
Hari sudah pagi aku lekas ke dapur membantu Bunda dan mba menyiapkan sarapan aku sudah ijin pada Bunda dan berpesan jika mas pulang aku pergi sebentar dengan mba Ana aku tak bisa ikut sarapan dan kembali ke kamar untuk bersiap sepertinya kurang nih kalau gak pakai hiasan bros.. batinku saat kembali bercermin.
"Bun punya bross gak?" Tanyaku saat turun ke bawah.
"Bunda lupa naro kalo yang bekas pakai Bunda bentar tak carikan dulu."
"Oke bun makasih yah." Aku duduk di ruang keluarga menunggu Bunda sambil memainkan ponsel aku hendak mngetik pesan untuk mas Ibra karena semalam lupa.
"Heem... tapi bunda lupa ada yang baru di kamar tamu, mbak tolong ambilkan bros di kamar tamu yah."
"Baik bu,"
"Mba biar aku aja deh, di lemari apa di nakas bun?" tanyaku bergegas.
"Kayaknya di nakas sayang." Teriak Bunda.
"Baiklah terimakasih Bun." Aku melangkah ke kamar tamu depan kamar Bunda bersebelahan dengan kamar Nenek aku membuka pintu dan lekas masuk.
Klerk...
"Astagfirullah... Mas!" Sesak sekali hatiku melihat mas Ibra tidur di kamar tamu semarah itukah padaku. Sengaja tak ku bangunkan biarkan saja mungkin mas sedang menenaggkan diri atas kesalahanku yang tak pernah aku tahu.
Ku ambil segera benda kecil yang kubutuhkan lantas pergi dari kamar itu pamit pada Bunda Karena barang yang akan aku antar sudah siap menggantung di kuda besi mba Ana minta di jemput di gang rumahnya akuoun meluncur.
"Mas kamu boleh marah sama aku tapi yang jelas dong marahnya kesalahan aku dimana sih." Batinku sambil mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir. Brugghh...
"Aduhh untung cuma nabrak trotoar Inge jangan ngelamun dong." Batinku terkekeh merasa lucu saja sudah cantik malah nabrak trotoar. "Mba gak apa apa?" sebuah mobil bertengger di belakang kuda besiku.
"Gak mas saya baik-baik aja kok." Saat aku menoleh tak kusangka jika manusia yang tak pernah ingin aku temui muncul di hadapanku. aku menundukan pandanganku untuk berlalu.
"Maaf saya buru buru."
"Inge, maaf aku gak bermaksud."
"Aku gak mau bahas, jangan ganggu aku stop. " Aku pun pergi dari hadapan pria menyebalkan itu.
Setelah pertemuan dengan pria itu aku segera menjemput mba Ana dan segera meluncur mengantar pesanan setelah selelsai kami berdua pergi melihat ruko yang lumayan strategis untuk di jadikan toko kue.
"Boss seperti kamu sakit yah? Bagaimana setuju tidak?" Tanya mba Ana ia selalu memanggilku dengan sebutan itu sudah kebiasaan aku mengangguk setuju seleai urusan aku kembali pulang.
"Nak kamu baru pulang? Dari pagi belum makan jangan dibiasakan mengosongkan perut di pagi hari " ucap Bunda membuat hatiku menghangat.
Mas Ibra tak menoleh sama sekali, aku mencuci tangan dan bergambung dimeja makan, masakaan Bunda memang juara sama seperti masakan mama. Jadi kangen Mama.
Tiba-tiba aku mengantuk saat makan aku beranjak menyudahi makanku karena sudah tak berselera.
"Cepat amat makannya nak?" Tanya Bunda memindahkan nasi pada kotak makan sepetinya Ayah akan berangkat ke temoat usahanya.
"Iya bun nanti aku keatas dulu deh." kataku sopan. aku sebetulnya males bertemu dengan mas Ibra.
"Jangan lama lama mas mu mau pergi katanya." ucap Bunda lagi.
"Heem. sebentar kok." Haduh aku males banget kalau udah naik terus turun lagi sebenarnya.
kulihat sekilas mas Ibra melirik tapi keburu aku liat jadi gitu deh. huh kalau mau liat mah liat aja.
Setelah masuk kamar aku merebahkan badanku sebentar meregangkan otot-otot. Aku teringat dengan Mba Ana lalu mengirim pesan padanya agar segera menghubungiku jika kesulitan mengurus toko baru.
Tiba-tiba perutku bergejolak nah ini pasti masuk angin lagu karena tadi berangkat kedinginan, cepat-cepat aku lari kekamar mandi.
Hoek.... hoekk hoekk...
Astagfirullah kenapa yang keluar cairan asam dan pahit sekali badanku juga jadi lemes lima belas menit aku mual muntah kuambil segelas air dinakas lalu ku teguk habis aku kembali merebahkan diri niat hati ingin k mbali kebawah namun perut ini kembali mual. Kubaringkan tubuhku ini sangat lemas dan lelah sekali. mataku juga mendukung untuk kembali tidur tapi aku ingat bahwa aku belum salat duha lantas aku kembali berwudu dan bermunajat di pagi ini mataku sudah tak kuat lagi sampai aku tertidur.
__ADS_1
Kejadian tadi pagi aku mengingatnya aku tertidur diatas sajadah, sekarang posisiku sudah agak mendingan aku sadar kenaoa aku ada di ranjang?
"Yaallah jam berapa ini." perutku sudah keroncongan minta diisi. aku berusaha bangun namun badanku tak seimbang saat menopang ahirnya aku pun tumbang kubuka mataku ternyata mas Ibra.
"Hat- hati kalau jalan." Suara yang aku rindukan dari semalam. Aku kembali berdiri tak menghiraukannya tapi mas Ibra tetap mengandengku kembali ke ranjang aku menurut saja hanya diam Ir yang bisa kulakukan.
"Ini makan kamu pasti laperkan? oh ya! kalau tidur mukenanya di lipat dulu jangan asal tidur, sudah masuk angin tau rasa." Ketusnya.
"Iya maaf, makasih udah pindahin aku."
"Heem.. " mas Ibra cuma bilang hmmm doang tanpa menoleh sedikitpun saat tadi mengambil laptopnya, sekarang ia sedang asik di depan layar monitor itu membiarkan aku makan sendiri.
"Mas A-aku makan yah."
"Hmm... " Karena benar-benar lapar aku menghabiskan sepiring makan.
"Laper apa doyan?" Mas Ibra mulai mengejek yang pasti laper dong sayang tapi sayang cuma dalam hati doang.
Oh ya! kenapa pula suamiku ini tidak jadi pergi? ah sabodo teuing ngapain aku perduli dia aja cuek. aku sengaja menselonjorkan kakiku yang mudah keram ini.
"Gak usah natao aku gitu, kalau udah habis minum obat terus kembali tidur." Ucapnya datar tanpa menolehku aku hanya diam tak betah sekali aku jika diam saja.
"Mas... boleh gak aku minta sesuatu?"
"Apa tuh, dari kemarin minta sesuatu tapi gak pernah sel sai kalau ngomong." biasa tanpa melirikku dan masih ketus.
"Mas Inge disini bukan di laptop." Aku pun mulai jengkel ingin rasanya terisak entah lah kenapa suasana hati aku mudah sekali berubah-ubah Mas menatapku penuh arti.
"Ada apa?" ia bertanya tegas.
"Gak jadi gak usah." aku beranjak kekamar mandi lalu aku terisak sejadi-jadinya tak lupa kunyalakan air agar tak terdengar oleh suamiku aku juga bingung apa mauku. "Kenapa sih dengan diri ini kenapa mudah sekali menangis." kausap air mataku dan ku basuh dengan air lalu aku keluar aku tak mendapati mas Ibra beserta piring kotor bekas makanku tadi.
Yang ku temukan hanya laptop yang menyala, iseng dan mulai menarik perhatianku aku ingin sekali melihat apa sih yang ia kerjakan. kumulai menyentuh bagian qursor hmmm ternyata kerjaan kantor.
Kulihat beberapa e-mail masuk kulihat notifikasi bernama arinidamayanti@.gmail.com
Kudengar langkah kaki dan aku membenarkan posisiku untung saja sudah ku kembalikan sejak tadi lebih baik tak tahu saja ya Allah ya tuhanku kenapa aku sesenitif Ini sih dari awal kan emang aku yang menjadi orang ketiga bagi mereka.
"Ini makan, kamu butuh vitamin yang banyak." Mas memberikan sepiring potongan buah reflek aku menerimanya entahlah sarapku kurang konsentrasi.
"Nanti sore kita kedokter aku khawatir maag kamu sakit." ujarnya.
Perhatian juga ternyata tapi aku tak ingin pergi hatiku sedang galau aku sedang tak ingin berdekatan dengannya. aku pergi ke balkon membawa sepiring buah potong.
"Aku gak sakit." Teriaku sambil berjalan.
"Gak sakit tapi nangis berjam-jam, pake acara nyalain keran." Issshh kenapa sih dia selalu tau dasar sepupu gak ada ahlak. ehh suami inget Neng dia sekarang suami kamu loh hihihi. Aku melanjutkan mengunyah buah yang terasa lezat.
"Aku ada urusan sebentar kamu jangan pergi lagi tanpa ijinku." Lalu mas melangkah menuju lemari pakaian dan menggantinya.
Aku hanya diam, menatapnya dari balkon lalu berjalan menuju ranjang siapa bilang nggak ijin aku udah bilang sama bunda batinku.
Tidak sampai lima belas menit buah potong sudah habis aku berniat untuk menyimpan piring kotor itu, pas sekali ada sesuatu yang jatuh dalam lemari saat mas Ibra ingin menutup pintunya.
Segera ku ambil, Kutatap wajah mas Ibra biasa aja tapi bagiku aku merasakan kesakitan di dalam dada ini. lalu ku serahkan figuran yang sudah aku lihat, disana ada bergambar seorang perempuan yang sedang ia peluk dan cium pipi mesra sekali mereka.
Aku melangkah dengan rasa kecewa sesak dadaku masih terasa, mas Ibra menatapku dingin, aku memilih turun kebawah.
"Nak bunda sangat khawatir kamu baik baik aja kan? kenapa menangis ada masalah sama mas mu?" Tanya bundabterlihat khawatir. Aku menggelengkan kepalaku dan memeluknya.
"Aku hanya kangen Mama sama Kakek aja Bun." Ucapku memang benar adanya.
"Kenapa Neng Inge gak main kerumah mereka ajak mas mu deh sana." Titah Bunda menyusut air mataku.
__ADS_1
"Iya bun, mas Ibra masih sibuk jadi belum bisa anter." Kataku bohong.
"Sudah jangan menangis yah, Bunda jadi sedih liatnya apa mereka kita undang makan malam saja yah?" İde bunda sangat Bagus s aku juga setuju tapi akhir-akhir ini Mama pasti lagu banjir orderan cateringnya.
"Mereka pasti sibuk bun biar Inge aja nanti yang kesana sama mas." Sebetulnya aku menangis karena anakmu Bun, mas Ibra tak sebaik yang aku pikirkan.
"Bun, akan mau keluar duku cari angin." Kataku beranjak ke taman belakang rumah Bunda. Bunda mengangguk dan berkata jangan terlalu lama angin sore tidak baik katanya. Karena aku sesnag kesal sama suamiku aku jadi malas kembaki ke kamar biarkan saja sampai dia pergi baru aku akan kembali. Kusap sisa air mata ini aku tak melamun dan linglung.
"Maaf! " Ucapnya parau aku hanya diam tak menggubrisnya terlalu sakit hati. Sedari awal juga kamu gak niatkan nikahin aku semuanya karena terpaksa dan bodohnya aku, aku terpikat dengan ketampanan mu sungguh.
"Neng... mas minta maaf atas figuran itu aku sudah membuangnya. Aku juga gak tau poto itu kenapa masih ada dilemari. sungguh aku gak tau."
Alesan apapun aku gak akan percaya buktinya kamu masih chating di e-mail karna nomor mbak rinrin sudah aku blok di WA kamu mas. Mas Ibra mengacak-ngacak rambutku, aku gak ingin terpesona dengan rayuan pahitmu mas.
"Neng... gak mau nih maafin mas mu yang ganteng ini yang super baik ini? " Katanya alai sekali pria didepanku.
Prrreeett apaan baik suka nyakitin hati Inge kamu sama aja sepeti mantan suka nyakitin pas lagi sayang-sayangnya.
"Aku udah buang kok potonya suer... jangan marah lagi dong. udah aku sobek-sobek sampai halus." Tuturnya lagi karena melihatku tak respon. Emang Inge pikirin bodo amat Inge gak perduli pokoknya mas udah nyakitin hatiku.
"Dek atuh jangan diem aja, mas ngajak. kamu ngomong loh bukan ngajak berantem." Ucapnya prustasi.
Tadi aja susah bener ditaklukan ampe Inge gak ngerti kesalahan Inge di mana batinku lagi.
"Maaf yah." Mas Ibra memelukku dari belakang aku hanya diam menikmati karena dari semalam aku sangat merindukan suamiku ini tapi di sisi lain aku berontak karena sakit hatiku ini.
"Gak usah peluk peluk. " ketusku pada sepupuku ini.
"Pergi aja sana kamu kencan lagi sama mantan kamu itu, aku udah gak perduli terserah mas aja mau bagaimana pernikahan ini aku gak perduli." Aku berjalan kembali menuju lantai atas.
"Kamu jangan pura pura gak ingat dek sesungguhnya kamu sudah bersuami dan harus tau wanita bersuami tak akan pergi bertemu laki laki tanpa seijin suaminya."
"Heii..." Langkahku terhenti, apa maksud nya apa pertemuan ku tadi pagi dengan Dimas Astagfirullah itu pertemuan gak sengaja lagian aku gak ada urusan lagi sama laki-laki brengsek itu.
"Kamu boleh percaya atau tidak itu urusanmu." Aku tak kalah ketus dengan ucapannya hatiku terlanjur sakit hari ini. Aku tetap melangkahkan kaki tanpa perduli dengan orang yang melihatku di rumah ini.
"Neng... tunggu," Mas Ibra menarik lenganku dengan erat sakit yang kurasakan kedalam sendi.
"Lepas, sakit mas lepaskan." Aku mengeluh karena benar-benar kesakitan.
"Aku gak akan lepaskan sebelum kamu jujur padaku." Mas ibra menarik lenganku lebih keras. Mas Ibra menarik lenganku sampai kamar dan mendorong tubuhku ke ranjang.
"Apa apaan sih mas jangan kasar dong." kini air mataku sudah tak ingin keluar, emosiku semakin memuncak kamu bertengkar hebat sore ini karena hari sudah mulai petang.
"Jawab dengan jujur apa hubunganmu dengan Dimas di belakangku, kau bilang sidah tidak mencintainya tapi kamu masih betemu dibelakang ku." Ucapnya emosi.
"Aku gak ada hubungan apa-apadengannya mas,"
"Bohong buktinya tadi pagi."
"Astagfirullah itu hanya kebetulan bertemu, lagian kenapa mas menguntitku aku hanya mengantar pesanan aja."
"Jangan bohong Inge." bentaknya lagi kulihat rahangnya mengeras.
"Mas apa kau sedang cemburu? atau hanya membunyikan kebohongan mu saja dariku?" Tegasku tak mau kalah.
Mas Ibra membisu.
"Aku tahu mas, kamu diam diam juga sering kan berbalas pesan dengan Rini mas apa kau tak merasa bersalah padaku? ya disini karena aku yang salah dimatamu aku salah bahkan aku gak tahu letak kesalahan ku padamu mas."
"Aku gak ngerti dengan sikap burukmu, aku baru mengerti sikap baikmu terhadapku karena kau sedang menutupi kesalahanmu. "
"Aku cape mas, aku lelah aku pusing aku mual, aku aku sakit hati mas." ahkirnya ku tumpahkan kekesalan ku padanya dari sejak malam.
__ADS_1
"Aku sedih... aku mau pulang. hiks..."
"Maaf... setelah urusan ku selesai aku antar pulang tolong maafkan mas mu ini." Mas Ibra mengusap pucuk kepalaku dan berlalu.