
Dinikahi Sepupuku~
"Ada kabar dari Dimas?" tanya Kakek padaku aku sama bingungnya dengan yang lain penghulu sudah di depan mata jam sudah menunjukan pukul 08.50 itu artinya sebentar lagi aku dan Dimas akan melangsungkan acara sakral ini, akan tetapi sampai detik ini Dimas dan keluarganya juga tak ada kabar tentu saja aku gelisah hatiku tak karuan bagaimana tidak sehabis ini pasti keluargaku akan menanggung malu terlebih aku yang akan menjadi buah cibiran tetanggaku lagi.
"Pak sudah mau jam sembilan tapi sepertinya calon mempelai pria_" ucapan pak penghulu terpotong oleh suara panik Kakek.
"Tunggu pak penghulu kita tunggu sampai batas akad jika tidak ada kita akan membatalkan nya." ucap kakek kecewa.
Mama yang sedari tadi terisak membuatku sedih dan merasa malu bagaimana tidak malu aku yang sudah cukup umur bahkan lebih dari cukup untuk menikah tapi seperti ini bukan sekali saja kejadian ini berulang sudah hampir dua kali dengan ini, tentu saja aku sangat sedih terlebih melihat Mama yang menginginkan aku menikah sejak setahun kemarin, aku mengenalkan Dimas pada keluargaku mereka amat senang karena melihat ketulusan Dimas.
Namun hari ini entah mengapa ia tak juga datang, ku pasrahkan kali ini aku merasa kecewa. Ingin ku berteriak menangis merutuki nasib, Tapi aku sadar takdir milik Tuhan bukan kah jodoh maut rejeki sudah ada yang mengatur? Yah aku harus kuat mental sekarang.
Dalam situasi seperti ini aku hanya bisa pasrah dan berdoa.
Aku menunggu di kamarku sesuai perintah kakek ditemani mama dan sepupu yang lain pendengaranku menajam mungkin Dimas sudah sampai tak ku dengar keributan lagi, semuanya tenang begitupun dengan Kakek kini emosinya kembali stabil. Tepat jam sembilan ku dengar suara lelaki yang tak ku kenal, suaranya itu bukan Dimas. Aku yakin bukan tapi aku merasa bahagia senyumku kembali merekah tapi siapa lelaki itu?
"Neng pengantin yuk keluar untuk menandatangani berkas perkawinan nya." kata uwak ku. Aku mengangguk, Mama menciumku lekat dan berbisik. "Mama merestui kalian." sambil berlinang air mata.
"Terimakasih mama jangan sedih lagi." Aku kembali mengecup mamaku dan sepupu yang lain menyalamiku.
Aku pun keluar diiringi mama dan yang lain aku menunduk karena malu, aku sangat gugup sekali dan harus menyikapi keadaan dengan baik, Mama mendudukanku di samping laki-laki yang tak kulihat wajahnya sungguh siapa laki-laki baik hati yang menolongku ini?
Aku sedikit bingung kenapa harus menandatangani berkas sedangkan suamiku bukan Dimas.
"Neng pernikahan kalian sudah sah dimata hukum dan agama." ucap penghulu aku mengangguk tanpa menatap pak penghulu.
"Berkas bisa nyusul untuk melengkapi akta pernikahan karena mempelai pria yang berbeda jadi harus di urus ulang jangan khawatir kalian tetap menjadi pengantin yang sah." itu yang di katakan pengurus KUA menerangkan ku.
"Sekarang pakaian cincin sebagai mas kawin nya." perintah pak Penghulu.
Saat kami dihadapkan aku masih menunduk bergetar dada ini aku tak berani menatapnya aku terlalu malu dan sedikit takut. Aku masih bertanya kenapa ia mau menggantikan Dimas oh ya Dimas kau sangat pengecut tapi aku mencintaimu Dimas huhuhu.
"Neng... Berikan jarimu jangan melamun." bisik Mama lalu aku mengangguk.
__ADS_1
Seketika itu juga laki-laki di hadapanku mencium kening ku dan aku sungguh terkejut bagaimana bisa dia orang yang aku kagumi sejak dulu tapi itu dulu, dulu sekali sebelum aku mencintai Dimas. Aku menatap nya lekat mencari kejujuran ia tersenyum manis dihadapanku aku meleleh terpana dengan pandangan yang langka ini apakah aku bisa menjalani pernikahan ini ya ampun mustahil bagaimana bisa dia adalah sepupuku sendiri dadaku berdetak lebih kencang saat mata kami bertemu, aku memberikan senyuman yang manis padanya dan menundukan kepala kembali.
Mataku tak hentinya menatap wajah yang kini duduk di dalam tengah keluargaku berbincang dengan Kakek, kedua mertuaku dan Mama. Aku yang disibukkan membuka kado pernikahan bersama sepupuku yang lain.
Mata kami saling memandang aku memutuskan pandangan terlebih dahulu aku sangat malu sekali, sepupu yang menjadi suamiku sekarang semakin tampan dan elegan.
Seketika semua mata menatapku setelah mendengar nada notifikasi di gawai yang terletak di sampingku, kuraih gawai itu mataku terbelalak seketika hatiku merasakan sakit luar biasa.
Tiba-tiba aku terisak saat itu juga, suamiku tergopoh meraih ku yang memang tak jauh hanya jarak dua meter saja.
"Parah Dimas." hanya itu yang kudengar suara Tamara sepupuku.
"Dimas?" Ucap Mama dan yang lainnya bersamaan, kulihat suamiku menatapku tegang.
Mama... Hiks... Hiks..
"Sudah tidak perlu kau tangisi lelaki macam seperti itu Neng... Kamu harus terima kenyataan sekarang kamu sudah bersuami istirahatlah." perintah Kakek ia masih jengkel dengan apa yang Dimas lakukan hari ini.
Mereka setuju, semuanya menyarankan kami sebagai pengantin segera istirahat, sebetulnya aku sangat malu sekali dengan kejadian seperti ini, hanya karena ingin menyelamatkan keluargaku sepupuku mengorbankan diri dan perasaannya untuk pernikahan yang belum tau kearah mana nantinya. Ya Allah kenapa berpikir seperti ini harunya aku bersyukur karena sudah menyelamatkan setatus ku, Mas Ibra memapahku.
Aku bersama Dimas serta keluarga memang berencana hanya akad saja karena kesibukan Dimas yang pekerja keras resepsi bisa nyusul nanti.
Aku menggeleng nafsu makanku seakan hilang dengan sendirinya
"Mas... Nanya boleh?"
"Ya silahkan." sahutnya matanya tetap pokus dengan gawainya.
"Kenapa kamu nikahin aku?" tanyaku yang memang penasaran aku rasa tidak salahkan bertabbayun pada suami sendiri.
Lelaki itu menghela nafas menyimpan gawainya diatas nakas duduk bersila menghadap ku.
"Menurutmu?" ia malah balik bertanya.
__ADS_1
"Yah aneh aja gitu dan penasaran juga! secara kita kan sepupuan."
"Aneh bagaimana? Biasa aja tuh." Ia meraih kembali gawainya dan senyum-senyum sendiri mas Ibra memang seprti itu sejak dulu sifatnya dewasa dan menenangkan tapi kali ini aku benar-benar merasa penasaran apa sih alasannya.
"Gak usah berfikir yang iya iya jalanin aja dulu nanti kamu juga akan menerimaku seiring berjalannya waktu." ucapnya tanpa menoleh ku tentunya.
"Aku hanya ingin tahu dari mulutmu sendiri mas, jujur aku belum nerima pernikahan ini karena menurutku pernikahan ini aneh kenapa harus sepupuku sendiri yang menikahiku." Aku terisak tentu saja aku sedih karena laki-laki yang kucintai tak jadi menikahiku.
"Kamu menyesal?" ucapnya kembali menatapku. Aku tak mampu menjawab kutundukan kepalaku aku tak berani menatapnya.
"Tunggu disini aku akan ambilkan makan kita makan sama-sama." mas Ibra bangkit keluar kamar.
Aku masih menangis sesegukan, bagaimana kedepannya pernikahan ini dengan sepupu sendiri dulu aku memang mengaguminya bukan berarti harus menjadi suamiku kan.
*****
"Keputusan Ayah sudah tepat Astri sangat setuju dengan keputusan Ayah walau bagaimanapun Ibra akan tetap menjadi keluarga kita." ucap Mama.
"Tadinya aku ragu setelah ia mengajukan menjadi mempelai pengganti Ayah semakin yakin dengan keponakanmu itu. dia laki-laki bertanggung jawab." ujar kakek.
"Aku akan berbicara dengan kak Musa besok." ucap Mama mengakhiri percakapan dengan Kakek.
"Baiklah, sebaiknya kau istirahat nak." ucap kakek.
"Baik ayah, aku permisi." lalu Mama kembali ke kamarnya ketika hendak melangkah Mama berpapasan dengan menantu sekaligus keponakannya.
"Nak terimakasih sudah menolong Bibi." ucap Mama haru.
"Bi! ini sudah menjadi tanggung jawabku jadi Bibi tak perlu berterimakasih yah. Bibi sudah makan?" lanjut mas Ibra.
"Sudah, kamu yang belum dan juga istrimu Bibi istirahat dulu yah." pamit Mama, Mama menepuk bahu menantunya lalu pergi kekamar untuk istirahat.
Mas Ibra kedapur untuk mengambil makanan.
__ADS_1
Bersambung....