
Setelah menahan semua ketakutan yang bercokol di dada, akhirnya Zivana bisa bernapas lega usai melihat kondisi Ayahnya.
"Ayah kenapa lagi, Yah?" tanya Zivana begitu sampai.
"Ayah nggak kenapa-kenapa, Nak. Tadi ayah sudah pesan sama Hesti jangan kasih tahu kamu tapi anak itu masih ngeyel saja," jawab Yusuf yabg berbaring di atas ranjang.
"Yah, Ziva ini anak Ayah satu-satunya, kalau ada kabar apa pun tentang Ayah Ziva harus tahu. Bukannya malah disembunyikan." Zivana sedikit marah mendengar penuturan Ayahnya.
"Iya, tapi Ayah kan baik-baik saja. Kalau kamu dikabari mendadak seperti tadi pasti malah bikin kamu panik dan kepikiran. Ya, kan?"
Memang benar apa yang ayahnya katakan. Pikiran Zivana langsung ke mana-mana. Panik juga takut langsung menyerang.
"Tapi Ziva tetep harus tahu apa pun yang terjadi sama Ayah."
"Iya, Ayah akan sering kasih kabar ke kamu." Yusuf mencoba meyakinkan.
"Minum dulu, Zi," sela Mbak Hesti yang masuk membawa secangkir teh hangat dan meletakkannya di sebuah bangku plastik.
"Mbak tadi Ayah sudah dibawa ke dokter belum?" tanya Zivana pada pegawai toko kelontong milik ayahnya itu.
Masih mendekap nampan yang tadi dipakai untuk membawa teh, Hesti menjawab, "Belum, kamu tahu sendiri gimana ayahmu. Keras kepala."
"Yah ...." Zivana menoleh pada ayahnya. Memprotes keras kepala sang ayah.
"Sudah ... sudah, Ayah sudah baik-baik saja. Nggak butuh dokter," ujar Yusuf masih sama keras kepalanya.
"Tapi, Yah ... tadi Ayah pingsan lho. Kita harus tahu kenapa dan apa penyebabnya." Zivana memang takut kalau berhubungan dengan kesehatan sang ayah. Sebab hanya sang ayahlah yang Zivana miliki setelah ibunya tiada.
"Ayah ini sudah tua, Nak. Ayah kecapekan karena dua hari ini barang banyak yang datang dan Jack ijin tidak masuk. Jadi cuma ayah dan Hesti sendiri yang memindahkan barang-barang," tutur Yusuf.
"Emang Jack ke mana?" Zivana beralih menatap Hesti. Seolah meminta penjelasan.
"Ijin, katanya anter emaknya ke tempat paman," jawab Hesti.
Zivana kesal mengingat kelakuan Jack. Pemuda itu sengaja di haier menjadi pegawai toko untuk membantu pekerjaan Hesti juga Ayahnya sejak Zivana menikah. Tapi malah sering ijin dengan banyak alasan.
"Jack itu juga punya banyak urusan, Nak," ujar Yusuf setelah melihat raut kesal Zivana.
"Tapi kan nggak bisa main ijin-ijin gitu dong, Yah. Dia punya tanggung jawab atas pekerjaannya. Kita bayar dia lho. Kita harus tegas, Yah, kalau Jack masih mau kerja di tempat kita, atau kita cari orang lain saja." Zivana benar-benar kesal dengan Jack.
"Cari pekerja sekarang susah. Apa lagi cuma jaga toko kelontong seperti punya kita." Yusuf terlihat pesimis.
"Kalau Jack udah nggak betah, aku bisa cariin ganti, Zi." Mbak Hesti ikut menyahut dalam obrolan.
"Tapi kita harus tanya Jack dulu, jangan sampai kita justru membuat dia kecewa," ujar Yusuf mengingatkan. Ayah Zivana itu memang terlalu baik. Selalu perasaan orang lain yang ia pikirkan.
__ADS_1
"Sekarang ini dia yang udah bikin kita kecewa. Kenapa kita masih saja memikirkan perasaannya." Zivana benar-benar tersulut emosi.
"Tahan dulu emosimu, Zi. Minum dulu biar lebih tenang," ujar Hesti.
Zivana mengambil cangkir teh dan meneguknya selagi hangat. Ia tarik napasnya panjang untuk menenangkan emosi yang hampir meledak mengingat kelakuan pegawai ayahnya. Kalau pemuda itu disiplin ayahnya tidak mungkin akan kecapekan sampai pingsan.
"Kita ke dokter ya, Yah," bujuk Zivana usai minum teh. Ia berusaha melupakan tentang Jack sejenak. Ayahnya harus jadi prioritas.
"Tidak usah, Ayah sudah lebih baik kok. Cuma butuh istirahat," tolak Yusuf.
"Yah ...."
Yusuf mengusap tangan putrinya. "Ayah baik-baik saja." Kembali Yusuf meyakinkan.
"Ya udah, Ayah istirahat lagi aja."
Zivana keluar dari kamar Yusuf diikuti oleh Hesti. Ia pun menanyakan beberapa hal pada Hesti tentang apa saja yang ayahnya lakukan selama beberapa hari terakhir.
"Apa ayah masih suka telat makan, Mbak?"
"Sebenarnya enggak juga, karena setiap tiba jam makan siang aku selalu mengingatkan Pak Yusuf buat makan dan istirahat, tapi memang beberapa hari ini toko ramai terus juga banyak barang yang datang bersamaan," terang Hesti.
Zivana mengangguk paham. "Jadi ini tadi toko tutup, Mbak?"
"Iya, aku tutup dulu tokonya setelah ayahmu dibawa pulang oleh Mas Pur. Ini aku mau balik ke toko, masih lumayan kalau buka."
"Belum sempat makan."
"Ya udah biar Zivana masakin buat ayah aja." Sebelum pergi ke dapur Zivana menyempatkan diri memberi tahu Shaka jika ia tidak pulang malam ini karena harus menjaga ayahnya yang sakit.
"Kalau gitu aku balik ke toko dulu," pamit Hesti.
"Eh ... tunggu,Mbak," cegah Zivana sebelum Hesti pergi.
"Ya."
"Kira-kira di sini ada nggak ya orang yang mau jagain Ayah. Maksudku nemenin Ayah gitu, jadi kalau ada apa-apa sama Ayah ada yang bantuin."
Hesti nampak berpikir. "Ehm ... Nggak tahu juga ya Zi, entar deh aku cariin orang yang mau nemenin ayahmu."
"Tolong ya, Mbak, biar Ayah nggak sendiri. Takutnya kalau ada kejadian seperti di toko nggak ada yang bantu Ayah."
Zivana khawatir kejadian yang sama terulang. Lebih takut jika kejadian itu di rumah sementara ayahnya tinggal sendirian.
"Iya, nanti aku usahakan cari." Hesti mengerti kekhawatiran Zivana. Ia pun segera pamit untuk kembali membuka toko. Hesti memang sudah sangat dipercaya oleh Yusuf dan Zivana karena sudah cukup lama bekerja pada ayah Zivana.
__ADS_1
Sementara Zivana langsung ke dapur untuk masak. Tepat di saat masakan Zivana matang, ayahnya bangun. Zivana pun segera menyiapkan dan membawa makanan itu ke kamar.
"Yah, ini Zi masakin sup buat ayah. Makan ya."
Yusuf tak membantah. Ia makan disuapi Zivana. Mata tua Yusuf tak lepas dari memandang Zivana. Angannya kembali mengingat bagaimana dulu ia membesarkan Zivana sendiri tanpa seorang ibu. Kini putrinya itu sudah besar bahkan sudah berumah tangga.
Rasanya Yusuf sudah siap jika sewaktu-waktu dipanggil Yang Kuasa. Ia sudah menyerahkan Zivana ke tangan yang tepat.
"Yah ... Ayah kenapa?" tanya Zivana melihat ayahnya yang tiba-tiba berkaca-kaca.
Bukannya menjawab, Yusuf justru merentangkan tangan untuk memeluk putrinya. Zivana pun meletakkan mangkuk sup yang ia pegang lalu memeluk ayahnya erat.
Beberapa kali Yusuf mengecup kepala Zivana. Membuat Zivana heran.
"Ayah ...," panggil Zivana.
Yusuf melepas pelukannya. Menghapus air mata yang sempat berderai. "Ayah baik-baik saja. Ayah hanya ingat waktu kamu kecil dulu. Kalau sakit pasti minta gendong Ayah terus. Nggak mau turun sama sekali."
Zivana ingat akan kenangan itu.
"Sekarang kamu sudah sebesar ini, sudah bisa masak buat Ayah." Yusuf mencoba tersenyum.
"Ayah tenang aja, Ziva akan merawat Ayah sampai sembuh. Ziva juga udah bilang sama Mas Shaka kalau malam ini nggak pulang."
"Kok nggak pulang, kasian Nak Shaka sendirian."
"Nggak apa-apa, Yah. Mas Shaka bisa lakukan apa pun sendiri kok," terang Zivana.
"Meskipun begitu Ayah tetap ingin kamu pulang. Tanggung jawab mengurus suami itu ada padamu." Yusuf bersikeras.
"Tapi tanggung jawab mengurus Ayah juga ada pada Ziva, Yah." Zivana tidak rela kalau harus meninggalkan ayahnya sendiri saat ini.
"Sudah, nurut kata Ayah. Pulang."
"Yah ...."
"Percaya sama Ayah. Kamu harus pulang," pinta Yusuf lagi.
"Tapi, Yah ...."
Yusuf tidak mau dengar apa pun alasan Zivana. Ia tetap meminta putrinya itu kembali ke rumah suaminya.
Menyerah. zivana akhirnya memilih pulang. Menuruti apa yang ayahnya katakan meski tidak rela sama sekali.
"Ziva pulang, yah," Pamit Ziva lesu.
__ADS_1
Tak tega sebenarnya meninggalkan ayahnya sendiri. Mbak Hesti juga tidak bisa diminta untuk menemani sang ayah. Selain karena punya keluarga juga takut timbul fitnah.
Begitu membuka pintu untuk keluar, Zivana dikagetkan dengan kedatangan seseorang.