri saya, Mbak," ujar Shaka.

__ADS_1


Tentu kalimat itu membuat Zivana terperangah hingga menatap Shaka tanpa kedip.


"Kenapa?" tanya Shaka yang sadar akan tatapan Zivana.


"Oh ... istri?" Shaka meraih tangan Zivana lalu mengecupnya di depan pelayan toko sambil tersenyum.


Hal itu membuat pelayan toko jadi salah tingkah sendiri.


Tak ingin menjadi pusat perhatian lagi, Zivana segera menarik tangannya.


"Maaf, Mbak, dia emang agak ...," ujar Zivana canggung.


"Nggak apa-apa kok, Mbak," jawab pelayan toko. "Jadi mau kaca mata yang seperti apa, Mbak?"


Zivana pun meminta pelayan toko utuk memperlihatkan jenis kaca mata yang sesuai dengan kebutuhannya.


Setelah memilah, memilih bentuk dan warna frame, juga mempertimbangkan soal harga, akhirnya pilihan Zivana jatuh pada kaca mata berframe hitam dengan harga yang menurutnya tak terlalu mahal di toko ini. Sebab kaca mata yang ditunjukkan sebelumnya berharga fantastis menurutnya.


"Ini aja, Mbak," ujar Zivana.


"Kenapa nggak yang tadi?" tanya Shaka.


"Udah, ini aja," jawab Zivana.


"Yang ini, Mbak?" Pelayan toko memastikan lagi pilihan Zivana.


"Iya, yang itu aja."


Pelayan toko pun ijin untuk mengemas kaca mata yang Zivana pilih. Sekalian Shaka menyerahkan sebuah kartu sebagai alat pembayaran.


Dari toko optik Shaka lihat masih ada banyak waktu sebelum jam kerja Zivana.


"Kita lanjut kencan ke mana lagi?"


"Kencan?"


Shaka mengangguk. "Hmm ...."


Zivana menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Ini kencan?


"Gimana kalau kita nonton?" usul Shaka.


Zivana mengerucutkan bibir, memikirkan usul Shaka.


"Ok," jawab Zivana setuju. Pikirnya lebih baik ada di dalam bioskop dari pada jalan-jalan tak jelas.


Masih sama seperti sebelumnya, Shaka terus menggandeng Zivana dan baru dilepas ketika Shaka akan membeli tiket.


"Tunggu di sini dulu," pesan Shaka ketika meninggalkan Zivana di bangku tunggu sementara ia mengantri tiket.


Salah Zivana tidak membicarakan dulu film apa yang akan mereka tonton. Akhirnya film ditentukan oleh Shaka sendiri. Di mana genre film yang dipilih Shaka adalah film romance. Alhasil sepanjang nonton Zivana malah jadi canggung sendiri.


Banyak adegan yang sejujurnya tak ingin Zivana lihat, karena setiap kali aktor dan aktris dalam film beradegan mesra, Zivana melihat senyum mengerikan Shaka.


"Bodoh banget sih, lo, Zi," batin Zivana. Jalan satu-satunya untuk menghindar dari film dewasa ini adalah dengan tidur.


Ya ... Zivana memilih untuk pura-pura tidur saja. Ia baru membuka mata ketika film telah selesai dan Shaka membangunkannya.


"Kok malah tidur, sih. Apa filmnya membosankan?" tanya Shaka ketika keluar.


"Maaf, gue ngantuk banget," bohong Zivana.


Shaka tidak marah. Pria itu justru tersenyum sembari mengusap kepala Zivana.


Astaga ... ada apa sih dengan pria ini?


"Btw, gue laper," ujar Zivana saat ia menyingkirkan tangan Shaka dari atas kepalanya.


"Ke food court, yuk," ajak Zivana.


Sengaja Zivana berjalan dengan sedikit menjaga jarak dari Shaka. Ia berjalan di depan Shaka.


"Mau pesan apa?" tanya Zivana begitu sampai food court.


"Sate aja," jawab Shaka.


"Lo cari tempat duduk, biar gue yang pesen," ujar Zivana.


Shaka akan mengeluarkan dompet tapi dicegah oleh Zivana. "Udah, gue aja yang bayar."

__ADS_1


Shaka pun menurut. Ia pergi mencari tempat, sementara Zivana pergi memesan makanan.


Acara makan mereka berlangsung tenang tanpa drama lebay yang shaka ciptakan. Sesekali mereka mengobrol tentang pekerjaan Zivana.


"Entar pulang mau gue jemput, nggak?" tanya Shaka sambil mengunyah sate.


Sambil menyeruput kuah tomyam yang ia pesan Zivana menolak, "Nggak usah, gue pulang bareng temen aja."


Mata Shaka langsung menatap curiga.


"Cewek," jelas Zivana sebelum pria itu ngamuk.


"Gue percaya."


Bibir Zivana seketika mencebik. "Percaya kok curiga," gumam Zivana lirih tapi masih terdengar oleh Shaka.


"Gue percaya sama lo, tapi nggak percaya sama cowok-cowok di luar sana. Terutama si Arjuna. Makanya gue curiga."


"Idih ...."


Shaka tersenyum. Ia pun lanjut makan sate yang dipesan.


Melihat ada saus kacang yang belepotan di bibir suaminya, Zivana mencoba memberitahu.


"Stt ...." Zivana menunjuk bawah bibirnya sendiri untuk memberi tahu.


"Apa?"


"Ada saus kacang."


Shaka mengusap bagian yang dimaksud tapi tidak pas.


"Masih ada," ujar Zivana.


"Mana?" Shaka kembali mengusap tetap tidak pas juga.


Akhirnya Zivana sendiri yang turun tangan. Ia mengambil tisu dan mengusap bagian bawah bibir Shaka yang terkena saus.


Saat Zivana akan menarik tangannya, Shaka justru menahan. "Makasih."


Melihat sorot aneh di mata Shaka, Zivana buru-buru menarik tangannya. Hal itu sontak membuat Shaka tertawa.


Dari pusat perbelanjaan Shaka mengantar Zivana ke Chicken Jet.


"Udah balik sana," usir Zivana setelah memberikan helm pada Shaka.


Shaka menunjuk bibirnya dengan jari telunjuk.


"Nggak usah macem-macem!" ancam Zivana.


Shaka pun menyunggingkan senyum lalu pergi.


Setelahnya Arjuna datang. "Baru datang juga?" tanya Arjuna berhenti tepat di depan Zivana.


Zivana mengangguk.


"Masuk, yuk," ajak Arjuna.


Melihat tempat parkir yang penuh Zivana bisa meramalkan jika malam nanti akan sesibuk kemarin.


"Kok bengong, ayo masuk," ajak Arjuna lagi usai memarkir motornya.


Zivana pun mengikuti Arjuna di belakang.


Benar saja apa yang Zivana ramalkan. Semakin malam makin banyak pengunjung yang datang. Tidak ada pegawai yang tak sibuk.


"Tolong antar ini ke meja nomor sebelas, ya," pinta Arjuna pada Zivana. "Gue angkat telpon dulu."


Entah apa yang terjadi, usai menjawab panggilan Arjuna langsung bergegas pergi.


"Eh ... Juna, lo mau ke mana?" tanya Zivana.


Arjuna tak menjawab. Langkahnya pun terburu-buru.


"Udah biarin aja," ujar Nesa.


"Tapi ini kan masih jam kerja."


"Gue tahu, tapi biarin aja. Kita lanjut kerja aja. Masih banyak tamu yang harus dilayani."


Zivana menurut apa kata Nesa. Meski dalam hati bertanya-tanya. Ada apa gerangan dengan Arjuna yang pergi tiba-tiba sampai mengabaikan jam kerja.

__ADS_1


__ADS_2