
"Bos ...." Suara panggilan diiringi ketukan dari pintu membuat Shaka dan Zivana semakin panik.
Dengan gerakan tangan Shaka meminta Zivana segera pergi untuk sembunyi.
"Iya, tapi di mana?" ujar Zivana dengan menekan suara agar tak terdengar dari luar.
Mata Shaka berkeliling, membantu mencari tempat sembunyi.
"Di bawah!" cetus Shaka menunjuk kolong tempat tidur.
Zivana membeliak tak percaya. "Nggak mau!" tolak Zivana.
"Bos ...." Panggilan kembali terdengar begitu pun ketukan di pintu.
"Buruan!" titah Shaka.
"Bos kita masuk, ya?" tanya suara dari balik pintu.
"Cepet!" Shaka menginstruksi.
"Kita masuk nih, Bos."
Saking gugupnya ketika melihat ke arah pintu, Zivana mau tak mau menuruti apa yang Shaka minta. Ia langsung masuk ke kolong tempat tidur. Bersembunyi di sana.
"Hai, Bos, tidur ya? Kok, kita panggil-panggil nggak nyahut," tanya Farel.
Shaka langsung berpura-pura menguap agar mereka tak curiga. "Iya, gue ketiduran."
"Gimana kabar, lo, Bos?" tanya Rendi yang mulai mendekat.
Bimo celingukan mencari bangku untuk duduk. Di saat yang bersamaan Mbak Eni masuk membawa dua bangku plastik dari bawah.
"Ini , Mas, buat duduk." Mbak Eni meletakkan dua bangku plastik itu di dekat ranjang.
"Kok cuma dua?" tanya Shaka.
"Kan itu ada bangku belajarnya Mas Shaka." Eni menunjuk benda yang dimaksud.
Shaka mengangguk paham. "Lo ambil Ren," ujar Shaka memerintah.
Eni sendiri tak lantas keluar. Wanita itu justru mengedarkan pandang mencari sesuatu. "Mbak Ziva ke mana, Mas?" tanya Eni sebelum keluar.
__ADS_1
Ketiga teman Shaka saling pandang, pasalnya mereka belum pernah mendengar nama tersebut. Menyadari kebingungan teman-temannya Shaka memutar otak dengan cepat untuk menjawab, "Pergi ke luar, katanya mau belanja sesuatu di mini market."
Tentu Shaka berbohong.
Mendapat jawaban yang meyakinkan Eni lantas meninggalkan kamar Shaka. Ia masih punya tugas untuk menyiapkan minuman untuk teman-teman Shaka.
"Ziva itu siapa, Bos? Baru denger," tanya Farel.
"Oh itu, dia sepupu gue," jawab Shaka berbohong.
"Sepupu?" Bimo dan Rendi jelas menunjukkan wajah tak percaya.
"Sepupu dari mana?" tanya Rendi memperjelas.
"Iya, dari mana, Bos. Cantik, nggak?" timpal Bimo.
"Nggak, dia cewek culun yang kampungan," jawab Shaka. Sengaja menjelek-jelekkan Zivana.
"Wah, mau dong Bos dikenalin. Cewek kampung biasanya masih murni Bos, kalau soal cantik atau enggak semua bisa diatur selama ada ...." Farel menyatukan jari jempol dan telunjuknya, yang berarti uang.
"Murni ... murni, bilang aja cewek lugu yang bisa lo kadalin!" Rendi mencemooh.
Tawa mereka reda ketika Mbak Eni masuk membawakan minuman juga camilan untuk ketiganya.
"Silakan, Mas," ujar Mbak Eni sopan sebelum pergi.
Mbak Eni baru saja sampai di depan pintu kamar saat ia kembali masuk. "Mas, kata Nyonya, Mas Shaka disuruh telpon Mbak Ziva biar cepet pulang, soalnya di luar mendung takut Mbak Ziva kehujanan," ujar Mbak Eni.
"Iya, nanti gue telpon," jawab Shaka setenang mungkin. Ia tidak boleh ketahuan, kan?
"Udah lama Bos sepupu lo tinggal di sini?" tanya Rendi sesaat setelah Mbak Eni keluar.
"Udah, ngapain lo ngurusin sepupu gue. Minum, gih!" Shaka berusaha mendistrak pembicaraan tentang Zivana.
Melihat minuman bersoda yang dingin juga camilan yang dihidangkan oleh asisten rumah tangga bosnya, Rendi tak tahan juga untuk tidak mencicipi. Ia ambil gelas dan meneguk isinya hingga setengah. Diikuti juga oleh Farel dan Bimo.
Obrolan berlanjut tentang kejadian kecelakaan waktu balap motor kala itu. Membahas alasan Shaka bisa terjatuh juga tentang kondisi Arjuna.
"Gue denger Arjuna baik-baik aja. Nggak ada luka serius," ujar Bimo.
"Kita harus buat perhitungan, Bos. Nggak rela gue lo dicurangi. Harusnya kan lo menang dan taruhan itu jadi milik kita," sambung Farel yang beranggapan taruhan Shaka dan Arjuna adalah geng motor mereka.
__ADS_1
Rendi tak mau kalah. "Bener, gue setuju. Kita harus bales itu si Arjuna. Lo tinggal kasih instruksi aja Bos, entar kita yang gerakin anak-anak buat nyerang basecamp si Jojon—sebutan anak geng motor Bullent Ant untuk Arjuna."
Di bawah kolong tempat tidur Zivana mendengarkan semua. Dari ucapan Shaka yang mengatakan dirinya adalah sepupu sampai cerita kenapa Shaka bisa terluka. Juga ketika mereka menyebut-nyebut soal Arjuna. Dari apa yang Zivana dengar, nampaknya ia bisa menarik benang merah dari semua kejadian.
Arjuna dan Shaka adu balap untuk suatu alasan yang belum Zivana tahu. Namun, ia bisa menyimpulkan jika keduanya bertaruh sesuatu.
Memikirkan semua kejadian yang saling berkaitan, Zivana sampai lupa kalau sedang berada di kolong tempat tidur. Tanpa sadar ia mengangkat kepala untuk mendongak, alhasil kepalanya terantuk ranjang.
"Aduh!" jerit Zivana spontan.
Farel, Rendi dan Bimo langsung kaget mendengar suara seorang wanita di kamar Shaka. Pintarnya Shaka sebelum semua menyadari keberadaan Zivana, dengan cepat ia berseru, "Aduh!"
Shaka mengusap lengan yang dibalut gips. Sontak perhatian ketiga teman Shaka langsung tertuju pada pria itu.
"Kenapa, Bos?" tanya Farel cepat.
Shaka mengusap lengannya. "Ini, tangan gue ngilu." Lagi-lagi Shaka harus berbohong. Kembali Shaka mengajak mereka berbicara demi mengalihkan perhatian mereka.
Namun, seakan Tuhan tidak merestui dan ingin agar status Zivana dan Shaka terbongkar. Di kolong ranjang Zivana justru bersin setelah gadis itu berusaha keras menahan agar tidak sampai keluar suara. Tetapi yang namanya bersin kalau tidak keluar suara pastinya tidak lega. Tidak hanya sekali, Zivana bahkan bersin sampai tiga kali.
Otomatis membuat ketiga teman Shaka curiga. Kali ini tak mungkin lagi bisa dialihkan atau dibohongi seperti tadi.
"Lo denger, kan?" tanya Rendi.
Bimo dan Farel mengangguk yakin.
"Kayaknya dari bawah sini." Rendi menunjuk kolong ranjang. Matanya menatap kedua temannya bergantian juga Shaka.
"Bos, lo nggak nyembunyikan sesuatu, kan?" Rendi semakin curiga.
Wajah Shaka langsung berkeringat ditodong seperti itu oleh Rendi. Bingung juga bagaimana lagi harus mengalihkan kecurigaan mereka.
Sementara di kolong tempat tidur Zivana masih membekap mulutnya sendiri. Takut kalau ada bersin ke empat. Semua gara-gara ia merasakan ada hawa pengap di bawah tempat tidur.
Ia juga was-was kalau teman-teman Shaka menemukannya di bawah ranjang. Rasa panik yang sebelumnya kembali menyerang.
"Gue yakin ada sesuatu di bawah sini," imbuh Rendi. Masih curiga.
"Liat aja!" ujar Farel menyuruh.
Shaka bingung bagaimana harus mencegah. Pun dengan Zivana yang ada di kolong ranjang. Tangannya masih ia gunakan untuk menutup mulut. Dalam hati ia berharap tidak ada satu pun teman Shaka yang menemukannya di kolong ranjang.
__ADS_1