Dinikahi Berandal Kampus

Dinikahi Berandal Kampus
Bab. 30 Kantor Polisi


__ADS_3

Nampaknya ada yang membocorkan tentang tawuran ini kepada Polisi. Sebab di tengah-tengah jalannya tawuran mendadak polisi datang dan membuat mereka kalang kabut.


Mereka langsung lari kocar-kacir agar tak tertangkap. Namun, sial bagi Shaka dan Arjuna yang harus tertangkap polisi. Mereka langsung digelandang ke kantor polisi bersama anak geng motor lainnya.


Di tengah malam menjelang pagi semua anak geng motor yang tertangkap harus rela menahan dinginnya angin malam karena dipaksa berbaris di depan halaman kantor polisi tanpa baju. Mereka di suruh berbaris, push up, sit up bahkan ada yang disuruh jalan merangkak sebagai hukuman sebelum dijemput orang tua mereka.


Untunglah dalam tawuran itu belum jatuh korban yang diakibatkan karena senjata. Hanya luka-luka ringan yang di dapat oleh pelaku tawuran. Sebab itulah, mereka tidak dikenakan sanksi berat.


Bagas, Winda, dan Zivana tiba di kantor polisi. Di saat yang bersamaan, Winda melihat seseorang yang ia kenali.


"Mas, itu bukannya Mas Pras?" Winda menepuk lengan suaminya.


Bagas mencari sosok yang Winda maksud. Begitupun Zivana meski ia tidak tahu siapa orang yang mama mertuanya sebut.


"Mungkin," jawab Bagas setelah menemukan pria yang istrinya sebut.


"Boleh aku tanya ada apa dia kemari, Mas. Aku takut ...." Winda tak melanjutkan ucapannya.


"Aku temani," jawab Bagas.


Winda menggandeng tangan suaminya untuk menghampiri pria bernama Pras. Sementara Zivana mengekor di belakang mertuanya.


"Mas Pras?" panggil Winda.


Membuat sosok bernama Pras berhenti untuk tahu siapa yang tengah memanggilnya.


"Mas, ada urusan apa malam-malam begini ke kantor polisi. Juna baik-baik saja, kan, Mas?" tanya Winda ketika mereka sudah berhadapan.


Pria bernama Pras tidak langsung menjawab. Ia justru menatap sinis pada Winda yang tengah menggandeng Bagas. Juga menatap Zivana yang berdiri di belakang mereka. Kemudian tanpa menjawab pertanyaan Winda, pria itu berlalu begitu saja.

__ADS_1


Winda dan Bagas hanya bisa menatap punggung Pras yang mendahului mereka masuk ke kantor polisi. Bagas mengusap punggung tangan istrinya untuk membuat istrinya tenang.


"Ayo, masuk," ajak Bagas.


Di dalam kantor polisi Bukan hanya Winda dan Bagas yang kaget tapi juga Zivana. Sebab selain Shaka ada juga Arjuna yang kini sedang berbicara dengan pria yang tadi disebut mama mertuanya.


"Mas ... Arjuna dan Shaka ...," ujar Winda pada Bagas.


"Kamu tunggu di sini dulu," pinta Bagas lalu menemui Shaka yang sedang bersama polisi.


Arjuna keluar lebih dulu "Arjuna?" panggil Winda tapi tak diacuhkan oleh pemuda itu.


Tatapan Arjuna justru tertuju pada Zivana yang ada di samping Winda.


"Juna, ngapain lo di sini? atau jangan-jangan lo juga terlibat dalam ____" Zivana tak meneruskan ucapannya.


"Lo sendiri, ngapain di sini. Terus, apa hubungan lo dengan ____" Arjuna melirik Winda.


"Ngapain juga lo pengen tahu?" tanya Shaka sinis. "Tapi sebaiknya lo tahu sih, biar lo sadar diri. Dia istri gue!"


Arjuna dibuat tak percaya dengan pengakuan Shaka. Ia pun menatap Zivana, mencari penjelasan.


Zivana belum bisa menjawab karena Shaka tak memberinya kesempatan. Pria itu justru mengajak Zivana pergi.


Tinggallah Arjuna dan Winda berdua. Kesempatan itu dipakai Winda untuk mendekati Arjuna.


"Juna," panggil Winda lirih.


Arjuna menoleh, tapi kemudian pergi begitu saja dengan tatapan marah.

__ADS_1


"Kita mau ke mana, bukannya lo masih harus nunggu Papa?" tanya Zivana.


"Ke mobil," jawab Shaka sekadarnya.


"Hah ...?"


"Lo tunggu di sana aja."


Shaka mengantar Zivana ke mobil, sementara dirinya kembali masuk untuk melengkapi berkas sebagai syarat agar tidak ditahan. Pasalnya tadi Shaka hanya ijin ke toilet, tapi malah melihat Arjuna yang menanyakan tentang status Zivana. Tentu Shaka terpancing untuk mengumumkan kebenaran.


Orang tua Shaka juga Arjuna bersedia menjamin anak mereka agar tidak ditahan, juga menjamin jika mereka tidak akan terlibat tawuran lagi. Usai menyelesaikan segala berkas, Shaka dan Arjuna diijinkan untuk dibawa pulang.


Ketika mereka keluar secara bersamaan, Arjuna menunjukkan sorot tak bersahabat. Ia marah pada Shaka juga pada Zivana yang seolah membohonginya dengan menutupi status mereka.


Padahal Arjuna sudah menaruh hati pada Zivana sejak pertama kali mereka bertemu. Namun nyatanya Zivana sudah menjadi milik Shaka tanpa ia menyadari.


"Mas, tunggu sebentar, ya," Winda ijin pada Bagas untuk bertemu Arjuna lagi.


Bagas mengangguk sebagai persetujuan.


Winda pun berlari ke arah mobil Pras.


"Mas pras, Arjuna ... tunggu!" seru Winda.


"Arjuna, bagaimana kabar kamu? Kamu sudah besar, ya?" tanya Winda. Jujur wanita itu canggung harus bersikap bagaimana. Ingin memeluk tapi ragu, padahal ia sangat merindukan Arjuna.


Arjuna hanya menatap sekilas.pada Wanda selebihnya ia justru memalingkan muka. "Ayo, Pa!"


Kembali, Arjuna mengabaikan Winda. Begitupun dengan Pras. Mereka lebih memilih untuk segera pergi meninggalkan kantor polisi.

__ADS_1


Winda menatap nanar kepergian mobil Arjuna. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini menetes tak terbendung.


Dari dalam mobil Zivana melihat apa yang Winda lakukan tapi hanya bisa bertanya dalam hati ada hubungan apa antara mam mertuanya dengan Arjuna?


__ADS_2