
Zivana mendengar semua pengakuan Shaka, tapi hal itu tak cukup menggugah hatinya untuk memaafkan Shaka begitu saja. Bagaimanapun pria itu telah membuat Zivana kecewa dengan sikap kasarnya.
Keduanya terdiam untuk waktu yang cukup lama. Zivana terus berada pada posisinya memunggungi Shaka dan membiarkan pria itu memeluk tubuhnya dari belakang.
Mungkin karena sama-sama lelah, ditambah kesunyian yang mengisi ruang kosong di antara mereka. Dengan mudah keduanya jatuh tertidur dengan posisi yang tak berubah.
Jam tiga dini hari Zivana terbangun. Pandangannya tertuju pada tangan Shaka yang masih setia melingkar di atas perutnya. Perlahan Zivana menyingkirkan tangan itu, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian atas.
Ia turun dari ranjang menuju lemari untuk mengambil kaus. Sebelum pergi ke kamar mandi, Zivana berhenti di depan cermin yang ia lewati. Menatap bibir yang kini setebal bibir Kaylie Jenner. Juga melihat bibir bagian dalamnya yang ada sedikit luka karena gigitan gila Shaka.
Mengingat pria itu, Zivana menoleh pada Shaka yang pulas di atas ranjang. "Dasar gila!" gumamnya.
Zivana pun keluar dari kamar. Awalnya hanya ingin minum tapi ia justru menemukan kaca matanya tergeletak dengan frame yang telah patah.
Ingatannya kembali pada kejadian kemarin, ketika Shaka menarik dan mengangkat tubuhnya paksa. Saat itu kaca matanya terlepas dan pria itu tidak menyadari.
Zivana memungut kaca mata itu dan membawanya ke dapur. Usai minum, ia berinisiatif untuk memperbaiki bingkai yang patah. Bermodal lem yang ia ambil dari kamar, Zivana mencoba menyambung kembali bingkai.
Kaca mata itu bukan satu-satunya, tapi sangat disayangkan jika rusak dan harus ganti lagi karena belum lama Zivana membelinya. Mencoba memperbaiki adalah pilihan yang tepat menurut Zivana.
Namun, berkali-kali mencoba, frame yang patah tak bisa tersambung kembali. Sampai Zivana kesal dan memilih menyandarkan diri ke sofa. Hari masih gelap sebab itu membuat Zivana kembali mengantuk.
Pagi harinya Shaka terbangun dan tidak mendapati Zivana lagi di sampingnya. Ketakutan langsung menyerang. Takut kalau Zivana pergi meninggalkan rumah.
Segera ia memungut kaus yang semalam ia lempar asal dan segera memakainya. Sedikit berlari keluar kamar.
Rasanya lega bisa melihat Zivana masih ada di rumah. Ia pun berjalan pelan mendekati Zivana yang tertidur di sofa dengan posisi duduk.
Shaka juga melihat kaca mata yang coba Zivana perbaiki berada di atas meja masih lengkap dengan lem yang digunakan. Shaka duduk bersimpuh di lantai. Ia ambil tangan Zivana dan mengecupnya pelan.
Rasa bersalah akan apa yang ia lalukan semalam kembali muncul. "Maaf," ucap Shaka lirih.
Tangan Shaka terulur mengelus lembut pipi Zivana, membuat Zivana membuka mata dan segera menepis tangan itu. Tatapan Zivana begitu tajam, seolah kembali siaga. Khawatir Shaka berbuat gila seperti semalam.
"Kenapa tidur di sini?" ujar Shaka lembut. Sangat kontras dengan apa yang Zivana bayangkan.
"Maaf udah bikin lo takut," ujar Shaka lagi karena Zivana tak kunjung menjawab.
"Gue janji nggak akan pernah lakuin itu lagi." Kembali Shaka meraih tangan Zivana dan menggenggamnya erat.
"Maafin gue, ya."
__ADS_1
Zivana menatap intens raut wajah Shaka mencoba menyalami ketulusan dalam ucapannya. "Jangan pernah berbuat gila kayak semalam lagi."
Shaka mengangguk patuh. "Janji."
Baru juga diberi maaf, Shaka langsung memeluk tubuh Zivana seenaknya. Bahkan mengecup bibir gadis itu tanpa ijin.
"Shaka!" protes Zivana.
"Maaf ... maaf." Shaka mengangkat tangan ke atas.
"Tapi kayaknya gue mulai suka ini." Shaka menyentuh bibir Zivana.
Reflek tangan Zivana menepis kasar. "Jangan macem-macem!" ancamnya sebelum ia meninggalkan Shaka sendiri di sofa ruang tengah.
Shaka justru tersenyum tipis, menganggap ancaman Zivana sebagai tanda bahwa gadis itu telah memaafkannya. Aneh memang, tapi begitulah hubungan mereka.
Untung saja hari ini adalah Minggu. Sehingga Zivana punya waktu untuk kembali tidur.
Baru juga Zivana merebahkan diri di atas ranjang, Shaka tiba-tiba masuk dan berkata, "Siap-siap, ya, gue mau ajak lo ke suatu tempat."
Mata Zivana memicing. "Ke mana?"
"Pokoknya lo siap-siap aja, satu jam lagi kita berangkat," jawab Shaka lalu pergi.
Satu jam yang Shaka janjikan sudah tiba. Pria itu masuk kemar Zivana untuk memastikan jika istrinya sudah siap. Namun justru mendapati sang istri masih tertidur.
Shaka pun berusaha membangunkan dengan cara mengguncang pelan tubuh Zivana.
"Ziva, bangun," panggil Shaka lirih.
Hanya lenguhan yang keluar dari bibir Zivana. Matanya terlalu berat untuk membuka.
"Ayo bangun," bisik Shaka di telinga Zivana.
"Sebenernya mau ke mana, sih?" ujar Zivana dengan mata yang masih menutup.
"Makanya bangun biar tahu. Ayo ...." Shaka menarik tubuh tubuh Zivana agar terbangun.
"Gue, ngantuk," protes Zivana.
"Ini udah siang, ayo bangun. Gue gendong ke kemar mandi."
__ADS_1
Seketika mata Zivana membuka lebar. "Nggak usah!" tolaknya keras. "Gue bisa sendiri."
Dari pada digendong Shaka, mau tak mau Zivana harus memaksa langkah untuk berjalan ke kamar mandi.
"Jangan lama-lama mandinya!" seru Shaka mengingatkan.
Pria itu tak keluar dari kamar Zivana, justru naik ke ranjang dan memainkan ponsel di sana.
Di kamar mandi Zivana sudah selesai melakukan aktifitasnya tapi bingung cara untuk keluar. Ia lupa membawa baju ganti sementara baju yang ia pakai sebelumnya sudah masuk keranjang cucian kotor.
Zivana menarik napas panjang. Menyiapkan diri untuk keluar. Sejujurnya bukan karena malu tapi lebih ke rasa takut mengingat kejadian semalam.
Hanya mengenakan handuk Zivana keluar dari kamar mandi. Menahan degup jantung yang tak karuan ia berjalan ke lemari mengambil baju bersih lalu membawanya kembali ke kamar mandi.
Dari atas ranjang, Shaka terus memperhatikan. Tentu sejak Zivana keluar dan melewatinya begitu saja.
"Sabar, Shaka, ini ujian," batin Shaka menahan diri melihat istrinya usai mandi. Setelah semalam sempat mencicipi sedikit, siapa yang tidak akan tergoda melihat tampilan Zivana yang hanya berbalut handuk.
Tidak lama Zivana kembali keluar tapi kini sudah mengenakan celana jeans biru yang dipadukan dengan t-shirt warna pink bergambar Tedy Bear. Tanpa menghiraukan Shaka, Zivana mematut dirinya di cermin. Memakai moisturizer juga mengoles titip bibirnya dengan lip balm. Tak lupa juga menyisir rambut dan mengikatnya dengan gaya yang tak pernah bosan Zivana aplikasikan untuk rambutnya. Kuncir kuda.
Ia pun mencari kaca mata lama yang masih ia simpan di laci. Meski lama tapi masih bisa dipakai.
Shaka seperti tak berkedip menatap Zivana. Sejak gadis itu keluar dari kamar mandi sampai selesai merias diri, Shaka terus memaku pandang. Sampai-sampai tak sadar jika Zivana memanggil.
"Shaka, jadi pergi, nggak?"
Shaka tersentak. "Eh ... iya, jadilah."
"Ya udah, buruan! gue harus kerja nanti sore." Zivana bersiap mengambil tas.
Shaka berjalan di belakang Zivana. Menikmati aroma parfum yang menguar.
"Kunci pintunya," ujar Zivana mengingatkan.
Baru kali ini Shaka dibuat tak fokus. Disuruh mengunci pintu saja sampai bingung. Akhirnya Zivana juga yang harus melakukan.
"Kita mau ke mana?" tanya Zivana lagi saat berada di atas motor.
"Ke mana?" Shaka justru balik tanya.
Zivana sampai bingung
__ADS_1
Menyadari raut bingung Zivana, Shaka langsung mengoreksi. "Pokoknya ke suatu tempat."
Please Shaka, jangan gila. Fokus ... fokus!