
Selepas Zivana keluar kamar, Shaka mulai merebahkan diri. Rasa lelah sekaligus kantuk mulai menguasai. Tidur sebentar mungkin akan lebih baik atau malah tidur seharian dan bolos ke kampus. Yah ... itu pilihan paling tepat.
Zivana sendiri kembali ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang, kembali memikirkan tatapan aneh Shaka.
Zivana menepuk kepalanya sendiri. "Ish ... mikir apa sih, lo, Ziva. Jangan ikutan aneh, deh!" sangkal Zivana akan suara hatinya.
Menepis semua tentang Shaka, Zivana pun beranjak ke dapur untuk mulai aktifitas seperti biasa. Membersihkan rumah sebelum kuliah. Tak lupa ia membuat sarapan, lalu mandi dan bersiap ke kampus.
Zivana sudah menghabiskan sarapannya dan bersiap akan berangkat. Namun ia ingat jika mulai hari ini ia akan pulang terlambat karena sudah mulai bekerja. Ia pun membuka kamar Shaka, niat hati akan memberitahukan pria itu tentang pekerjaannya, tapi urung ketika melihat Shaka masih tidur.
"Udahlah, toh Shaka nggak bakal peduli gue pulang cepet atau terlambat." Zivana kembali menutup pintu kamar Shaka dan langsung berangkat kuliah.
Selepas pulang kuliah, Zivana sudah ditunggu Arjuna di tempat parkir seperti kemarin. Mereka akan berangkat bersama ke rumah makan ayam cepat saji. Zivana pikir tidak masalah berangkat bersama Arjuna karena bisa menghemat uang transport.
"Ciye, yang mau ngedate," goda Kania sewaktu mengantar Zivana ke tempat parkir.
"Kerja ... woy ... kerja!" seru Zivana dengan tegas.
"Iya ... iya, kerja sambil ngedate." Kania tak berhenti menggoda.
"Dah ... ah, berangkat, yuk. Nggak usah ladenin mereka," sungut Zivana mengajak Arjuna.
Arjuna yang jadi objek bercanda Kania haya senyum saja menanggapi. Sejujurnya dalam hati Arjuna akan senang jika apa yang Kania katakan menjadi kenyataan. Kencan dengan Zivana tentu sangat Arjuna impikan.
"Nggak sabar ni, ye." Kania belum menyerah untuk menggoda Zivana.
Mengabaikan Kania dan Dinda, Zivana memilih naik ke atas motor setelah mengenakan helm. Arjuna susah mempersiapkan sebelumnya, tentu sengaja jika nanti Zivana minta diantar pulang.
"Gue cabut dulu," ujar Zivana.
"Kapan-kapan kita main ke tempat kerja lo," jawab Dinda yang melambaikan tangan.
Karena jarak yang tak terlalu jauh, Zivana dan Arjuna pun sampai ke tempat kerja dengan cepat. Zivana langsung menuju pantry. Di sana ia mendapatkan arahan apa saja yang harus dikerjakan juga seragam yang akan ia kenakan selama bekerja.
__ADS_1
Ada lima orang hari ini di restoran. Dua sebagai chef dan tiga termasuk Zivana dan Arjuna sebagai waiters.
"Hai, gue Zivana. Senang bisa gabung bareng kalian. Tolong bimbingannya, ya," ujar Zivana sewaktu memperkenalkan diri.
Satu per satu menjabat tangan Zivana sembari memperkenalkan diri.
"Gue Nesa, waiters," ujar seorang gadis berseragam sama seperti dirinya.
"Gue Deni, chef," ujar pria muda berseragam putih.
"Saya Iwan, chef juga," ujar pria yang usianya lebih tua dari Zivana.
"Gue nggak perlu memperkenalkan diri, kan?" gurau Arjuna.
Ditanggapi senyum oleh Zivana.
Mereka semua menyambut Zivana sebagai kru baru mereka. Pada Zivana mereka semua terlihat biasa saja, tapi ketika menatap Arjuna, ada rasa segan dari ketiganya.
Nesa langsung memberitahu cara kerja di restoran tersebut. Dengan sabar Nesa membimbing Zivana. Sambil bekerja mereka pun berbincang tentang diri mereka masing-masing.
Nesa mengaku jika ia sudah bekerja di restoran ini sejak lulus SMA. Nesa juga menceritakan tentang Deni dan Pak Iwan, yang kata Nesa sudah berumah tangga. Bekerja sebagai chef sejak rumah makan ayam cepat saji ini dibuka.
Kalau Deni pria itu baru bekerja setahun belakangan.
Zivana merasa nyaman bekerja dengan ketiga teman barunya. Mereka semua menerima baik kehadiran Zivana.
Bahkan ketika restoran ramai di waktu malam, Zivana tak begitu kelelahan karena semua bisa diajak kerja sama. Zivana rasa ia akan betah bekerja.
"Gimana, capek?" tanya Arjuna saat mereka bersiap pulang.
Zivana menggeleng. "Malah sebaliknya, gue bakalan betah kerja dengan tim seperti kalian," puji Zivana.
Arjuna senang sekaligus lega mendengar pengakuan Zivana.
__ADS_1
"Kalian boleh pulang dulu, gue mau anter Ziva dulu," ujar Arjuna pada Deni dan Iwan.
"Eh ... nggak usah, gue mau nebeng Nesa aja. Rumah kami searah, kok. Ya, kan, Nes?"
Nesa menatap Arjuna tak enak hati. Tidak tahu kalau Arjuna ingin mengantar Zivana pulang. Makanya tadi ketika saling ngobrol dan bertanya tentang rumah, Nesa begitu antusias untuk memberi Zivana tumpangan sebab rumah mereka satu arah. Pikir Nesa lumayan buat teman dari pada jalan sendiri.
Akhirnya Nesa harus mengangguk juga meski sedikit takut karena sudah membuat Arjuna kecewa karena niat baiknya hari ini.
"Oh, ya udah kalau gitu. Silakan." Arjuna menggerakkan tangan agar Zivana dan Nesa pulang lebih dulu."
"Gue duluan, ya," pamit Zivana dan Nesa pada para pria di depan restoran.
Motor matic Nesa melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan mereka isi dengan obrolan layaknya dua gadis yang sudah berteman lama. Tidak ada rasa canggung sama sekali dari Zivana ataupun Nesa.
*****
Bagai menebus begadang kemarin malam, Shaka tidur sampai hari terang berganti gelap. Matanya baru bisa terbuka saat sebuah panggilan di ponselnya memaksa ia bangun.
Meski begitu Shaka tak berniat mengangkat panggilan itu. Ia biarkan saja ponselnya berdering hingga mati sendiri.
Setelah kesadaran terkumpul sempurna, Shaka bangkit dan langsung ke dapur. Tak lupa menyalakan lampu karena hari sudah malam. Ia lihat jam di dinding. Jarum menunjuk angka tujuh dan Zivana belum pulang.
Sembari menunggu Zivana di ruang tamu, Shaka membalas pesan dari Giska yang tadi sempat menghubunginya tapi ia abaikan. Juga membalas chat di grup Bullent Ant.
Tanpa terasa waktu sudah masuk pukul sepuluh. Zivana belum juga pulang. Rasa was-was muncul untuk istrinya.
Baru juga Shaka berdiri dan berniat mencari keberadaan Zivana, tapi suara mesin kendaraan yang berhenti di depan rumahnya membuat Shaka mengintip dari tirai jendela.
Zivana turun dari motor matic itu, dan motor pun langsung pergi setelahnya. Sebelum Zivana membuka pintu, Shaka lebih dulu melakukannya.
Sontak Zivana kaget melihat Shaka berdiri di ambang pintu seolah menyambutnya.
"Dari mana aja, lo?" todong Shaka langsung. Zivana bahkan belum masuk ke rumah tapi sudah ditanyai layaknya interogasi.
__ADS_1