Dinikahi Berandal Kampus

Dinikahi Berandal Kampus
Bab. 44 Mengaku


__ADS_3

Hari-hari Zivana lalui dengan aktifitas yang monoton. Kuliah dan pulang ke rumah untuk mengurus apa pun yang Shaka butuhkan.


Kini sudah tidak ada lagi rasa canggung saat membantu pria itu membersihkan diri atau pun mengganti pakaian. Zivana sudah terbiasa bahkan mungkin ia sudah seperti perawat saja. Iya, perawat di mana tidak ada pikiran apa pun selain membantu pasiennya. Benar-benar murni membantu.


Tidak terasa juga sudah satu minggu Zivana melakoni perannya sebagai perawat. Sebelum kuliah, ia mengurus semua kebutuhan Shaka terlebih dulu, mulai dari memandikan pria itu hingga menyiapkan sarapan juga obat.


"Udah beres, kan? Gue berangkat, ya?" ujar Zivana setelah memastikan semua kebutuhan Shaka terpenuhi.


"Hmm ...," jawab Shaka tak bersemangat. Karena ia akan merasa sepi jika Zivana sudah berangkat.


Shaka mulai terbiasa, cenderung tergantung pada istrinya itu. Sebab itulah rasanya tidak rela jika Zivana pergi berlama-lama.


"Ciye, bayi gede gue ngambek," goda Zivana menoel dagu Shaka.


"Apaan, sih, udah berangkat sana!" usir Shaka.


"Bener ya gue tinggal, gue mau bebas hari ini. Jangan ngarep gue pulang cepet, gue mau hang out sama temen-temen gue pulang kuliah nanti," ujar Zivana memanas-manasi.


Sekarang bukan hanya Shaka yang bisa menggoda dirinya sampai marah, Zivana pun sering melakukan hal yang sama. Rasanya itu adalah cara mereka berdua untuk menghibur diri dari pernikahan pura-pura ini.


"Awas aja kalau gue dapat laporan lo kencan ama cowok, habis lo kalau pulang!"


"Ih, takut ...." Zivana memperagakan ekspresi takut yang dibuat-buat. Kalimat ancaman seperti itu sudah sering Zivana dengar, bahkan ia sudah menjadi terbiasa.


"Buruan pergi sana!" Shaka melempar bantal ke arah Zivana.


Dan gadis itu berpura-pura lari ketakutan keluar kamar. "Bye ...."


Shaka tertawa dengan sikap Zivana itu. Ia meraih ponsel di atas meja, membuka galeri foto dan melihat kembali potret pernikahan mereka berdua. Beberapa hari ini Shaka sering melihat foto-foto pernikahannya atau foto Zivana yang ia ambil diam-diam saat istrinya itu tidur.


"Kayaknya gue emang bener jatuh cinta sama lo," ujar Shaka pada potret Zivana di ponsel.


Meski beberapa hari lalu sempat mengaku ingin hidup bersama layaknya suami istri sungguhan, tapi belum sekali pun Shaka mengaku cinta pada Zivana.


Namun kali ini ia merasa yakin jika yang ia rasakan untuk Zivana memanglah cinta.


"Gue jatuh cinta sama, lo," ulangnya sekali lagi.


*****


Seperti biasa Zivana pulang tepat waktu. Hari ini kuliah sampai jam dua. Ancaman hang out tadi pagi tak terbukti karena Zivana berat pergi bersenang-senang sementara ia punya tanggung jawab atas Shaka. Lagi pula ia sudah merasa letih dengan berbagai tugas kuliah.


"Mbak Ziva udah pulang," sambut Mbak Eni setelah menutup pintu gerbang untuk tamu majikannya.


"Iya, Mbak," jawab Zivana tak bersemangat.


"Tadi ada temen Mas Shaka main ke sini, Mbak. Jenguk Mas Shaka," ujar Mbak eni tanpa diminta.


"Oh, ya," jawab Zivana singkat. Jujur ia tak pernah membatasi Shaka dalam berteman. Jadi apa salahnya jika ada teman wanita yang menjenguk Shaka.


"Ceweknya cantik lho, Mbak." Nada bicara Mbak Eni seolah memanas-manasi.


"Oh ...." Zivana terlihat tak tertarik untuk tahu lebih jelas.

__ADS_1


"Kok cuma, oh?" Mbak Eni bingung melihat sikap cuek Zivana.


"Terus mau gimana lagi, Mbak. Kan, Mbak Eni sendiri yang bilang kalau itu temennya Mas Shaka. Dah, ah, mau masuk. Gerah!" Zivana berlalu meninggalkan asisten rumah tangga itu.


Sungguh ia tak ingin tahu siapa tamu Shaka.


Zivana mengetuk pintu sebelum masuk. Tampang lesu terpampang nyata di depan Shaka.


"Katanya mau hang out?" todong Shaka saat Zivana muncul dari balik pintu.


Zivana meletakkan tasnya di bangku meja belajar lalu membawa tubuhnya ke ranjang. Seperti biasa ia akan merebahkan diri sejenak sebelum memulai aktifitas di rumah.


"Aku capek banget," jawab Zivana dengan posisi tengkurap.


Tahu jika Zivana begitu lelah, Shaka tak berniat mengganggu. Ia biarkan saja Zivana tidur dengan posisi ternyamannya. Shaka bahkan mengelus kepala Zivana bak menidurkan bayi.


Keheningan tercipta, sampai suara Giska membuat Shaka dan Zivana tersentak.


"Shaka ...." suara kaget Giska membangunkan Zivana dari posisinya.


Bukan hanya Giska yang kaget melihat ada gadis berbaring di ranjang Shaka. Begitu juga Shaka dan Zivana yang sama kagetnya melihat Giska mematung di ambang pintu.


"Dia ...?" Giska menunjuk Zivana yang berdiri di samping ranjang.


"Gue ... gue bisa jelasin semuanya," ujar Zivana gugup. Jujur ia bingung harus berkata apa. Ia tak siap sama sekali dengan keadaan ini.


"Gue sepupunya Shaka, iya ... sepupu," sambung Zivana. Gadis itu tersenyum canggung. Sebab Zivana memang tak pandai berbohong.


Dari tempatnya berdiri Giska terus menatap Zivana. Seolah tidak rela ada gadis yang lebih dekat dengan Shaka selain dirinya.


"Tunggu!" sergah Giska ketika Zivana hendak melewatinya.


Spontan Zivana berhenti dan itu semakin membuat Zivana tak nyaman. Terlebih ketika sorot mata Giska seolah menelisiknya lebih dalam. Memindai tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sumpah, Zivana ingin lari!


"Shaka, apa benar yang dia ucapkan?" tanya Giska mengalihkan pandangan pada Shaka.


"Tentu saja benar," sahut Zivana cepat. Ia ingin memutus kecurigaan Giska sebelum gadis itu makin tak percaya.


Giska justru menatap aneh pada Zivana karena menurutnya tak sopan menyahut pembicaraan orang lain. Setelah menghadiahi Zivana dengan sorot mata tajam, Giska beralih pada Shaka. Ingin tahu kebenarannya.


"Shaka ...!" Giska tak sabar menunggu jawaban Shaka.


Zivana menatap Shaka agar mendukung kebohongannya. Namun, semua di luar dugaan ketika Shaka justru berkata, "Dia istri gue."


Sontak mata Giska membelalak. Tidak percaya dan sulit percaya akan jawaban Shaka. Tadinya ia sudah berharap jika apa yang dikatakan gadis berkaca mata adalah jujur. Mereka adalah saudara, hingga Giska masih bisa melambungkan angan untuk menjadi kekasih Shaka.


Sudah lama gadis itu menaruh hati pada Shaka. Giska bahkan sering menunjukkan kalau ia memang memiliki rasa dan berharap untuk bisa menjalin hubungan yang lebih dari sekadar teman. Namun, selama ini Shaka seakan mengabaikan segala bentuk rasa yang Giska tunjukkan.


Bahkan pernah suatu hari Giska memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada Shaka, tapi lagi-lagi Shaka tak menanggapi dan justru terkesan tak peduli. Giska tak menyerah sebab ia tahu alasan Shaka tak pernah ingin punya kekasih.


Predikat ketua geng motor yang melatar belakangi itu semua. Selama ini Shaka tak pernah ingin melibatkan wanita dalam hidupnya sebab ia takut gadis yang dekat dengannya justru akan menjadi incaran musuhnya. Sebab menganggap gadis yang dekat dengannya pastilah menjadi kelemahannya.


"Nggak, lo bohong, kan?" sangkal Giska. Tak bisa terima dengan kenyataan yang Shaka ungkapkan.

__ADS_1


"Terserah lo percaya atau enggak tapi Zivana memang istri gue, yang sah menurut hukum!" ujar Shaka mempertegas.


"Enggak ... enggak, Shaka apa-apaan sih, lo!" Zivana bahkan tidak mau mendukung pengakuan Shaka.


Jujur ia belum siap jika statusnya terungkap. Kalau sudah ada satu yang tahu tidak ada yang jamin kan kalau tidak akan menyebar. Pokoknya Zivana masih enggan statusnya sebagai istri Shaka tersebar di kampus.


"Giska, jangan percaya. Shaka cuma bercanda. Kita nggak ada hubungan apa-apa." Zivana mencoba meyakinkan Giska.


Namun gadis itu justru menatap benci pada Zivana. Sebab apa yang ia lihat pada gadis itu sangat kontras dengan kejujuran di wajah Shaka. Giska sudah cukup lama mengenal Shaka dan ia tahu persis tentang pria itu. Jika sudah mengklaim seorang gadis sebagai kekasihnya pastilah itu benar. Apalagi ini seorang istri.


Tatapan kemarahan Giska begitu jelas terlihat. Kenyataan jika dirinya harus menyerah tak bisa ia sembunyikan.


"Gue cuma mau ambil hand phone gue yang ketinggalan," ujar Giska. Tak mau menanggapi apa yang Zivana katakan.


Gadis itu pergi mendekat ke ranjang Shaka, mengambil ponsel yang tertinggal di meja kecil di samping ranjang. Sebelum pergi ia menatap kecewa pada Shaka. Harapan dan keinginan untuk menjadi kekasih pria itu kini lenyap sudah.


"Gue kecewa sama lo!" ujar Giska sebelum akhirnya berlari meninggalkan kamar Shaka.


"Giska, tunggu!" cegah Zivana. "Giska ...!"


"Nggak usah dikejar!" seru Shaka dari atas ranjang.


Zivana pun berhenti. Menurut apa yang Shaka katakan. "Tapi Giska nggak boleh tahu, kita harus jelasin lagi semua."


"Biar aja dia tahu biar dia nggak deket-deket gue lagi!"


Zivana kaget dengan apa yang Shaka katakan. Selama ini Zivana pikir Shaka suka dengan Giska. Sebab yang ia lihat di kampus Giska selalu saja menempel pada suaminya itu tanpa malu. Bersikap seolah mereka punya hubungan lebih dari sekadar teman. Bahkan mungkin semua orang akan berpikiran sama dengan Zivana jika melihat bagaimana sikap Giska.


"Ini cara yang tepat biar gue bisa lepas dari Giska," sambung Shaka.


Masih di tempatnya berdiri Zivana berkata, "Harusnya lo ngomong baik-baik sama dia kalau lo pengen putus, jangan libatkan gue kayak gini."


"Gue nggak pernah jadian jadi gimana gue bisa putus!"


Satu lagi pengakuan Shaka yang membuat Zivana tercengang. Selama ini Zivana pikir Giska memang punya hubungan spesial dengan Shaka sebab pertama kali bertemu gadis itu, Shaka bahkan rela meninggalkannya di jalan.


"Gue sudah sering bilang kalau gue nggak ada perasaan apa pun ke dia, tapi dia yang nggak sadar diri. Dan hari ini adalah kesempatan buat gue bisa lepas dari dia," ujar Shaka menjelaskan.


"Kalau lo nggak suka sama dia kenapa lo diam aja waktu dia deket-deket sama lo. Semua orang pasti berpikir kalau kalian itu ada hubungan."


"Gue emang sengaja, sejak ada Giska yang selalu nempel sama gue setidaknya nggak ada lagi cewek yang gangguin gue."


"Jadi lo cuma manfaatin dia doang?"


Shaka mengangguk jujur.


"Keterlaluan, lo. Bener-bener nggak ada hati!" Zivana pergi meninggalkan Shaka begitu saja. Ia memilih untuk keluar kamar sejenak. Pengakuan Shaka soal Giska membuatnya sulit percaya.


Zivana menuju dapur, mengambil segelas air putih. Ia butuh menenangkan diri setelah mendengar semua yang Shaka katakan.


Kembali memikirkan Giska. Muncul rasa kasihan pada gadis itu. Bagaimana bisa Shaka berbuat tega selama ini. Memanfaatkan Giska hanya demi kepentingannya.


Zivana juga mulai memikirkan bagaimana jika Giska menyebar apa yang tadi Shaka katakan di kampus. Pasti akan timbul masalah baru. Selama ini tidak ada yang tahu bahkan tak pernah sekalipun Zivana terlibat dengan Shaka di kampus. Kalau mendadak ada kabar jika mereka punya hubungan, bagaimana Zivana akan menjelaskan.

__ADS_1


"Lo buat hidup gue makin sulit Shaka!" jerit batin Zivana.


__ADS_2