Dinikahi Berandal Kampus

Dinikahi Berandal Kampus
Bab. 45 Masa Lalu Winda


__ADS_3

Giska pergi dengan perasaan kecewa juga terluka. Tangan yang memegang kemudi sesekali menyeka air mata yang terus keluar. Baru kali ini ia merasakan patah hati. Sebelumnya para pria lah yang bertekuk lutut memohon cintanya.


"Brengsek lo, Shaka!" umpat Giska. Berharap sesak di dadanya berkurang.


Entah apa yang kurang pada diri Giska, sampai Shaka tak pernah meliriknya sedikit pun. Cinta yang selama ini ia tunjukkan pada Shaka tak berbalas. Padahal ia sudah mempertaruhkan kehormatannya sebagai perempuan. Mendekati Shaka sampai mengutarakan perasaan secara terang-terangan semua ia lakukan, dan Shaka tak pernah menanggapi.


Harusnya sejak dulu ia sadar dan menyerah. Mungkin sakit yang ia rasa tak akan separah ini. Tekadnya berjuang justru berakhir luka dan kecewa.


"Shaka!" teriak Giska kalut. Tidak tahu harus ke mana mengusir semua kecewa yang bercokol di dada.


Ia sedang tidak ingin pulang. Ingin melepas dulu semua beban di hatinya. Setelah berputar-putar di jalanan, ia pun menemukan sebuah tempat yang ia rasa akan membuatnya lebih baik.


Mobil ia arahkan menuju tempat tersebut. Tanpa teman, Giska masuk ke tempat hiburan itu. Di meja bar, ia langsung memesan minuman yang mungkin bisa mengurangi beban pikirannya.


Awalnya satu gelas, tapi kombinasi rasa pahit dan sedikit manis membuatnya ketagihan. Dari satu gelas, Giska mulai lanjut memesan gelas kedua, lalu ketiga sampai ke empat.


.


Saat isi gelas ke empat ia teguk habis, saat itu juga kepala Giska terasa berat. Ia tak mampu menopang kepalanya sendiri.


"Giska," panggil seseorang yang baru saja tiba.


Meski tak kuat mengangkat kepalanya, tapi ia tetap berusaha menoleh. Samar-samar ia lihat seorang pria yang duduk dengannya.


Mulut Giska sampai menganga melihat sosok tampan yang duduk di sampingnya.


"Lo ...!"


Pria itu mengangguk saja. Kemudian memesan minuman yang sama dengan Giska. Awalnya mereka hanya duduk sembari menikmati minuman, lama-lama Giska mulai berkeluh kesah tentang kisah cintanya.


Sementara sang pria dengan setia mendengar apa pun yang Giska keluhkan. Semakin lama Giska semakin melantur saja seiring hilangnya kesadaran.

__ADS_1


\*\*\*\*\*


Kira-kira pukul satu tengah malam ketika Zivana terbangun dan mendapati botol minum yang ia siapkan telah kosong. Karena haus, terpaksa ia bangun untuk mengisinya kembali di dapur.


Untuk sekejap Zivana sempat tersentak kaget melihat seseorang yang duduk di meja makan. Namun setelah didekati rupanya dia adalah Winda, mama mertuanya sendiri.


"Ma, kok di sini sendiri. Ambil minum juga?"


Sama seperti Zivana yang sempat tersentak, begitupun dengan Winda. Ia menoleh dan merasa lega saat tahu yang bicara padanya adalah Zivana.


"Iya." Winda menunjukkan gelas berisi air yang tinggal setengah.


Zivana membuka lemari pendingin, mengambil air untuk mengisi botol yang ia bawa dari kamar. Lalu duduk di seberang Winda. Meneguk air itu untuk menghilangkan dahaga.


"Kok nggak langsung balik ke kamar, Ma?" tanya Zivana usai minum.


"Kamu duluan aja, Mama masih mau di sini," jawab Winda.


Zivana memperhatikan Winda dengan seksama. Raut wajah Winda tidak seperti sebelumnya, kali ini terlihat seperti sedang banyak yang dipikirkan.


Pertanyaan Zivana membuat Winda tersentak. Bagaimana Zivana tahu soal Arjuna. Apa Shaka sudah memberitahunya. Ah ... ya, mungkin benar Shaka sudah bercerita dengan Zivana.


"Kamu kenal Arjuna?"


Zivana mengangguk. "Dia teman satu kampus Ziva. Bahkan kami ada di fakultas yang sama."


"Oh ...," ujar Winda terlihat lesu menanggapi. Biar pun Zivana mengenal Arjuna, memang apa yang bisa menantunya itu lakukan untuknya. Toh apa yang menjadi ganjalan hatinya saat ini adalah tentang masa lalunya. Yang ia yakin Zivana tidak tahu.


Melihat Winda yang terdiam, Zivana kembali berkata, "Mama ingin ketemu Arjuna?"


Sebelum menggelengkan kepala, Winda tersenyum getir. "Itu tidak mungkin, Sayang," ujar Winda pesimis.

__ADS_1


"Kenapa tidak mungkin? Seorang ibu bertemu dengan anaknya itu hal yang wajar, bukan?"


"Iya, untuk hubungan yang normal. Tapi hubungan Mama dan Arjuna tidak begitu baik," jawab Winda menjelaskan.


Zivana tidak tahu seburuk apa hubungan Winda dan Arjuna di masa lalu, tapi mendadak muncul rasa ingin menyatukan mereka kembali. Dengan begitu mungkin saja hubungan Shaka dan Arjuna juga bisa ikut membaik.


"Mama sudah mencoba?"


Winda menggeleng keras. Ia terlalu takut untuk bertemu Arjuna. Rasa bersalah seolah menghalanginya untuk kembali merajut hubungan yang sudah terkoyak. Terlebih setelah melihat sikap Arjuna tempo hari, semakin membuat Winda tidak mampu untuk bertemu langsung dan meminta maaf pada putra kandungnya itu.


"Kita tidak akan pernah tahu jika kita tidak mencoba. Mungkin saja setelah bertemu dan bicara baik-baik hubungan Mama dan Arjuna akan jadi lebih baik."


Winda tersenyum pada Zivana yang seolah telah menghiburnya. Sebab ia tahu seperti apa Arjuna. Sikap Arjuna kemarin adalah bukti nyata betapa pemuda itu membencinya.


Dan Winda memaklumi hal itu karena ketika ia meninggalkan Arjuna, anaknya itu masih sangat kecil. Winda mulai teringat masa di mana ia terpaksa pergi tanpa Arjuna.


Winda adalah wanita karir sebelumnya, lalu ketika bertemu dan akhirnya memutuskan menikah dengan Pras—papanya Arjuna—ia dengan ikhlas melepaskan pekerjaannya. Semua demi niat baiknya mengabdi pada suami.


Hidup mereka bahagia, hingga Arjuna lahir. Sejak itulah bisnis yang digeluti Pras perlahan meredup dan Pras harus menanggung banyak hutang. Puncaknya ketika Pras ditipu oleh seorang teman yang membawa semua uang yang harusnya ia gunakan untuk modal berinvestasi kembali.


Sejak itu, sikap Pras menjadi pemarah dan sangat kasar. Hingga Winda tidak tahan ketika ia selalu jadi sasaran kekerasan oleh suaminya. Winda yang didukung oleh keluarga, terpaksa mengajukan gugatan cerai. Ia memperoleh hak asuh anak, tapi Pras dengan kuat tak mau memberikan Arjuna padanya.


Alhasil, ia pun ikhlas pergi tanpa Arjuna dan pindah ke kota untuk mencari kehidupan baru. Di kota inilah, ia bisa bekerja menjadi sekretaris dari Bagas. Sikapnya yang baik dan lemah lembut, juga menyayangi anak-anak membuat Bagas terpesona. Apa lagi ketika melihat interaksi Winda dengan Shaka yang kala itu sudah ditinggal wafat oleh mamanya.


Winda yang merasa kehadiran Shaka seolah menggantikan kesedihan karena jauh dari Arjuna dan Shaka yang tak mendapat kasih sayang seorang ibu, merasa saling melengkapi. Hingga Bagas melihat kedekatan itu dan memutuskan untuk memperistri Winda.


Melihat keseriusan dan sikap baik Bagas, Winda menerima lamaran Bagas dengan senang hati. Sejak itu hidup mereka bahagia. Shaka dan Winda, meski hanya ibu sambung dan anak sambung tapi mereka begitu dekat.


Sampai ketika Shaka sudah berada di bangku SMP dan membawa pulang seorang teman yang tak lain adalah Arjuna. Sejak itu Winda melihat sikap Shaka mulai berubah dingin padanya.


"Ma ...," panggil Zivana. Ia bahkan menyentuh tangan Winda yang sejak tadi terlihat melamun.

__ADS_1


"Ya ...." Winda terhenyak. Sadar jika sejak tadi ia melamun. "Ini masih malam, ayo kembali ke kamar," ujar Winda. Lalu berdiri dan pergi meninggalkan Zivana.


Masih di tempatnya, Zivana merasa aneh saja dengan sikap Winda yang mendadak meninggalkannya. Apa ia salah bicara?


__ADS_2