
"Seneng ya, bisa kerja sambil pacaran," sindir Shaka menyambut kedatangan Zivana.
Mendengar kalimat itu awalnya Zivana tak peduli. Ia benar-benar lelah untuk meladeni ucapan absurd suaminya. Ia hanya ingin segera istirahat setelah berkutat dengan banyaknya pekerjaan di restoran, tapi Shaka seolah tak mengijinkan hal itu. Hingga keluar kalimat kedua yang lebih menyakitkan.
"Kenapa nggak jual diri aja sekalian!"
Zivana berhenti. Ia menarik napas dalam, masih berusaha untuk sabar, sebab itu ia kembali melangkah menuju kamar dan mengabaikan apa pun yang Shaka tuduhkan.
Tak terima diabaikan oleh Zivana, Shaka bangkit dari sofa. Dengan cepat ia menarik tangan Zivana dan membenturkan tubuh gadis itu ke dinding lalu mencium bibir Zivana tanpa ijin.
Tak tinggal diam, sekuat tenaga Zivana mendorong tubuh Shaka dan satu tamparan keras mendarat di pipi pria itu.
Shaka mengusap pipinya yang terasa panas. Menatap marah pada Zivana yang telah menamparnya.
Tidak ada sorot takut sama sekali di mata Zivana. Gadis itu justru membalas tatapan tajam Shaka.
Sebagai lelaki, egonya tak menerima perlakuan Zivana yang seolah menantang. Sekali lagi Shaka mendorong tubuh Zivana ke dinding dan menciumnya dengan lebih brutal.
Zivana tetap memberontak. Begitu Shaka melepas bibirnya, Zivana berteriak, "Lepasin gue, Brengsek!"
Tak menggubris permintaan Zivana. Shaka kembali mendaratkan bibirnya dengan kasar di bibir Zivana.
Zivana pun tak menyerah, dia terus berusaha untuk lepas dari cengkraman Shaka. Namun, sikapnya justru memicu Shaka untuk semakin bertindak lebih agresif. Pria itu menggigit bibir Zivana dengan sengaja untuk menekan gadis itu.
Apa yang Shaka lakukan kali ini membuat syaraf-syaraf di tubuh Zivana seolah melemas. Zivana ingin menolak tapi tubuhnya tak bisa diajak kerja sama.
Kendati demikian, Zivana tidak mau kalau harus pasrah pada Shaka yang tengah kesetanan. Kalaupun harus menyerahkan diri pada pria ini bukan dengan cara paksa seperti ini.
__ADS_1
Dari bibir Zivana, Shaka beralih ke leher mulus sang istri. Kesempatan itu tak dilewatkan oleh Zivana meski ia harus melawan semua hasrat aneh yang menyeruak tiba-tiba. Ketika Shaka terlalu asik di leher sang istri, sata itu juga Zivana menggigit keras bahu Shaka.
Membuat pria itu memekik kesakitan dan spontan melepaskan Zivana.
"Aarrghh ...!"
Lagi-lagi Zivana memanfaatkan kesempatan. Ia pun segera berlari ke kamar karena di sana adalah tempat aman yang Zivana pikirkan. Akan tetapi sebelum berhasil masuk dan menutup pintu kamar, Shaka lebih dulu menangkapnya.
Pria itu semakin murka. Dipanggulnya Zivana seperti karung beras dan dihempaskan begitu saja di ranjang. Kali ini tidak memberi celah sedikit oun untuk Zivana kabur. Shaka langsung menduduki kaki Zivana.
Shaka melepas kaus yang ia kenakan. Kemudian dengan kasar ia membuka kemeja yang dipakai Zivana, hingga kancing-kancingnya terlepas paksa.
Zivana mulai panik ketika tatapan Shaka terarah pada tubuh bagian atasnya yang terbuka. "Mau apa, lo?"
"Lepasin gue!" Tangan Zivana berusaha mendorong Shaka yang berada di atas tubuhnya, dan Shaka langsung mengunci tangan Zivana agar tak bisa bergerak sama sekali.
Sudah dalam posisi tak berdaya pun Zivana tetap tidak mau menyerah.
"Lepasin gue, Brengksek!" ulang Zivana. "Lo nggak bisa lakuin ini ke gue!"
Shaka tersenyum miring. Ucapan Zivana justru ia anggap sebagai tantangan.
Kembali ciuman brutal shaka membungkam mulut Zivana. Rasanya Zivana ingin menyerah, tapi tidak. Ia tidak boleh menyerah pada setan yang tengah merasuki suaminya.
Shaka melepas tautan bibirnya, dan Zivana kembali buka suara. "Gue bukan pelacur yang bisa lo perlakukan seperti ini!"
Di atas tubuh Zivana, Shaka tersenyum miring. Menatap sinis pada Zivana.
__ADS_1
"Bukan pelacur, lalu apa? Wanita murahan?" ejek Shaka.
"Jaga ya mulut, lo," ujar Zivana yang masih ada di bawah kungkungan Shaka.
"Bukan gue yang harus jaga mulut gue, tapi lo yang harus jaga sikap. Kayaknya gue terlalu ngasih kebebasan buat lo sampai lo lupa dengan status lo sebagai istri."
Tidak memberi kesempatan Zivana untuk menjawab, Shaka kembali melakukan aksi pemaksaan.
Zivana tak punya kekuatan lagi untuk melawan. Tubuhnya semakin lemas seiring apa yang Shaka lakukan padanya. Akhirnya ia memilih diam dan tak lagi melawan.
Shaka yang tengah asik sendiri dengan tubuh Zivana perlahan menyadari sikap Zivana yang tak lagi memberontak. Hal itu justru membuat Shaka menghentikan aksinya. Ditatapnya wajah Zivana yang datar dengan air mata yang meleleh tanpa suara.
Melihat sorot mata Zivana yang tak lagi menantang, justru membuat Shaka merasa bersalah. Ia pun bangkit dari atas tubuh Zivana. Lalu mengambil selimut untuk menutupi tubuh sang istri.
Zivana memalingkan muka ketika Shaka menatapnya. Ia marah, benci sekaligus jijik melihat Shaka saat ini.
Shaka merebahkan diri di samping Zivana. Tangannya melingkar di atas perut rata sang istri. Hal itu justru membuat Zivana memiringkan tubuh memunggungi Shaka.
Dengan gampang dan entengnya, Shaka berucap, "Maafin gue."
Zivana bergeming. Tak sedikit pun merespon permintaan maaf Shaka.
Sejak tadi tangan Shaka tak beralih dari perut Zivana. Seakan menahan gadis itu agar tidak kabur.
"Gue tahu gue salah, gue pasti udah bikin lo jijik sama gue. Tapi ...." Shaka menjeda kalimatnya.
Ia menarik napas sebelum akhirnya mengaku, "Gue cemburu."
__ADS_1