
Sejak pertemuannya dengan Arjuna tempo hari, Winda jadi terlihat murung. Ia tak menyangka jika selama ini ia tinggal satu kota dengan putra kandungnya.
Rasa rindu yang selama ini ia tahan rasanya ingin dipuaskan dengan memeluk Arjuna walau sebentar. Namun, pertemuan kemarin membuat ia sadar bahwa semua tak semudah apa yang ia inginkan.
Arjuna menunjukkan sikap yang sama meski sudah bertahun-tahun berlalu. Rasa marah dan kecewa pemuda itu masih terlihat jelas untuk Winda—sang ibu kandung.
"Sedang apa di sini?" tanya Bagas saat pulang dari kantor.
Biasanya Winda akan menyambutnya di depan pintu dengan senyum yang selalu membuat hatinya teduh. Dan hari ini ia tak mendapat sambutan itu, karenanya Bagas mencari Winda dan menemukan istrinya itu tengah menyendiri di halaman belakang. Duduk di tepi kolam yang penuh dengan ikan koi.
"Mas, sudah pulang? Maaf, aku ...."
Bagas tersenyum. Ia mengusap lengan istrinya lembut. "Tidak apa-apa. Sedang apa di sini?" ulang Bagas.
"Aku ...." Winda tak berani meneruskan. Kesedihan tergambar jelas pada sorot matanya.
"Memikirkan Arjuna?" tebak Bagas.
Winda mengangguk pelan.
Bagas mengambil duduk di samping sang istri. Mengambil sejumput pakan ikan lalu melemparkan pada koi-koi yang menyambutnya dengan senang. "Kenapa nggak kamu temui saja."
Winda menoleh pada suaminya. "Apa boleh?"
Bagas kembali tersenyum "Ya boleh, Arjuna itu anak kamu dan sampai kapan pun akan jadi anak kamu. Aku tidak ada hak untuk memisahkan kalian apalagi memutus hubungan antara ibu dan anak."
Bukannya tersenyum karena bahagia mendapat ijin dari suaminya, Winda justru menangis mendengar ucapan Bagas. Sejak dulu Bagas seolah mengerti apa yang ia inginkan.
Winda merasa Tuhan sangat baik karena telah mengirimkan Bagas untuknya sebagai pengobat luka atas perceraiannya dulu.
*****
"Shaka?" Mata Zivana membelalak melihat kedatangan Shaka di rumahnya.
"Lo mau ke mana?" tanya Shaka melihat Zivana menenteng tas.
"Lo sendiri ngapain ke sini?"
"Katanya lo nggak bisa pulang karena Ayah sakit, ya udah gue nyusul aja ke sini sekalian jenguk Ayah," jawab Shaka.
"Nah, lo sendiri kenapa nenteng tas gitu?"
Zivana melirik ke tas ransel yang ia bawa. "Tadinya gue mau pulang karena Ayah nyuruh gue pulang, tapi karena lo nyusul kita nginep sini aja."
Shaka pun masuk untuk bertemu ayah mertua. Menanyakan keadaannya.
Saat itu juga Zivana ingat jika ia belum ijin ke restoran ayam cepat saji tempatnya bekerja. Segera Zivana menelpon manajer restoran juga Nesa untuk memberitahu jika hari ini tidak bisa bekerja.
Di waktu yang sama, Mbak Hesti mengirim pesan jika hari ini barang-barang di toko banyak yang datang dan ia tak sanggup mengurusnya sendiri.
__ADS_1
"Yah ...," sela Zivana ketika ayahnya sedang mengobrol dengan suaminya. "Ziva mau ke toko dulu bantu Mbak Hesti, banyak barang datang hari ini. Mbak Hesti nggak sanggup kalau harus ngurus sendiri." Zivana mengulang perkataan Hesti dalam pesannya.
"Ayah nggak apa kan kalau Ziva tinggal sama Mas Shaka di rumah?"
"Ayah baik-baik saja, sudah sana kamu bantuin Hesti. Nak Shaka tolong antar Ziva ke toko, ya," ujar Yusuf.
"Ziva bisa sendiri, Yah," tolak Zivana.
"Motor kamu nggak ada, Nak. Sudah seminggu dibawa sama Jack."
Mendengar nama Jack, Zivana jadi kesal. Apa lagi mengingat pria itu membawa motornya.
"Udah aku antar aja." Shaka berdiri sekalian pamit.
Karena toko kelontong milik ayah Zivana hanya terletak di jalan besar depan kampung Zivana jadi tak butuh waktu lama untuk Shaka mengantar. Zivana juga mengajak Shaka untuk turun dan membantunya memasukkan barang ke dalam gudang.
Meskipun pria itu kadang mengeluh, tapi adanya Shaka sangat membantu. Semua barang berupa minuman kemasan dan juga minyak goreng yang datang hari bisa masuk semua dalam waktu yang cukup singkat.
"Nih, minum dulu." Zivana mengulurkan satu botol minuman kopi instan untuk Shaka usai selesai membantu Zivana.
"Zi, aku pulang duluan ya. Nanti kamu aja yang kunci tokonya," ujar Mbak Hesti menyela.
"Iya, Mbak. Nanti biar Zi yang tutup. Makasih ya, Mbak."
Zivana memutuskan untuk tutup toko lebih awal usai memasukkan barang yang datang. Biasanya toko milik ayah Zivana itu bisa buka sampai jam sepuluh atau malah jam sebelas. Tetapi Zivana memilih tutup lebih awal karena tak tega membiarkan ayahnya terlalu lama sendirian.
Pulang ke rumah Zivana langsung menyiapkan makan malam untuk ayah dan suaminya. Tak lupa mengantar ayahnya kembali ke kamar usai makan.
Karena tidak menemukan Shaka di kamar, Zivana keluar untuk mencari sang suami.
"Ngapain lo di situ?" tanya Zivana yang menemukan Shaka duduk di teras rumah.
"Cari angin aja. Di sini nyaman buat rebahan," ujar Shaka yang duduk di bangku kayu.
Tak jadi istirahat, Zivana memilih untuk menemani Shaka duduk di teras.
Awalnya mereka saling diam, sampai Zivana berani berbicara. "Lo tu bukan anak SMA lagi yang harus tawuran. Gue tahu lo labil tapi jangan kayak anak kecil juga yang dikit-dikit tawuran. Ingat, lo udah punya buku nikah."
Shaka yang tadinya bermain ponsel langsung menoleh.
"Gue labil lo bilang?"
Zivana mengangguk jujur.
Ingin menyangkal tapi memang begitulah kenyataannya.
"Ngomong-ngomong soal buku nikah, kapan kita punya akta anak?"
Zivana mendelik seketika. "Anak? Jajan aja lo masih ditanggung orang tua, berani ngomongin anak," sindir Zivana.
__ADS_1
Shaka langsung tertawa.
"Tapi kalau gue mau kerja dan biayain rumah tangga kita lo mau punya anak sama gue?"
"Ogah!"
"Kenapa?"
"Gue nggak mau aja anak gue punya bokap yang labilnya nggak ketulungan. Yang dikit-dikit tawuran, dikit-dikit ngambek. Mau jadi apa anak gue entar kalau bokapnya aja labil."
Shaka kembali tertawa. Apa pun yang Zivana katakan tentang dirinya tak membuatnya tersinggung sama sekali.
"Ngomongin tawuran, sejak kapan lo kenal Arjuna?"
Shaka menarik napas panjang. Mengingat kejadian di masa silam. Saat dirinya bertemu Arjuna untuk pertama kali di bangku SMP. Dan sejak itu mereka memutuskan berteman. Mereka begitu dekat karena memiliki hobi yang sama. Sama-sama suka motor, dan juga banyak hal lainnya yang ternyata memiliki kesamaan.
Hingga semua berubah bahkan persahabatan mereka hancur saat Arjuna datang ke rumah Shaka. Di sana Arjuna melihat jika mamanya Shaka adalah wanita yang telah menelantarkannya sewaktu kecil.
Sejak itulah Shaka tak pernah lagi melihat Arjuna. Anak itu mendadak pindah sekolah dan tak lagi terlihat. Sejak itu juga sikap Shaka pada Winda ikut berubah.
Padahal dulu Shaka begitu dekat dengan Winda karena wanita itu turut andil membesarkannya. Namun sejak tahu kalau Winda adalah ibu kandung sahabatnya, Shaka yang masih anak-anak berpikir jika Windalah penyebab persahabatannya hancur.
Shaka dan Arjuna baru bertemu lagi saat mereka masuk kuliah. Tidak ada yang menyangka sama sekali kalau mereka akan masuk ke universitas yang sama.
"Woy ... lo dengerin gue nggak, sih?" Zivana tak sabar menanti jawaban Shaka.
"Sejak SMP," jawab Shaka datar. Nada bicara dan raut muka Shaka seketika berubah usai mengingat kejadian masa lalu.
"Wah ... lama juga ya. Apa dulu kalian deket, atau hanya saling kenal? Terus apa hubungan mama sama Arjuna. Pas di kantor polisi kayaknya mama kenal dengan Arjuna dan papanya?
"Arjuna anak kandungnya Mama Winda." Shaka pun mengaku. Sudah saatnya Zivana tahu tentang keluarganya.
Zivana kontan kaget. "Apa? anak kandung?"
Shaka mengangguk.
"Jadi Arjuna itu ipar gue dong?"
Kini Shaka yang mendelik.
"Bener, kan? Kalau Arjuna anaknya Mama Winda, berarti dia saudara tiri lo, yang artinya Arjuna itu ipar gue."
"Iya bener, emang pinter istri gue. Jadi pengen kasih ciuman deh karena pinter banget." Shaka langsung memegang kepala Zivana dengan dua tangan. Berpura-pura akan mencium Zivana.
"Shaka!" teriak Zivana menolak.
Tawa mereka pun kembali pecah, sampai terdengar suara benda jatuh dari dalam dan membuat mereka terdiam seketika.
Prang!
__ADS_1
Zivana dan Shaka saling tatap. Lalu berlari masuk.
"Ayah!" pekik Zivana.